I Love U Honey

I Love U Honey
Rencana Abraham Untuk Bellova


__ADS_3

Satmaka dan Arshinta makan malam bersama diluar, dan membawa Raka juga. Tidak ada penampilan khusus dari mereka selain hanya ingin bertemu dan melepas kangen sekalin bercerita.


“Jadi, masih ada yang ingin menyekolahkan anak-anaknya di tempatmu?” tanya Satmaka memotong daging sapi di piringnya.


“Iya. Ada banyak sekali, tapi aku suruh mereka datangnya besok saja, gak enak juga kan dengan ibu-ibu yang sudah datang lebih dulu, jadi biar sekalian saja,” ucapnya sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


“Bagus dong,”


“Iya, aku suka sih, tapi kalau tidak ada juga, aku tidak masalah.”


Raka sibuk menikmati makanan dipiringnya, yang duduk ditengah Arshinta dan Satmaka.


“Mmm, Nathan, sepertinya, kita tidak bisa mengajukan rencana pernikahan kita pada iorang tuaku. Kau tahu kan bagaimana kondisinya sekarang. Aku tidak bisa menikah disaat papaku sedang ada masalah, bahkan sekarang lagi ada dipenjara.”


“Tidak apa-apa, aku tidak masalah. Toh, mereka semua kan sudah tahu dengan hubungan kita.” Satmaka mengatakannya tanpa paksaan dan tenang. Tidak ada tanda-tanda kecewa atau menolak diwajahnya. Jawaban yang disukai Arshinta.


“Yang penting, kita tetap bersama,” digenggamnya tangan Arshinta yang berada diatas meja sambil tersenyum. Arshinta membalas genggaman tangan pria yang dia cintai.


Sementara itu didalam sel, petugas kepolisian memberikan makan malam untuk Lucifer. Sebenarnya dia takut, bukan karena melakukan kesalahan, tapi aura yang dipancarakan Lucifer.


“Aku tidak membutuhkannya!” jawaban tegas dari Lucifer. Dia menolak makanan dari niat baik petugas itu. Polisinya merasa malu, apalagi diledekin tahanan lain yang menyaksikannya.


“Apa anda takut kalau makanan ini ada racunnya? Ini sengaja saya beli dari luar, tempat langganan saya yang biasa.” Masih membujuk Lucifer untuk menerimanya.


Tidak ada jawaban dari Lucifer, malah menatapnya dengan tajam. Di tatap seperti itu, si petugas menarik makanannya kembali dan pergi meninggalkan Lucifer. Tahanan lain menahan tawa.


***


Sabtu pagi, seperti biasa Bellova sibuk didapur menyiapkan sarapan. Saat itu sudah pukul 7 pagi, dan Abraham belum menunjukkan batang hidungnya.


Ting!


“Ada yang datang? Siapa?” ditinggalkan sebentar masakannya untuk melihat siapa orang yang memencet bel rumah.


Suara bel terus berulang kali, seperti tidak sabar untuk segera dibuka.


Karena merasa curiga, Bellova mengintip dari lubang pintu. Reaksi wajahnya berubah senang setelah tahu siapa orang diluar sana.


Ceklek!


“Arshinta, kak Ina, Raka dan…” ditunjuknya pada Satmaka dan Aditya, dia tidak ingat nama mereka.


Satmaka dan Aditya memperkenalkan dirinya.


“Ayo masuk,” ajak Bellova dan menutup pintu setelah mereka masuk.


“Dimana kak Abraham? Apa masih belum bangun?” tanya Arshinta duduk disofa, mengajak Raka untuk duduk juga.


“Mungkin sedang mandi,” jawab Bellova yang tidak yakin.

__ADS_1


“Tunggu sebentar ya, aku ke dapur dulu, aku sedang memasak tadi.”


“Kakak ipar masak apa? Aku ikut,” Arshinta menyusul Bellova dari belakang, Bellova sempat menunggu untuk berjalan bersama.


“Apa Abraham sudah bangun?” Aditya bertanya pada Ina.


“Mana aku tahu, kan kita sama-sama tiba disini.”


“Coba telepon, katakan padanya kalau kita sudah datang.”


“Ini aku lagi menghubunginya,” Ina mencari nomor Abraham.


10 menit kemudian, Abraham sudah terlihat sedang menuruni anak tangga, baru habis mandi dengan pakaian casualnya.


“Wah, si Pangeran ini sudah turun rupanya,” ledek Aditya.


“Dan dia sudah rapi terlihat tampan,” tambah Satmaka berkomentar.


Abraham tidak membalas komentar mereka, dia langsung duduk di sofa, berhadapan dengan kursi panjang yang diduduki Ina, Raka dan Aditya.


