Hilang Secara Misteri

Hilang Secara Misteri
Luka Akan Kenyataan


__ADS_3

Setelah cukup lama berjalan mencari keberadaan Febri, akhirnya aku menemukan dirinya yang sedang berada didepan rumah sakit, aku berjalan menuju ke arahnya yang kini terlihat sedang menuju masuk kedalam rumah sakit juga,aku pun memanggil Febri agar dia dapat melihat diriku.


"Febri kamu sedang apa" ucapku ketika kami sudah saling bertemu


"Saya barusan mengambil handphone saya yang ketinggalan didalam mobil, apakah kamu mencari saya...??" ucapnya bertanya kepadaku


"Iya.." jawabku


"Apakah nona cantik ini, secepat itu merindukan diriku yang baru beberapa menit saja meninggalkannya", ucapnya menggodaku


"Hmmmm...bukan begitu,feb_ri" ucapku sedikit memanyunkan bibir


"Masih saja tidak mau mengakuinya", ucapnya lagi


"Ya sudah...iya kan sajalah" aku mendengus,dan Febri tersenyum menang karena berhasil membuatku secara tidak langsung mengatakan bahwa aku merindukannya,sambil terus berjalan masuk


"Maaf ya, jika aku menggoda mu,aku hanya bermaksud menghibur kamu, yang sedang sedih hari ini"

__ADS_1


tiba-tiba Febri meminta maaf kepadaku yang membuat langkah kakiku terhenti


"Iya..saya sudah memaafkan kamu... terima kasih sudah berinisiatif untuk menghiburku, sekarang ayo kita kembali ke ruangan Papa,papa sekarang sudah dibawa keruang pemulihan"


aku berkata sembari melihat kearahnya, terlihat wajah Febri sedikit gelisah mendengar ucapanku


"Apakah beliau sudah sadar"


"Masih belum" ucapku kemudian


ada apa sebenarnya,namun tidak ku dapatkan jawaban dari mereka bertiga,terakhir ku tanyakan hal yang sama kepada bude Marni


"Apakah yang terjadi bude....??" tanyaku


"Kamu yang sabar dan kuat, ya, sayang" ucap bude yang membuat diriku bingung


"Sebaiknya kamu masuk dan melihat sendiri, sayang" ucap Mama masih dalam keadaan menangis menyuruhku masuk ke ruangan Papa

__ADS_1


Sebelum melangkah masuk aku memandang mereka satu persatu, mama, andini,bude Marni, dan juga mas Mirza, semuanya terlihat gelisah dan terus saja menangis.


Ku langkahkan kakiku, dengan perlahan kubuka pintu ruangan VVIP itu, terlihat disana ada dua orang suster yang sedang melepaskan semua alat-alat kehidupan ditubuh Papa dan merapikannya, lalu mereka mulai menyelimuti Papa dengan kain putih, mulai dari telapak kakinya lalu setengah tubuhnya dan terakhir kepalanya.


"Apa...tidak... itu kepala... mengapa harus ikut ditutupi", (Batinku)


"Apa yang kalian lakukan, mengapa semua peralatannya dilepaskan,dan kenapa tubuh Papa saya kalian tutupi, kalau beliau tidak bisa bernafas bagaimana" ucapku terlihat kesal kepada kedua suster itu sembari membuka kain penutup tubuh Papa dengan sedikit kasar


Terasa ada sesuatu yang membuat tubuhku bergetar setelah kain penutup itu terbuka,terlihat seluruh tubuh Papa yang kaku dan berwajah pucat,aku kemudian berteriak emosi kepada kedua suster itu


"Kalian lihat,ini semua salah kalian, lihat Papa saya jadi pucat seperti ini" ucapku sedikit berteriak yang terdengar hingga keluar dan mengejutkan semua orang


"Arumi, kenapa berteriak seperti itu,nak" ucap bude Marni yang masuk di ikuti oleh semua orang dan langsung memeluk tubuhku


"Mereka berdua bude, mereka melepaskan semua alat-alat yang ada ditubuh Papa serta menutupinya dengan kain putih,sehingga Papa pucat seperti itu" ucapku pada bude Marni dan semua orang yang ada disana


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2