
Sudah dua hari Aku, febri, dan mas Mirza menyusuri hutan larangan mengikuti aliran sungai, namun kami bertiga masih belum bisa menemukan tanda-tanda keberadaan dari pohon yang dimaksud oleh kakek Razak dalam bukunya.
Menurut tulisan dibuku kami harus menemukan pohon yang berada ditepi sungai, karena itulah kami bertiga telah sepakat untuk mengikuti aliran sungai saja, selain itu jika kami mengikuti aliran sungai, maka kami bisa memanfaatkan air sungai apabila kekurangan air dan jika kami tersesat nantinya, maka kami tinggal memutar arah mengikuti aliran sungai yang telah kami lewati sebelumnya.
Kami bertiga semakin masuk ke dalam hutan larangan, menyusuri setapak demi setapak pinggiran sungai hutan larangan yang berada dibagian timur desa ku (desa XX), untuk pertama kalinya hutan ini dimasuki lagi sejak ditetapkan sebagai kawasan hutan larangan beberapa tahun lalu,dilarang keras untuk memasukinya, karena para penduduk desa percaya bahwa siapapun yang masuk tidak akan pernah bisa kembali lagi, tapi batu itulah yang mengharuskan kami bertiga melakukan semua ini dan juga untuk dapat membebaskan diriku dari perjanjian.
Tentunya untuk mendapatkan batu yang sekarang tengah berada didalam tas ku saat ini tidaklah mudah, lima hari sebelum kami melakukan perjalanan,
aku dengan susah payah mendapatkan batunya dari tangan kakek Razak yang ku temui sendirian saja waktu itu.
__ADS_1
Flashback on
Waktu itu bersamaan dengan berakhirnya kisah Riana dan Maya,
pak Presdir bangkit dari tempat duduknya, mendekati diriku disofa yang berhadapan langsung denganya, mata pak Presdir terlihat seperti seseorang yang telah siap menerkam mangsanya,
dirinya datang kearah sofa tempatku duduk, aku pun mencoba bangkit berniat menjauh, tapi belum sempat aku melakukan hal tersebut,aku kaget ketika pak Presdir telah menahan diriku yang bermaksud untuk berdiri
Aku tertahan dalam dekapannya,dan pak Presdir lagi-lagi berusaha ingin melakukan sesuatu kepada diriku untuk kesekian kalinya,aku yang sadar bahwa dirinya bukanlah pak Presdir melainkan kakek ku sendiri berusaha mencari celah untuk lepas dari cengkeramannya,
__ADS_1
setelah terjadi perlawanan yang heroik dari pemaksaan tersebut, tiba-tiba saja handphone milik pak Presdir berbunyi, pak Presdir pun melihat siapa orang yang meneleponnya serta mengganggu aktivitasnya saat ini,aku yang mendapatkan celah untuk melepaskan diri dari pak Presdir, tanpa pikir panjang lagi langsung menendang milik pribadinya saat dirinya sibuk dengan handphone-nya,membuat dirinya kesakitan dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur setelah sebelumnya mengambil batu yang diletakkan olehnya tadi diatas meja.
Skip.
Aku yang berhasil kabur dari rumah pak Presdir dengan membawa batu keramat pembawa Malapetaka itu kemudian kembali ke rumah bude Marni disambut dengan rasa khawatir dari mereka semua, berbagai pertanyaan mereka berikan dan aku pun menjawab dengan menjelaskan segalanya.
Flashback off
Kakek memang tidak memberitahu kapan hari terjadinya gerhana bulan merah ditahun ini,tapi ulang tahun adik ku Andini tinggal dua Minggu lagi, kami semua berpikir kalau gerhana bulan merah itu pasti akan muncul bersamaan dengan hari ulang tahunnya yang akan datang,maka dari itulah kami semua memutuskan untuk segera mengembalikan batu ini secepat mungkin mengingat waktu kami bertiga untuk keluar dari hutan juga cukup singkat.
__ADS_1
Hari semakin beranjak sore, sebentar lagi malam tiba, kami bertiga memutuskan beristirahat, melanjutkan perjalanan besok pagi dan melewati hari ketiga didalam hutan ini, berharap jika dihari ketiga kami berhasil menemukan pohon itu.
***To be continued***