
Setelah mendengar penjelasan mas Mirza, mama pun langsung menjawab pertanyaannya yang tadi
"Papa Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya" ucap Mama kepadanya
"Alhamdulillah,kalau begitu apakah sudah bisa diajak bicara...??" tanya mas Mirza kepada Mama
"Belum bisa...nak, mirza,papa masih tertidur karena efek obat,tapi mungkin sebentar lagi siuman" ucap Mama pula
"Sebaiknya kita semua lebih baik keluar dulu, biarkan suami mu untuk beristirahat" ucap bude Marni
Kami semua pun keluar dari ruangan Papa yang beberapa saat lalu telah dipindahkan dari ruang ICU keruang rawat, bersamaan dengan panjangnya cerita mas Mirza.
Kini kami sudah mengetahui siapa sebenarnya mas Mirza dan yang sekarang menjadi pertanyaan,mengapa Papa bisa ditemukan dalam keadaan tertusuk pisau dibagian perutnya yang ditemukan oleh tante Nina didalam rumah kami.
Pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh Papa sendiri, meskipun tadi tante Nina juga telah bercerita sedikit pada bude Marni ketika aku dan Mama masuk kedalam ruang ICU untuk melihat Papa sebelum kedatangan Andini dan mas Mirza.
__ADS_1
Setelah berada diluar kami semua meminta bude untuk bercerita tentang apa yang diceritakan oleh tante Nina
yang baru beberapa menit lalu berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
Bude Marni mengatakan saat itu tante Nina tanpa sengaja mendengar suara orang yang sedang berteriak meminta tolong dengan sangat kencang dari dalam rumahku, awalnya tante Nina takut juga mendengar suara teriakan itu, karena dirinya tahu kalau kami sekeluarga sedang tidak berada dirumah,tapi tante Nina yang penasaran tetap datang ke rumahku, pada saat tante Nina masih membuka gerbang rumahnya untuk berjalan ke rumahku, dirinya tanpa sengaja melihat seseorang keluar dari rumah kami, yang membuat tante Nina sedikit menaruh curiga, kepergian orang itu pun dimanfaatkan oleh tante Nina untuk segera melihat keadaan didalam rumahku,dan ketika tante Nina masuk kedalam rumah dirinya sangat terkejut melihat Papa mulai tidak sadarkan diri dengan tubuh yang penuh dengan lumuran darah.
Sesegera mungkin tante Nina menelepon ambulance untuk menolong nyawa Papa,dan dirinya juga beruntung karena saat itu pintu rumahku dibiarkan begitu saja oleh orang yang mencurigakan tersebut,sementara bude masih bercerita, aku tidak melihat Febri sejak tadi, entah kemana dia,aku pun pamit kepada semua orang berniat untuk mencarinya dengan dalih pergi ke toilet.
Skip.
Dibawah Pohon Didepan Rumah Sakit....
"Tapi aku sudah melukainya,bukan" ucap orang yang dimarahi itu membela dirinya
"Iya tapi sekarang dirinya malah membaik, kau memang tidak becus....sekarang mana punyaku", ucap orang itu masih dalam keadaan tersulut emosi
__ADS_1
"Apakah benar yang ini" tanya orang yang dimarahi
"Hahahaha.... meskipun kau tidak becus tapi kau bisa mendapatkannya,sekarang pastikan dia diam, jika tidak maka kau sebagai gantinya, kau paham" ucap orang itu sambil tertawa menyeringai membuat orang yang dimarahi sedikit ciut
"Baiklah"
"Sekarang cepat pergi, karena ada yang sedang menuju kemari" ucap orang yang tadinya marah-marah
"Tidak ada siapapun disini" ucap orang yang tadinya dimarahi
"Kau tahu siapa aku,kan,jadi pergilah segera"
"Iya,aku paham,hemm....aku tadi hanya lupa kalau telingamu bisa mendengar dari jarak jauh"
"Cepat pergi..." perintah orang itu berteriak,mulai ingin marah lagi
__ADS_1
Orang yang dimarahi lantas pergi secepatnya meninggalkan tempat itu,mereka berdua pun berpisah,tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat semuanya dari lantai tiga rumah sakit.
***To be continued***