
Sudah jam 11 malam, Bellova masih belum masuk kedalam kamar, sedangkan Abraham baru saja keluar dari ruang kerjanya. Abraham yang pertama masuk, dan melihat tidak ada isterinya didalam. Karena tidak menemukan Bellova, Abraham keluar lagi mencari dimana Bellova berada.
“Loh, Love? Apa yang kamu lakukan disana?” Abraham melihat Bellova duduk sendiri di kursi dapur. Tidak melakukan apa-apa hanya diam dan termenung.
Abraham mendekatinya, “Hey, kau kenapa? Jangan bengong sendirian disini. Ini sudah malam, apa kau mau kerasukan nanti?” tanyanya meletakkan tangan dibahu Bellova.
Bellova terkejut, berdiri sambil menoleh melihat Bram yang sedang berdiri dibelakangnya.
“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?” tanyanya lagi, panik.
“Enggak, enggak apa-apa kok.” Dia menggelengkan kepala, tanpa melihat wajah Bram.
“Kalau tidak apa-apa, terus kenapa bengong disini? Jangan membuatku takut loh. Kalau kau kerasukan setan, aku bisa kabur.” Ledek Bram.
“Kalau sudah malam, dapur ini jadi angker.” Bram mencoba menakuti Bellova.
Bellova mulai terpancing ketakutan. Dia melihat disekitar ruangan dapur yang sangat luas itu.
Bellova baru menyadari dia sudah lama duduk dalam cahaya remang.
“Ayo kekamar, keburu didatangi,” Bram menggenggam tangan Bellova. Bellova yang sudah ketakutanpun pasrah ikut.
“Aku pikir kau sudah dikamar, tadi aku sudah disana, ternyata kau tidak ada. Aku pikir, bukan isteriku tadi yang duduk termenung didapur. Hampir saja aku mau menyiraminya dengan garam.” Sebagian yang dikatakan Abraham hanya candaan saja. Sambil bicara, tangan mereka masih belum terlepas bahkan saat menaiki anak tangga.
“Masa sih didapur angker? Aku kan sering disana kalau malam.” Masih penasaran, seakan tidak percaya kalau dapurnya angker. Bahkan bulu kuduknya sampai berdiri.
“Pft, ya kalau kau tidak percaya, coba saja kau disana sebentar saja. Karena biasanya mereka akan muncul jam 12 malam.” Abraham masih belum selesai mengisenginya.
Karena takut, Bella menggenggam tangan suaminya dengan erat, takut terlepas dan meninggalkannya.
Padahal, Abraham hanya berbohong. Dia memang takut hantu, tapi dia yakin kalau dirumahnya tidak ada mahluk kasat mata, kalaupun ada, dia tetap tidak percaya.
Sekarang mereka sudah berada didalam kamar.
“Lain kali, mau dimanapun itu, jangan dibiasakan duduk termenung sendirian. Bukan hanya dirumah ini saja. Kalau terjadi apa-apa padamu, siapa yang tahu. Iya kan?”
“Mmm, Bram,”
“Apa?”
“Ka-kalau di kamar ini, apa ada juga?”
Hampir saja Abraham tersenyum bahkan ingin tertawa.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kalau dikamar ini. Tapi, kalau di dapur ada, bisa saja disini juga ada. Mereka kan bisa berjalan, oh tidak! maksudku, bisa saja mereka terbang dan masuk kedalam kamar kita kan?”
Bellova terdiam, wajahnya juga berkeringat masih ketakutan. Padahal suaminya sudah berbaring ditempat tidur, dan dia masih duduk dibibir ranjang.
“Bram, tolong agar kamu jangan pulang larut malam ya,” pintanya, menoleh melihat Abraham.
“Kenapa? Takut?”
Bellova menganggukkan kepalanya.
Sekarang giliran Abraham yang terdiam menatap isterinya yang benar-benar ketakutan, dan dia menyadari itu.
“Apa yang kau takutkan? Ada aku kan?” dia bangun dari baringnya, dan duduk disamping Bellova.
“Itu makanya, kau jangan pulang larut malam. Aku takut,” wajahnya memelas, bukan minta untuk dikasihani, tapi dia memang benar-benar ketakutan.
‘Aduh, bagaimana ini. Ekspresi wajahnya itu. Tapi aku juga kasihan kalau terus menjahilinya seperti ini.’
“Ya, aku akan mengusahakannya. Kalau kau kesepian, kau bisa memasang musik atau menonton. Atau, kau bisa datang kerumah mama saja. Kalau aku sudah pulang kerja, aku menjemputmu disana.” Ucapnya mengusap rambut Bellova.
