I Love U Honey

I Love U Honey
Obrolan Menantu Dan Mertua


__ADS_3

“Selamat pagi Ma,” Abraham memeluk Eva, Mamanya.


Eva yang mengetahui putera dan menantunya akan datang, sudah menunggu beberapa menit diluar pintu. Sebelumnya, Eva diberitahukan Abraham tentang kedatangannya.


“Selamat pagi Puteraku,” dia memeluk Abraham juga dengan erat karena rindu.


“Hallo Menantu,” sekarang giliran Bellova yang dipeluk. Bellova yang masih sungkan, tersenyum dengan sopan pada Mama mertuanya.


“Ma, aku gak bisa lama-lama. Aku hanya mengantarkan Bellova kesini. Tidak apa-apa kan Ma?” dia melirik Bellova sambil merangkul pinggang isterinya.


“Tentu saja tidak apa-apa. Lebih senangnya lagi kalau kalian menginap disini, tapi, kalau tidak mau, Mama tidak paksakan.”


“Kalau untuk menginap, kami tidak bisa. Maaf ya Ma.”


“Ya sudah kalau begitu.”


“Nanti malam aku jemput Bella. Kamu disini saja ya, karena tadi malam kamu bilang takut sendirian, jadi aku antarkan kerumah Mama saja.” ucapnya pada isterinya, setelah berbicara pada Eva.


Bellova mengangguk dan tersenyum. Bram mengecup kening isterinya dan pergi sambil melambaikan tangan.


Dua wanita yang ada hubungan dekat dengan Abraham, masih menatapnya, dan hanya Bellova yang melambaikan tangan, sedangkan Eva, tersenyum memperhatikan menantunya.


“Sudah, sudah. Dia sudah pergi kan. Sekarang, ayo kita masuk,” ajak Eva, langsung menggenggam tangan menantunya kedalam rumah.


Abraham yang menggunakan mobil, sudah keluar gerbang.


Bellova masih canggung, hingga tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


“Kenapa berdiri saja Lov, duduklah,” Eva sudah duduk lebih dulu.


“Kamu mau minum apa Love?”


“Mmm, air dingin saja Ma,” jawabnya malu-malu.


“Es?”


Bellova mengangguk.


“Bi, tolong bawakan minuman dingin kesini ya, sekalian camilannya.” Suruh Eva, karena pelayannya ada didapur, Eva sedikit mengeraskan volume suaranya.


“Selamat pagi Tante,” sapa dua orang wanita muda, yang baru turun dari tangga.


Bellova dan Eva melihat kebelakang.


“Loh, kalian mau kemana pagi-pagi begini?” tanya Eva pada dua keponakannya, Claudia dan Alsava. Mereka berdua sudah berpakaian rapi.


“Mau keluar dulu sebentar Tante.” Alsava yang menjawabnya.

__ADS_1


“Pagi-pagi begini?”


“Tokonya sudah buka kok Tan jam segini. Kalau agak siangan, sudah ramai, malas ngantrinya.” Ujar Claudia.


“Oh, ya udah kalau begitu. Kalian hati-hati dijalan ya. Oh iya, sapa dulu dong Kakak ipar kalian,” Eva menunjuk Bellova.


“Hallo Kakak ipar,” Claudia dan Alsava menyapanya dengan lambaian tangan juga.


“Ha- hallo juga,” dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kakak ipar tadi kesini sama siapa?”


“Sama Abraham, tapi dia sudah pergi kerja.”


“Oh, begitu.”


“Claudia, ayo cepat pergi, keburu banyak orangnya loh,” panggil Alsava sambil melangkah.


“Kami pergi dulu ya Tante, Kakak ipar. Sampai jumpa lagi,” Claudia melambaikan tangannya lagi, sedangkan Alsava terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.


‘Mereka sangat cantik dan pintar. Pasti banyak pria yang tergila-gila padanya.’


“Ekhem, kamu mikirin apa Love?”


“Ti-tidak ada kok Ma.”


“Jangan bohong. Kalau ada yang mau kamu bicarakan atau mau ditanya, tanyakan saja. Anggap Mamamu ini seperti Ibumu. Dan kau, adalah menantu pertamaku.” Eva mengusap kepala Bellova, membuatnya merasa nyaman, karena dia tahu, Bellova sangat canggung dan gugup.


“Bagaimana kabar Mama?”


“Yah, seperti yang Love lihat. Sudah tua dan kesepian begini.” Eva mengangkat gelas tehnya.


“Sudah tua? Enggak kok. Mama terlihat sangat muda dan cantik.” Puji Bellova dengan jujur.


Eva sampai tertawa medengar perkataan Bellova.


“Terima kasih Sayang. Ternyata mulut kamu manis juga ya.” candanya.


