
Mereka keluar dari butik dengan membawa belanjaan yang sudah dibayar.
“Sekali lagi saya mewakili karyawan saya meminta maaf pada Bapak dan Ibu. Membuat kalian tidak nyaman, tolong jangan jera untuk berbrlanja disini,” ucap Manajer meminta maaf dengan tulus.
Abraham diam mengabaikannya, hanya Bellova yang menjawab.
“Bram, maafkan-
“Berhenti mengatakan itu!” Abraham dan Bellova masih berdiri, tidak jauh dari saudarinya.
“Tapi, aku benar-benar-
“Love, sudah ku katakan-
“Aku benar-benar minta maaf! Aku sudah membuatmu dan ipar malu karena sikapku,” Bellova tetap melanjutkan kalimatnya. Meski Abraham melarang melanjutkan, karena dia tahu apa yang akan diucapkan Bellova.
Tidak berani mengangkat wajahnya karena malu.
“Hah, sudahlah, aku memaafkanmu walau sebenarnya kau tidak salah. Lain kali, jangan memasang wajah seperti tadi. Selama kau ada bersamaku, jangan khawatirkan hal lain, apalagi masalah uang. Apa kau pikir uangku kurang?”
Dengan kedua tangannya, memegang bahu Bellova, masih berdiri berhadapan. Arshinta dan lainnya tidak ingin mengganggu waktu suami isteri itu.
“Memang wajar karyawan tadi curiga padamu, kau seperti sangat ketakutan kalau ketahuan mencuri.”
“Hiks… hiks,” Bellova menangis, Abraham langsung mengusap air mata yang sudah turun dipipi Bellova.
“Sudahlah, sudah selesai juga kan? Anggap ini sebagai pengetahuan yang baru untukmu,” Abraham memeluk Bellova agar tidak menangis lagi. Tidak perduli dengan pandangan dan cibiran para pengunjung mall pada mereka.
“Mereka seperti Sugar Baby dan Sugar Daddy,” bisik pengunjung lain saat melewati Abraham dan Bellova.
“Woy! Mereka itu suami isteri loh! Kebiasaan main Sugar Daddy ya?” merasa tidak terima, Arshinta berdiri untuk membela kakak dan iparnya.
***
Jam 4 sore mereka sedang memilih film mana yang akan di tonton. Sambil bertanya pada pasangannya, film mana yang cocok.
“Jadi, film mana yang kau kita tonton?” tanya Aditya pada yang lainnya.
“Ekhem, Kakak ipar, jangan nonton horror ya, yang romantis aja.” Pinta Arshinta.
“Pft,” Abraham hanya bisa menahan tawa, karena dia juga tidak ingin nonton genre horror.
“Kalau begitu, biar kalian saja yang memilihnya, aku tidak tahu film-film lain.”
“Bagaimana kalau yang ini?” Ina menunjuk satu judul yang tertera didinding area bioskop.
__ADS_1
“Judulnya, ‘Kalau Cinta, Katakanlah!’. Keren banget judulnya, pasti ceritanya juga seru. Gimana dengan yang lain? Mau menonton ini saja?” Arshinta melihat pasangan dan iparnya.
Tidak ada yang menolak, hingga akhirnya mereka sepakat untuk membeli tiket menonton.
“Mulainya jam 7 malam, masih ada sekitar 3 jam lagi. Bagaimana kalau kita makan dulu?”
“Aku lapar,” Bellova memegang perut.
“Nah, isteriku sudah lapar. Aku juga sebenarnya sudah lapar, bagaimana?”
“Yuks, kita makan saja dulu.”
Mereka mencari tempat makan tidak sampai keluar dari gedung bioskop. Ada beberapa restaurant yang harus dilewati karena banyak yang tidak suka.
“Kita makan disini saja ya? sudah setengah jam kita mutar-mutar cari tempat,” Aditya sudah terlihat lelah. Kasihan melihat wajahnya, akhirnya mereka memilih restaurant itu daripada mencari tempat lain.
Pelayan restaurant pun dengan sigap datang dan membawa menu makanan. Karena restaurantnya lengkap dengan aneka menu, tidak lama mereka memesan makanan yang diinginkan.
“Baik, mohon tunggu sebentar ya,” pelayan restaurantpun pergi untuk menyiapkan pesanan mereka.
“Oh ya Kak, bagaimana dengan kasus papa kita? Kapan persidangannya?”
“Kita harus menunggu beberapa bulan lagi untuk persidangannya. Karena ini kasus berat, kita harus mempersiapkannya dengan baik.”