“Kalian cepat sekali datangnya, bukankah jam 11?”


“Ya, kami sengaja datang kesini sekalian sarapan saja kan.”


“Isterimu kan setiap pagi pasti membuatmu sarapan, jadi kami ingin merasakan masakan isterimu.” Ujar Satmaka, Aditya mengacunginya jempol, tanda setuju.


“Arshinta mana?”


Arshinta datang dengan membawa minuman dingin dan hangat untuk dibagikan.


“Kak Abraham, kau sudah bangun?” tanyanya, meletakkan gelas minuman diatas meja, tempat untuk makan.


“Bukan cuma bangun, tapi aku sudah tampan seperti ini. Iya kan Rakha?” Rakha mengangkat jempolnya.


“Bram, kamu sudah turun?” Bellova yang sekarang bertanya sambil membawa makanan.


“Baiklah, karena semuanya sudah ada di sini, ayo kita pindah tempat disana.” Ajak Abraham mengarah pada ruang makan.


Abraham menggendong Rakha, yang lainnya mengikuti dari belakang.


Arshinta dan Bellova yang berulangkali ke dapur untuk membawa keperluan makan mereka, dan Ina menata di atas meja.


“Semuanya sudah ada kan? Silahkan dinikmati makanannya,”


“Dimana mama?” Bellova mencari Eva.


“Mama, Tante Lisna, Bibi Audrey dan orang tua lainnya ada dirumah,” jawab Ina menyendokkan nasi kepiring.


“Iya, kami sudah mengajaknya, tapi mereka menolak, mereka minta waktu sendiri, makanya kami tidak memaksanya.” Arshinta menambahkan keterangannya.

__ADS_1


Bellova mengangguk dan melihat yang lainnya. Wajahnya masih dalam kebingungan karena kedatangan mereka


yang tiba-tiba. Abraham tidak memberitahukan rencana mereka.


Rasanya dia ingin bertanya, tapi masih ragu. Menunggu keterangan dari suaminya saja.


“Wah, ternyata masakan yang dibuatkan adik ipar ini enak sekali,” puji Aditya.


“Terima kasih, Adit,”


“Tapi Kakak ipar, kenapa pakaianmu seperti ini? Kita kan harus pergi habis sarapan.”


“Kita mau kemana?” tanyanya penasaran.


Semua melihat Abraham serentak, pria yang ditatap hanya makan biasa saja tidak merasa bersalah.


“Apa yang kalian lihat, habiskan dulu sarapannya,” dengan entengnya Abraham berbicara.


***


“Kita mau keluar?”


“Iya,”


“Mau kemana?”


“Mmm, kau mau kemana saja?”


“Terserah,”


Obrolan antara Bellova dan Abraham. Setelah mereka selesai sarapan, barulah Abraham mengatakan pada Bellova, kalau kemarin sudah mengatur rencana untuk mengajaknya jalan bersama dengan saudara dan pasangannya, seperti janji Abraham minggu lalu yang belum sempat ditepati. Bellova sangat bersemangat dan antusias sekali saat mendengar kejutan dari suaminya. Dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya.


“Pertama, kita belanja dulu, terus makan siang, lalu menonton dan makan malam,” Arshinta mengatakan urutan rencana mereka.


“Belanja? Sebaiknya kalian para wanita saja yang berbelanja, kami para pria mau pjit saja.”


“Apa? Pijit? Mau pijit dimana kau?” lirikan sindir dari Ina saat Aditya mengatakan rencananya.


“Pijit badan lah, disekitar tokonya, pasti ada kan.” Aditya masih menggoda Ina yang tahu apa dalam pikirannya.


“Tidak boleh! Kau dan pria lainnya harus ikut berbelanja bersama kami!”


“Ya, supaya kalian tahu, pakaian model apa yang kami suka, dan biar kami juga bisa membelikan pakaian yang cocok untuk kalian.” Arshinta mendukung kakaknya. Bellova hanya diam tidak ikut bicara.


“Benar kan kakak ipar?” tanya Arshinta, mengajak Bellova untuk berada dipihak mereka.


“Aku tidak masalah kalau mereka mau pijit, mungkin badan mereka pegal dan lelah,” jawab Bellova dengan wajah polos dan jujurnya.


“Pft,” Aditya menahan tawa.

__ADS_1


“Aku tidak ikut pijit sih, karena hampir tiap malam isteriku selalu memijitku.” Abraham mendukung isterinya. Sekarang wajah Arshinta dan kawan-kawan menatap terkejut pada Bellova dan Abraham secara bergantian.


__ADS_2