“Benarkah? Lebih baik aku menunggu disana. Tapi, bagaimana untuk masak makan malamnya?”
“Hm, kan bisa saat kita pulang. Lagipula aku kan tidak langsung makan, ya mandi dulu kan? Nanti kita bisa memasaknya bersama-sama.”
“Iya, aku mau,” tidak keberatan dan terlihat senang dengan usulan suaminya.
“Jadi, bagaimana dengan obrolan kita tadi?” Abraham mengalihkan topik. Tangannya masih mengusap rambut dan menyelipkannya dibelakang telinga Bellova.
Bellova mencoba mengingat-ingatnya lagi. Karena dia benar-benar lupa.
“Rencana untuk punya anak loh. Masa lupa.”
‘Kenapa aku merasa kalau Bram terlihat mesum?’
“A-a-aku, ma-malu,” Bellova memegang dadanya yang berdetak dengan kencang. Wajahnya yang merah, tidak bisa diperlihatkan pada Abraham.
“Kenapa harus malu?”
“Memangnya… Bram sudah pernah?”
“Apa?”
“Mmm… Mmm… punya anak dengan orang lain?”
__ADS_1
“Hah?” Abraham membuka mulutnya lebar-lebar. Pertanyaan isterinya yang membuatnya tercengang. Sementara itu, Bellova menunggu jawaban darinya.
“Kau pikir laki-laki apa aku ini. Apa kau pikir, orang tuaku akan diam saja kalau aku menghamili wanita lain. Haduh Love, Love. Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu.” Abraham menggelengkan kepala sembari menghela napas, membuat Bellova merasa bersalah.
“Ma-maafkan aku. Aku hanya…” tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi, dia akhirnya diam dan ikut menghela napas.
Greb!
Abraham memeluk Bellova dari belakang, kedua tangannya sudah melingkar diperut Bellova. Posisinya duduk bersandar diatas ranjang.
“Percaya atau tidak, aku belum pernah pacaran loh.” Ucapnya, menyandarkan kepalanya dibahu Bellova.
“Hm? Benar kah?” tiba-tiba Bellova menoleh kesisi wajah Abraham, tidak disengaja, bibir mereka bersentuhan. Bellova menoleh lagi, menghindar.
“A-aku tidak per-percaya kalau Bram tidak pernah pacaran. Padahal kan banyak yang suka padamu.”
Abraham mengubah lagi posisinya, tidur dipangkuan Bellova.
“Yah, kalau yang suka memang banyak. Tapi intinya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan mereka.”
“Kenapa?”
“Hm, gimana ya menjelaskannya. Karena aku tidak menyukainya saja. Aku tidak suka wanita yang centil, genit dan lemah.”
Deg!
‘Lemah’, kalimat yang menusuk perasaan Bellova. Dia langsung menyadari dirinya, yang juga lemah dan bodoh.
“Mereka sangat bergantung dan manja padaku, membuatku kewalahan. Saat aku belajar kepolisian, entah darimana datangnya para wanita menghampiriku sambil membawa makanan manis. Padahal, aku paling tidak suka dengan makanan manis. Tapi yah, aku selalu memberinya pada Adley atau Arshinta. Aku tidak bisa menolaknya karena takut menyakiti perasaan mereka. Perasaan wanita itu kan sensitive, sama sepertimu.” Abraham terus berbicara tanpa tahu apa yang dirasakan isterinya.
“Tapi kalau sudah keterlaluan dan tidak bisa diperingati lagi, terpaksa aku bicara kasar padanya. Tidak selamanya aku bisa memaklumi mereka kan?”
“Lalu, bagaimana dengan anak? Maksudku, walau Bram tidak mencintaiku, apa tidak apa-apa kita memiliki anak?”
“Tidak apa-apa. Apa masalahnya? Manusia menikah, salah satu tujuannya kan untuk menambah keturunan.”
“Kalau, kalau misalnya aku… hamil anak Bram, terus Bram ternyata jatuh cinta dengan wanita lain, apakah Bram akan meninggalkan kami?”
“Pertanyaan yang sulit ya. Kalau suatu saat aku mencintai wanita lain, saat kita memiliki anak, aku yang akan merawatnya. Karena kalau bersamaku, anak kita tidak akan menderita dan kekurangan.”
“Lalu bagaimana denganku?”
Abraham tidak menyadari kenapa isterinya bertanya seperti itu. Apa yang sedang dirasakan isterinya dari setiap jawaban yang diberikannya. Jujur saja, Bellova merasa kalau Abraham jahat.
__ADS_1