Kembali Bellova diam. gelas tehnya hanya digenggam saja. Pandangannya hanya pada meja, tapi bukan itu yang sebenarnya ingin dia lihat. Seperti ada yang dia pikirkan.


“Bagaimana dengan Abraham? Apa dia menyakitimu?”


“Hah? Oh, ti-tidak kok Ma.” Mendapat pertanyaan dadakan, Bellova gelagapan, melihat Eva dengan menggelengkan kepala.


Eva tahu apa yang ada dalam pikiran menantunya, apalagi saat mengucapkan nama Abraham.


“Sebenarnya ada yang membuat Mama penasaran dan bertanya-tanya. Ini tentang hubungan pernikahan kalian. Tapi, Mama takut kamu jadi salah paham dan tersinggung. Bukannya Mama mau ikut campur hubungan kalian, tapi Mama hanya ingin berbagi pengalaman dan pengetahuan saja. Secara, kami lebih dulu menikah dari kalian, dan sampai sekarang masih awet.”

__ADS_1


Bellova menatapnya dengan serius.


“Makanya, kalau ada yang mengganjal dihatimu, katakan saja. Jangan ragu jika membicarakan tentang Abraham, meski aku adalah Mamanya, tapi anggap karena kita sama-sama wanita.” Eva berbicara dengan sangat pelan, agar Bellova mengerti.


Bellova mulai tenang dan nyaman. Mulutnya ingin terbuka, berbicara pada mertuanya.


“Se-sebenarnya… tidak jadi Ma,” Bellova yang masih ragu-ragu, menundukkan wajahnya.


‘Bodoh sekali aku. Kenapa aku tidak bisa bicara jujur dengan mertuaku. Bagaimana kalau dia nanti akan membenciku. Semua anak dan kerabatnya dari keluarga terpandang juga kaya, sementara aku… aku hanya lulusan SD.’


‘Aku tahu apa yang ada dalam pikiran wanita muda ini. Tapi, aku harus bagaimana lagi agar dia mengeluarkan uneg-unegnya?’


“Kau yakin? Tapi kenapa aku tetap tidak percaya ya? Oh, apa Mama tanya saja pada Bram? Mama akan memberinya hukuman karena sudah menyakitimu.” Eva hanya memancing Bellova saja agar mau bicara.


“Jangan Ma!” Bellova meletakkan tangannya diatas tangan Eva.


Eva tersenyum kecil, “Jadi, mau membicarakannya?”


Akhirnya Bellova menceritakan semuanya. Tentang Abraham yang membicarakan memiliki anak, dan tentang bagaimana jika salah satu dari mereka jatuh cinta pada yang bukan pasangannya. Eva melihat wajah Bellova yang serius saat membicarakannya.


‘Hm, dari caranya bicara, dia tidak ingin Bram jatuh cinta dengan perempuan lain kan?’


“Pft, ekhem, maafkan Mama Love. Bukan mau menertawakanmu.” Eva menutup mulut dengan tangannya.


Karena mertuanya tertawa, Bellova kembali gugup.


Semua sudah diceritakan Bellova, “Sekarang, apa Mama sudah bisa berkomentar?” Eva sudah tidak sabar memberikan tanggapannya. Bellova menjawab dengan anggukkan.


Eva memegang bahu Bellova, “Jika itu yang kamu takutkan, itu tidak akan terjadi!”


Bellova mengangkat wajahnya.


“Mama sangat kenal dengan anak itu. Mama tidak tahu kalau sudah berapa kali dia pacaran-


“Maaf Ma, kalau kata Bram, dia belum pernah pacaran,” Bellova mengangkat tangan, memotong kalimat mertuanya.


“Oh ya?” Eva terkejut, tidak menyangka sampai menutup mulutnya lagi.


“Iya Ma. Bram sendiri yang mengatakannya.”


“Oh gitu. Hebat sekali dia bisa bertahan seperti itu. Oke, kita lanjutkan lagi. Jadi, Mama mau mengatakan kalau Bram tidak mungkin jatuh cinta dengan wanita lain. Bahkan, tertarik saja tidak, tapi bukan berarti dia tidak normal ya, Bella tahu kan maksud Mama?”


Bellova mengangguk, “Homo ya Ma?” jawabnya polos.


“Pft, hahaha. Iya, seperti itu,” Eva sampai bingung menanggapi komentar Bellova. Wajah menantunya yang datar seperti tidak tahu apa arti dari kata ‘Homo’, padahal dia tahu, makanya dia bisa menyebutkannya dengan gampangnya.


“Kau tahu kan, kalau Abraham tidak homo, dan dia adalah laki-laki hebat?”

__ADS_1


Bola mata Bellova berputar untuk menjawab pertanyaan mertuanya.


Eva mengernyitkan keningnya, ‘Kenapa lama sekali menjawabnya, apa jangan-jangan….?’


__ADS_2