I Love U Honey

I Love U Honey
Guru Pribadi


__ADS_3

Saat sarapan.


“Love, aku sudah minta tolong dengan Arshinta untuk mencarikanmu guru pribadi.” Ucap Abraham sambil menikmati sarapannya.


“Guru pribadi? Itu seperti apa?”


“Guru yang akan mengajarimu. Kau bilang, kau ingin belajar kan? Kau bisa belajar di rumah, Home Schooling namanya.”


“Home schooling?” Bellova bingung.


“Iya, kau juga bisa memperoleh ijazah kalau kau mau.”


Bellova menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak perlu punya ijazah, yang penting aku bisa belajar.” Pintanya.


“Oh, tidak masalah. Mungkin hari ini dia akan datang. Nanti kita bisa bertemu dengannya sebentar lagi.”


“Gurunya laki-laki atau perempuan?”


“Kau maunya laki-laki atau perempuan?” Abraham malah balik bertanya pada Bellova, sambil mengangkat wajah dan melihat isterinya.


“Mm, perempuan saja,” jawab Bellova.


“Kenapa tidak laki-laki saja?”


“Tidak, aku malu kalau gurunya laki-laki. Kalau perempuan kan, aku bisa belajar dengan nyaman dan tidak malu bertanya.”


Padahal, Abraham sengaja menjebaknya dengan pertanyaan pemilihan gender itu.


“Baguslah, aku juga lebih suka kalau gurumu perempuan.”


“Kenapa? Apa nanti kamu cemburu?”


“Uhuk… uhuk.. cemburu? Siapa? Aku? Ya enggaklah Love,” karena batuk, dia mengambil air minum.


‘Apa aku cemburu?’


“Bram tidak ke kantor?”


“Mungkin nanti siang, setelah bertemu dengan Gurumu.”


“Oh.”


Satu jam kemudian, Guru yang ditunggupun datang. Abraham mendapatkan sedikit informasi dari Arshinta yang baru dikirim lewat pesan WA. Sambil menunggu kedatangannya, dia duduk santai di sofa bersama dengan Bellova.


Bellova yang membuka pintu.


“Hallo, selamat pagi,” sapa seorang wanita yang ternyata memencet bel.


“Selamat pagi juga, silahkan masuk,” Bellova mempersilahkankannya masuk.


Sarah, wanita yang akan menjadi Guru pribadi Bellova pun masuk. Matanya langsung melihat sekitar tempat itu dengan takjub.


‘Besar juga rumahnya.’


Setelah menutup pintu, Bellova mengajak Sarah untuk duduk bersama mereka.


Dilihatnya sudah ada Abraham duduk di sofa dengan mengangkat satu kaki diatas kaki yang lain.


“Bram, Guruku sudah datang,” ucap Bellova memanggil suaminya.


Abraham yang masih fokus pada ponselnya mengangkat wajah, melihat Sarah yang tersenyum ramah padanya.

__ADS_1


“Oh, hallo, silahkan duduk,”


“Hallo Pak Abraham, nama saya Sarah,” ucapnya memperkenalkan diri berjabat tangan. Abraham juga mengulurkan tangan untuk bersalaman.


“Guru sarah, anda mau minum apa? Biar saya buatkan.”


“Saya-


“Love, kamu duduk saja, kan sudah ada teko yang berisi jeruk dingin, ini saja.” ucap Abraham. Dia tidak mau isterinya melayani orang lain yang tidak dekat.


“Iya Bu. Tidak usah repot-repot,” ucap Sarah.


Bellova duduk kembali.


Sarah memperkenalkan dirinya lagi. Menunjukkan sertifikat berharganya sebagai penunjang agar diterima bekerja sebagai guru pribadi.


Abraham sempat membacanya dengan teliti. Sarah dan Bellova sama-sama tersenyum.


“Baiklah, aku percaya. Mulai besok, anda datang kesini untuk memberi pendidikan pada isteriku, Bellova.” Tunjuk Abraham pada Bellova, yang duduk didepannya, disamping Sarah.


“Iya Pak Abraham, saya juga sudah mendengar sedikit informasinya dari Nona Arshinta.”


“Bagus. Tolong saat mengajarinya jangan berlebihan. Tidak perlu melakukan kekerasan atau cacian, anda mengerti kan?”


“Iya, saya mengerti Pak. Saya juga tidak suka dan tidak setuju pengajaran yang seperti itu. tentu saja saya tidak akan melakukannya.”


“Oke, aku percaya. Mulai besok, jam 9 pagi anda sudah harus datang dan mulai mengajar. Setiap bulan saya akan membayar anda 10 juta-


“Bram?” Bellova terkejut mendengar bayaran yang akan diberikan pada Sarah, terlalu besar.


