I Love U Honey

I Love U Honey
Wajah Cemberut Bellova


__ADS_3

Hari Sabtu pun sudah datang lagi. Bellova sedang sibuk didapur, menyiapkan sarapan untuk mereka.


“Ya, aku sudah mau jalan, habis sarapan aku kesana.” Abraham menuruni anak tangga sambil berbicara ditelepon.


Mendengar suara suaminya, Bellova berjalan sampai kepintu, melihat suaminya. Wajahnya tiba-tiba jadi murung saat melihat penampilan Abraham yang sudah rapi.


“Apa kalian tahu hubungan kantor berita itu dengan papa?” tanya Abraham yang sudah duduk di kursi meja makan.


“Kami sudah menyelidikinya, mereka tidak ada hubungan dengan Lucifer, tapi mereka memiliki jejak-jejak dari Lucifer.” Ucap Adley dari seberang.


“Maksudnya, berita yang mereka buat itu bukan karena ancaman dari pihak kita kan?”


“Bukan pak Abraham. Mereka membuat berita itu, karena mereka tahu kalau papa Lucifer bukan penjahat asli seperti yang dirumorkan.”


Tatapan Abraham mengarah pada Bellova yang baru keluar dari dapur, dengan kedua tangan membawa makanan.


‘Kenapa wajahnya murung begitu?’ batin Abraham.


“Baiklah, berarti itu tidak masalah kan? Aku sih senang kalau masih ada orang yang memihak papa tanpa paksaan atau diancam.”


“Iya Pak, tapi tetap saja diluar sana masih banyak yang tidak percaya dengan berita yang mereka keluarkan.”


“Ah, tentu saja. Orang yang tidak suka, selamanya tidak akan suka kecuali dia sendiri yang merasakannya.”


Bellova kedapur lagi mengambil sisanya.


“Kalau begitu, aku akan menutup teleponnya, oh ya, tolong hubungi Denis untuk datang,”


“Ke kantor Pak?”


“Tentu saja, memangnya mau dimana?”


“Iya, baik Pak. Anda sekarang pasti ingin sarapan, jadi saya tutup dulu.”


Padahal, Abraham yang menutupnya langsung sebelum Adley melakukannya.


Sekarang, Bellova sudah duduk ditempatnya. Piring kosong untuk Abraham diambil untuk diisi. Karena sudah tahu seberapa banyak porsi Abraham, Bellova tidak menanyakannya. Masih diam, piring untuk Abraham diberikannya.


Abraham menerima piringnya, “Love, kamu kenapa?”


“Mm? kenapa?” tanya balik, suaranya pelan tanpa melihat Abraham.


“Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?”


“Di tekuk? Bagaimana wajah ditekuk?” masih tidak mengerti, dia menyentuh wajahnya yang masih lengkap


dan baik-baik saja.


Tidak mau membuat isterinya malu, Abraham menoleh kekiri dulu agar tidak keceplosan tertawa.


“Ekhem, dari tadi kau cemberut terus, apa ada masalah? Atau ada sesuatu yang ingin kau katakan


padaku?”


Yang awalnya Bellova mengangkat wajah melihat Abraham, seperti ingin bicara, namun diabaikan dan


menundukkan wajahnya lagi, fokus pada makanannya.


“Tidak, tidak apa-apa-


“Tidak apa-apa tapi ekspresi wajahmu menunjukkan arti yang lain.”


“Coba katakan, ada apa? Mungkin aku lupa sesuatu?”

__ADS_1


Bellova mengangkat wajahnya untuk melihat Abraham yang masih menatapnya menunggu jawaban.


Makanannya belum disentuh sedikitpun.


“Itu… itu karena..”


“Ya? Karena apa?”


“Karena Bram tidak menepati janjinya.”


“Hah? Janji? Janji apa?” dia mengernyitkan keningnya, benar-benar tidak ingat dengan janji yang diberikan.


Bellova tidak bersemangat untuk mengatakannya.


“Aduh Love, tolong jangan buat aku penasaran. Aku rasa kau sudah cukup tahu bagaimana sifatku yang tidak sabaran dan penasaran.”


“Itu, itu karena Bram berjanji padaku untuk jalan keluar bersama Arshinta dan kak Ina.”


Suaminya berusaha mengingat-ingat.


“Oh ya? Aku mengatakan itu?”


Karena Abraham tidak mengingatnya, semakin murung wajah isterinya.


“Sepertinya aku lupa, maaf ya.”


“Tidak apa-apa. Bram punya banyak pekerjaan, aku tidak akan merengek meminta Bram menepati janjinya.”


‘Tapi dari wajahmu, kau ingin aku menepatinya.’


