Hilang Secara Misteri

Hilang Secara Misteri
Terbunuhnya Papa


__ADS_3

Sekarang pak Presdir sudah selesai dengan cerita panjangnya, namun aku bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa,mas Raka,kakek Razak, atau tetap pak Presdir saja.


Pak Presdir yang mengetahui isi pikiranku, meminta diriku memanggilnya dengan panggilan kakek Razak


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada Papa, kenapa kakek tega membunuh anak kandung kakek sendiri...??" tanyaku padanya


"Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut mu itu, cucuku" ucapnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun


"Rumi juga ingin mengetahuinya,kek, bisakah kakek ceritakan" ucapku dengan tenang


"Itu semua karena...anak ku sudah tahu siapa sebenarnya orang yang menuntun ku", ucap kakek Razak


"Apa..." mataku terbelalak dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh kakek Razak


"Orang itu sendiri masih ingin rahasianya tidak terbongkar,dan aku harus memenuhinya,jika tidak aku yang jadi darahnya" ucapnya kakek lagi


"Jadi hanya karena lebih memilih orang itu kakek dengan tega membunuh Papa, tapi...Rumi sadar, kakek saja tega kepada istri dan adiknya Papa, bagaimana mungkin tidak dengan Papa juga, namun alangkah lebih baiknya lagi jika kakek lah yang lenyap" ucapku yang tiba-tiba memiliki keberanian mengatakan hal itu dengan cukup panjang lebar

__ADS_1


"Bagaimana jika kau saja yang lenyap detik ini" ucap kakek bersemangat


"Aku siap" ucapku pasrah seolah hari ini adalah hari kematianku


"Tapi...sebaiknya aku ceritakan dulu tentang Papa mu" ucap kakek yang mulai bercerita


Flashback on


Awalnya mula kematian Papa adalah saat ketika Papa masuk kedalam rumah dan melihat kakek dalam wujud pak Presdir berada diruang tamu sedang memegang jam tua tersebut, papa yang kaget mengira kakek adalah seorang maling,yang tanpa bertanya langsung saja memukulinya.


Tanpa sempat Papa bertanya kakek memberitahu siapa dirinya,dan setelah selesai dengan ceritanya, tiba-tiba saja orang yang menuntunnya menelepon kakek, dan tanpa disengaja oleh kakek, kakek menyebutkan namanya,papa yang mendengar nama tersebut dipanggil sangat luar biasa kagetnya, ribuan pertanyaan mengitari pikiran Papa, kakek yang tau isi hatinya kemudian berkata jujur siapa sebenarnya orang yang menuntunnya.


Papa yang sudah mengetahui pasti akan menyebabkan ancaman bagi mereka, lalu kakek dengan tergesa-gesa menusuk perut Papa, kemudian pergi begitu saja meninggalkan rumah ku.


Flashback off


"Kakek apakah Arumi boleh bertanya lagi..? ucapku kemudian

__ADS_1


"Silahkan tanyakan saja, apa yang ingin kamu ketahui lagi, cucuku"


"Dimalam pertama Papa meninggal,arumi didatangi lewat mimpi, papa mengatakan kalau gerhana bulan itu tinggal sepuluh hari lagi, tapi ini sudah hari keempat puluh Papa meninggal, kenapa gerhana itu tidak ada" ucapku panjang lebar


"Jadi dia belum sempat menjelaskannya kepadamu maksud dari ucapannya,itu"


"Maksud,kakek"


"Terkadang ada kalimat yang hanya diucapkan satu kata tapi memiliki banyak makna, misalnya kata 'CINTA', kata itu punya banyak arti, bukankah begitu"


"Iya...kek"


"Jadi begitu pula halnya dengan ucapan anak ku, sepuluh hari yang anak ku maksud adalah waktu yang kamu miliki selama didalam hutan pada saat kamu mengembalikan batu ini, dihitung mundur sebelum gerhana bulan muncul" ucap kakek Razak


"Jika dalam waktu sepuluh hari Arumi tidak keluar dari hutan, apa yang akan terjadi pada saat gerhana bulan muncul" ucapku pula


"Maka kamu akan menjadi miliknya (orang yang menuntun kakek)" ucap kakek membuat ku takut

__ADS_1


__ADS_2