Hilang Secara Misteri

Hilang Secara Misteri
Papa Kecelakaan


__ADS_3

Seperti yang sudah di bicarakan sebelumnya, pagi ini Papa pamit kembali kerumah untuk mengambil jam dinding tua dari rumahku agar kami semua bisa mengetahui lebih dalam lagi titik awal dari semuanya,


meskipun sebagian sudah diketahui,tapi kami masih harus mencari keberadaan batu yang diambil oleh kakek Razak dari gua ditengah hutan larangan, berharap dengan di dapatkannya batu itu maka semua ini akan segera berakhir.


Dan memang telah menjadi kesepakatan kami semua tadi malam saat sedang berkumpul diruang keluarga setelah selesai makan malam,


bahwa Papalah yang pergi sendiri untuk mengambil jam tersebut.


Saat ini aku tengah melamun diteras rumah, entah mengapa aku merasa semakin semua kebenaran terungkap maka semakin sulit pula tantangannya,


hal-hal rumit dan tidak masuk akal malah bermunculan, membuat kami harus sesegera mungkin mengungkap cerita ini agar semua orang bisa mengerti dan aku juga mungkin bisa membatalkan perjanjian yang sudah terlanjur dibuat oleh Papa dengan roh jahat yang dikatakan kakek didalam bukunya bahwa sebenarnya itu adalah manusia.


"Hai... ngelamun aja" tiba-tiba Febri datang mengagetkan diriku


"Saya bukannya melamun tapi hanya bingung saja memikirkan semua masalah ini" ucapku sedih


"Tadi melamun, sekarang malah jadi sedih,jangan sedih,saya yakin semua kerumitan ini akan segera usai" ucapnya berusaha membuatku tenang


"Feb, jujur rasanya saya masih belum bisa menerima ini semua, sebagai sebuah kenyataan hidup yang harus saya lewati" ucapku


"Kenapa begitu..??" tanya Febri


"Sebab segalanya justru semakin rumit meskipun sudah mendapatkan sedikit titik terang"

__ADS_1


"Kamu harus sabar"


"Apakah saya memang sudah ditakdirkan akan menemani orang yang dimaksud oleh Kakek ku itu,feb" ucapku sedih


Belum sempat Febri menjawab pernyataan ku itu,bude Marni berteriak meminta pertolongan,aku dan Febri langsung masuk ke dalam rumah untuk mengetahui apa yang telah terjadi sampai membuat bude Marni berteriak seketika mataku langsung tertuju pada seseorang yang berada didekat bude Marni, sedang tergeletak tidak sadarkan diri.


"Mama..." teriak ku panik


"Apa yang terjadi bude" ucap Febri sembari membantuku membawa Mama ke kamarnya


"Anu...anu...itu...rum, aduh...anu Papa kamu" ucap bude Marni ragu-ragu


untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi


ucapku pula saat terlihat raut wajah cemas bude Marni terbentuk diwajahnya


"Papa kamu kecelakaan Arumi" jawab bude Marni ketika Mama sudah diletakkan diatas ranjangnya


"Astaga" ucap Febri


Seketika aku langsung lemas, serasa semua pondasi tulang dalam tubuhku retak tidak mampu berdiri,aku duduk disamping Mama yang masih pingsan,


aku tahu Mama pasti sangat kaget mendengar hal ini.

__ADS_1


Flashback on


Author POV


Beberapa Saat Yang Lalu...


Mamanya Arumi terlihat sedang menelepon seseorang diruang tengah sementara bude Marni yang sedang memasak makan siang hanya


memperhatikannya dari dapur yang dapat terlihat langsung dari sana,


terlihat Mama Arumi menangis disana dan akhirnya limbung, bude Marni mematikan kompor dan segera mendekatinya yang ternyata sudah pingsan, bude pun langsung saja mengambil handphone milik Mama yang ternyata masih tersambung,


bude kemudian bertanya kepada si penelepon itu tentang apa yang terjadi, ternyata telepon tersebut adalah tetangganya Arumi yaitu ibu Nina yang menemukan Papa tertikam sebuah pisau tepat dibagian perutnya.


Flashback off


Saat ini Mama Arumi sudah sadar dan mereka semua berencana untuk menyusul Papa dengan Febri yang akan menyetir mobilnya.


Dalam perjalanan Mama dan bude terus saja menangis, sementara diriku hanya diam membisu memeluk Mama dengan


erat.


***To be continued***

__ADS_1


__ADS_2