“Iya, kau tahu keadaan kita sekarang. Aku ingin segera menyelesaikan kasus papa. Arshinta dan kak Ina juga begitu, mereka juga sangat sibuk.”


Bellova mengerti, “Maafkan aku.”


“Maafkan aku karena aku egois.”


“Tidak, aku yang salah karena… karena aku yang berbohong padamu. Orang yang melanggar janji, adalah


orang yang lebih dulu salah. Kau tidak salah, dan kau wajar kecewa karena menunggu. Its oke, jadi jangan minta maaf, atau aku yang akan terus meminta maaf padamu,”


Abraham memberi waktu pada Bellova untuk memahami ucapannya.


“Aku mengerti. Bram tidak usah merasa bersalah lagi, aku benar-benar mengerti kok,” ucap Bellova tersenyum. Bukan tersenyum terpaksa.


***


“Wah, lihat, itu Pak Jendral Polisi, Pak Irwan!”


“Cepat, kita harus mengambil fotonya,”


Para wartawan melihat kedatangan Jendral Polisi. Mereka berlomba-lomba untuk meliput kejadian. Walau ada pengawal disekitar Irwan, tetap saja kelabakan mengatasinya.


“Pak Adley, Pak Jendral datang,” Ridwan memberitahukan pada Adley.


“Apa?”


“Selamat pagi Pak Jendral,” sapa anggota kepolisian yang melihatnya pertama kali. Adley dan rekannya yang lain pun berjalan untuk menyapa memberi hormat pada atasan mereka.


“Selamat pagi Pak!” ucap Adley dan Ridwan bersamaan, mengangkat tangan disamping kepala memberi hormat.


Irwan membalas dengan anggukan kepala, tapi arah tatapannya mencari dua orang, Abraham dan Lucifer.


“Dimana Komisaris Abraham?”

__ADS_1


“Pak Abraham masih dalam perjalanan kesini.”


“Apa? Jam segini tapi masih belum ada di sini? Santai sekali ya.”


Adley mengepalkan tangannya, bersabar.


“Dimana orang itu? Si Bos mafia itu?”


‘Dia menantang Lucifer?’


“Dia ada di sana,” tunjuk Adley.


Irwan melihat arah tangan Adley, dan berjalan mendekati sel yang dimana Lucifer sudah mengamatinya dari jauh.


Tap!


Baru dua langkah, kakinya sudah berhenti.


‘Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak?’


Belum dekat, aura kejam dan tajam dari Lucifer sudah mulai dirasakannya.


“Selamat pagi Pak Abraham,” tidak lama kemudian, Abraham pun tiba.


Irwan menoleh melihat Abraham, ternyata dia merasakan hal yang sama pada Abraham, sama seperti saat


berdiri dihadapan Lucifer.


‘Apa karena mereka ada hubungan darah?’


“Ekhem, Pak Komisaris, kenapa anda baru tiba di jam segini?” Irwan mengalihkan suasana.


“Sepertinya anda tidak tahu sekarang hari apa dan jam berapa,” balas Abraham meletakkan topi kerjanya diatas meja.


“Apa maksudmu?”


“Maksud saya, sekarang adalah hari Sabtu, dan jam mulai kerja adalah di jam 10 pagi, tapi saya datang di jam 9 pagi, berarti saya datang lebih cepat satu jam.”


Irwan kalah telak.


*‘Breng*k! sombong sekali. Kita lihat, sampai dimana kesombonganmu itu!’


“Aku ingin melihat penjahat yang terkenal itu, apa dia ada di sana?”


Mereka melihat kearah Lucifer.


“Ya, dia ada disana.”


“Hahaha, pasti anda merasa sedih ya?”


“Kenapa saya harus merasakannya?”


“Ya, kita semua tahu, kalau kalian adalah ayah dan anak, benar kan?”


“Iya, itu benar! Lalu?”


Irwan semakin kesal dengan jawaban dan reaksi Abraham yang terlihat santai dan menantangnya secara tidak langsung.


Adley tersenyum puas. Dia sadar, dia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti Abraham, makanya dia


hanya diam menunggu itu karena dia lebih menghargai Abraham yang menyuruhnya untuk lebih bersabar.


Irwan memberanikan dirinya untuk berjalan lebih dekat dengan Lucifer. Ibarat mendekati api yang besar, panas dan berkeringat, seperti itulah yang dirasakan Irwan. Harga dirinya akan jatuh kalau dia terlihat ketakutan. Padahal, Lucifer hanya menatapnya dalam diam, dan biasa saja, tapi Irwan merasa terancam.

__ADS_1


__ADS_2