Abraham mengangkat satu tangannya agar Bellova tidak perlu khawatir. Bellova pun diam.


“Love, apa ada yang ingin kau tanyakan padanya?”


“Mm, tidak ada.” Jawabnya malu-malu.


“Kalau begitu, anda sudah bisa pulang, besok anda bisa datang lagi,” suruh Bram.


“Oh, baiklah. Saya permisi dulu Pak, Bu. Sampai jumpa besok,” Sarah berdiri, mengumpulkan semua sertifikat dan dimasukkan kembali kedalam tasnya.


Bellova mengantarkan Sarah sampai keluar pintu.


Abraham kembali membuka ponselnya.


Bellova datang lagi, “Bagaimana? Apa kau menyukainya?”


“Iya, aku menyukainya. Tapi, kenapa bayarannya mahal?” itu yang membuat wajah Bellova tidak tenang.


“Selama kau menyukainya, harga segitu tidak masalah bagiku.”


“Benar tidak apa-apa? Uangmu tidak akan habis?”


“Pft, mana mungkin uangku akan habis. Bahkan untuk ratusan guru dengan bayaran segitu, tidak akan membuat semua uangku habis, Love.” Ucapnya membanggakan diri.


Bellova mengangguk pelan.


“Love, bisa ambilkan jaketku? Aku akan pergi ke kantor sekarang,” Abraham berdiri.


“Iya, sebentar ya,” Bellova berlari menaiki anak tangga, “Jangan berlari Love!” teriak Abraham. Bellova pun pelan-pelan berjalan.


Beberapa menit kemudian, Bellova sudah datang dan membawa jaket Abraham.

__ADS_1


“Ini,”


“Aku akan pergi. Oh ya, mulai besok kan kau akan belajar. Tidak usah masak dan mengantar makan siangku. Aku akan makan diluar bersama Adley. Dan kau juga, kalau dirasa gak sempat masak, pesan online saja.”


Bellova keberatan, raut wajahnya berubah datar.


“Bagaimana? Kenapa kau diam?”


“Iya, aku mengerti.” jawabnya pelan. Dari nada suaranya, ada kekecewaan yang dirasakannya.


“Jadi, apa setiap hari selama aku belajar, tidak mengantarkan makan siangmu?” tanya Bellova, wajahnya berharap ada perubahan.


Abraham mempertimbangkannya, “Nanti saja kita bicarakan ya, ada panggilan yang masuk, aku harus segera pergi.”


“Iya, hati-hati di jalan ya,” Bellova melambaikan tangannya.


Baru berapa langkah kaki Abraham keluar rumah, tiba-tiba balik lagi menghampiri Bellova yang masih berdiri belum menutup pintu.


Cup!


Dia mencium kening Bellova, “Hati-hati diumah, sampai jumpa,” Abraham pergi melambaikan tangannya.


“Dia… dia mencium keningku lagi? Aku pikir dia lupa,” wajahnya memerah dan memegang kening.


***


Esok paginya, Bellova menunggu kedatangan Sarah untuk mengajarnya pertama kali. Dia gugup menunggu kedatangan Guru pribadinya. Abraham sudah berangkat bekerja.


Ting!


Karena mendengar suara bel, Bellova berlari. Diintipnya dulu siapa yang ada didepan pintu. Wajahnya bahagia karena ternyata orang yang ditunggunya sudah datang.


“Selamat pagi Bu Guru Sarah,” ucap Bellova menyambut kedatangan Sarah.


“Selamat pagi Bu Bellova,” balasnya tersenyum ramah.


“Mari masuk Bu Guru,” ajak Bellova, dan menutup kembali pintunya.


“Mmm, dimana suami anda? Saya tidak melihatnya?” tanyanya, matanya mencari sosok Abraham.


“Dia sudah berangkat kerja.”


“Oh ya? Memangnya berangkatnya jam berapa?”


“Jam setengah 9, kadang jam 8. Bu Sarah mau minum apa?” Bellova berdiri dan Sarah sudah duduk di sofa, meletakkan tasnya.


“Tidak perlu repot-repot Bu Bellova.”


“Tidak kok, supaya Bu Sarah tidak kehausan nanti.”


“Aduh, gimana ya. Kalau tidak keberatan, yang dingin-dingin saja Bu. Air putih biasa yang dingin saja tidak masalah.”


“Baiklah kalau begitu. Saya buatkan dulu ya. Saya juga suka minum yang dingin,” ucap Bellova berjalan menuju dapur.


“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Sarah, suaranya agak keras agar Bellova bisa mendengarnya yang sudah didapur.


“Tidak usah Bu Sarah,”


Selama Bellova ada didapur, Sarah melihat-lihat sekitarnya.


‘Jadi mereka suami isteri? Aku pikir tadi wanita itu adalah pelayannya.’

__ADS_1


__ADS_2