“Apa kalian sudah mengunjungi tempat papa yang baru?”
“Lalu bagaimana dengan sekolahmu Shin?”
“Berjalan normal kok, meski sempat ada kendala beberapa hari yang lalu, tapi sudah aman sekarang.”
“Sekolah?” tanya Bellova heran.
“Iya, aku mendirikan bangunan sekolah, mulai dari TK sampai SMU.”
“Dulu aku ingin sekali sekolah, paling tidak sampai di SLTP saja, tapi tidak bisa karena kekurangan biaya.” Dia berusaha tersenyum, menutupi rasa gugup dan malu.
“Kamu bisa nulis, baca dan menghitung?” tanya Ina yang duduk disamping Bellova.
“Yang paling aku bisa hanya menghitung, tapi hanya tambah dan kurang saja. Untuk membaca dan menulis, aku tidak terlau pintar, hanya bisa sedikit dan tulisannya juga jelek,” ucapnya malu-malu. Abraham melihat isterinya *******-***** jari tangannya, yang artinya Bellova gugup.
“Yah, paling tidak, kamu bisa kan? Kalau kau mau, kamu bisa belajar lagi.”
Bellova mengangkat kepalanya, penasaran dan tertarik, “Belajar lagi? Apa bisa?”
“Tentu saja bisa. Kakak ipar kan masih muda. Asal ada niat, pasti bisa mengapai apa yang diinginkannya.”
__ADS_1
“Begini saja, aku akan memanggilkan guru untuk mengajarimu dirumah, jadi seperti Home Schooling.” Usul Abraham.
“Tapi-
“Jangan pikirkan yang lain, pokoknya kau harus mau.” Desak Abraham. Dia tahu apa yang membuat isterinya ragu.
Bellova tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih ya, Arshinta, Abraham…” satu persatu Bellova mengucapkan nama-nama mereka tanpa ada yang ketinggalan. Abraham dan lainnya hanya mendengar dengan sabar, mereka tahu kalau Bellova minder dan tidak percaya diri.
“Aku sangat beruntung sekali bisa menjadi bagian dari kalian, benar-benar beruntung. Kalian orang yang baik dan perhatian. Selama ini, tidak ada yang memperlakukanku dan keluargaku seperti ini.” Suara rendah dan pelan dari Bellova yang menundukkan wajahnya.
“Hiks… hiks…”
“Hah, kau menangis lagi?” Abraham menerima tisu yang dikeluarkan Ina. Diusapnya kewajah Bellova, untuk mengelap airmatanya. Tidak ada yang meledek atau menyindir Bellova karena kebodohan atau ucapannya yang terkesan berlebihan.
***
“Hati-hati langkahnya,” Abraham menggenggam tangan Bellova agar tidak tersandung saat memasuki barisan kursi di dalam bioskop. Begitu juga dengan Aditya dan Satmaka pada pasangannya.
“Kita duduk dimana?” tanya Bellova mencari nomor kursi mereka.
Karena filmnya belum dimulai dan lampunya juga masih terang, kedatangan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang sudah duluan disana. Bagi perempuan, mereka melihat tiga pria tampan, dan bagi laki-laki melihat terpesona pada pasangan dari pria tampan itu.
“Ini nomor kursi kita, kamu duduk disini saja,” tunjuk Abraham. Bellova pun langsung duduk, begitu juga dengan yang lainnya.
“Rakha tidur?”
“Iya nih kak Ina, mungkin karena seharian jalan terus,” Arshinta menggendong Rakha yang lelap.
“Nyenyak banget ya,”
Film akan segera dimulai, cahaya lampu juga dipadamkan hanya ada cahaya dari layar bioskop saja.
Bellova benar-benar sangat menanti dan suka dengan suasana dalam bioskkop.
Tidak lupa mereka membeli popcorn dan minuman dingin lainnya untuk menemani tontonannya. Abraham menyadari betapa bahagianya Bellova. Setiap Bellova bahagia, itu juga bisa dirasakannya.
Karena filmnya masih baru ditayangkan diseluruh bioskop, ada banyak pengunjung yang membuat semua kursi terisi penuh.
Tak!
Bellova melihat disampingnya, seorang pria yang sudah duduk dengan temannya.
“Maaf Mba, karena gelap aku tidak bisa melihat dengan jelas,” ucap pria itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Bellova hanya membalas dengan anggukkan kecil dan tersenyum sekadarnya saja. Pria itu menginjak kaki Bellova.