
Mereka masih sama-sama berjongkok karena memungut uang. Tatapan Sarah marah tapi takut dengan orang yang berada dibelakang Bellova, sedangkan Bellova, tatapannya marah, kesal dan tajam pada Sarah, bukan karena suaminya ada dibelakangnya, memang karena kesabarannya yang mulai habis. Selama Sarah mengajari dan menyndirnya, dia tahu itu. Tapi karena dia tahu diri akan kekurangannya, dia hanya diam dan berusaha menunggu perubahan baik dari Sarah, tapi semakin lama bukannya semakin baik, tapi semakin berani menghinanya.
“Bram, aku akan menyuruh Sarah keluar,” dia menoleh kebelakang melihat Abraham yang sudah duduk disofa.
“Hm.” Jawabnya, mengelap tangannya yang masih berdarah dengan tisu.
Bellova menarik tangan Sarah, “Aduh,” rintih Sarah, seakan ditarik paksa yang membuatnya hampir jatuh.
“Bu Bellova, saya tahu saya salah, tapi tolong jangan kasar dong.”
Bellova mengernyitkan keningnya, “Aku tidak-
“Padahal sebelumnya anda mengatakan pada saya, kalau anda menyukai cara saya mengajar anda. Hanya karena saya memuji suami anda, anda langsung marah-
“Ck, Love, berisik sekali, cepat bawa dia keluar!” Bram menggorek kupingnya, karena berisik dengan suara Sarah. Padahal Sarah pikir, kalau Bram akan memaafkan dan membelanya, ternyata dia salah.
Mendapat dukungan, Bellova melanjutkan menarik Sarah keluar. Sarah tidak lupa membawa tasnya.
Dibukanya pintu, “Kau lihat kan? Bagaimana suamiku memperlakukanku?” ucapnya menatap tajam pada Sarah.
“Walau aku yang bodoh ini, tapi dia perduli dan perhatian padaku. Bagaimana menurutmu? Apa kau pikir kau berhasil membuatnya membenciku?” ucapnya lagi setelah mengeluarkan Sarah, dan dia masih berdiri didepan pintu sambil bicara pada Sarah.
Bellova mendekatkan wajahnya disamping wajah Sarah, “Kau salah besar Sarah. Kau tidak berhasil.
Menurutmu, apa yang akan dilakukan suamiku selanjutnya kalau aku mengatakan padanya tentang apa saja yang kau katakan padaku? Kau tahu kan, aku belum mengatakan semua pada suamiku.” Bisik Bellova ditelinga Sarah.
‘Apa ini? Kenapa aku merasa merinding mendengar ancamannya?’
Sarah sudah berkeringat dan gemetar.
“Kecewa kan karena tidak mendapat gaji sepeserpun disini? Yah, anggap saja bayaran yang harus kau berikan karena sudah merampas habis isi kulkasku. Oh ya, semua yang kau ambil itu harganya mahal dan berkualitas loh, sebenarnya itu masih kurang, tapi, karena aku masih punya rasa belas kasihan, aku ikhlaskan saja!” ucapnya lagi
tersenyum sinis.
Klik!
Bellova sudah menutup pintunya setelah selesai bicara semua yang dia pendam. Sedangkan Sarah, karena masih shock, dia berdiam diri didepan pintu. Seakan apa yang terjadi serasa mimpi buruk baginya.
Bellova juga masih berdiri didepan pintu dan diam. Ada kelegaan dan ketakutan juga yang dia rasakan. Sebenarnya, ada perkataan Sarah yang dia ingat dan takut itu akan terjadi padanya. Dia tidak mau itu terjadi.
Abraham baru turun dari lantai atas dan membawa tas hitam kecil ditangannya. Bellova sedang memunguti pecahan kaca dengan menampung ditelapak tangannya.
“Ssshh, aduh.”
“Apa yang kau lakukan? Kau harus menggunakan sapu dan pengki saja untuk mengambilnya,” ucap Bram, dia berjalan cepat setelah melihat jari isterinya berdarah.
__ADS_1
Bellova berdiri, dia ingin mengambil sapu dan pengki. Karena arahnya berlawanan, Bellova tidak sadar kalau kakinya menginjak pecahan kaca.
“Aduh,” dia duduk disofa untuk melihat telapak kaki yang berdarah.
“Aduh, kenapa berdarah lagi sih?” sama-sama mengucapkan ‘Aduh’, Bram mengambil tisu dan membersihkan darah setelah mengeluarkan serpihan kaca yang masih menempel.
“Kamu kenapa? Apa yang kau pikirkan?” tanya Abraham masih fokus membersihkan darah dikaki isterinya.
Bellova masih diam.
“Hey, kenapa kau diam? Perasaan tadi kau sangat cerewet. Ada apa? Apa ada yang sakit lagi?”
“Hatiku sakit.” Ucapnya suara pelan.
“Hah? Apa? Kau bilang apa tadi?” Abraham mendekatkan wajahnya agar bisa mendengar apa yang diucapkan isterinya.
Bellova hanya menggelengkan kepalanya.
Abraham menggaruk kepalanya, “Kalau tidak ada, kenapa wajahmu cemberut begitu.”
“Bram?”
“Hm?”
Kembali diam, sedangkan Abraham masih menunggu dengan penasaran.
Sekarang Bellova menggulung-gulung ujung bajunya. Abraham melihat apa yang dilakukannya.
Karena tidak saabr dan takut semakin emosi, Bram menarik wajah Bellova dengan menyentuh kedua pipi dengan kedua tangannya. Wajah mereka saling berhadapan.
“Mau bicara, atau aku cium?!” ancaman nakal dari Abraham.
Sontak Bellova membelalakan mata karena terkejut. Bahkan dia langsung menutup mulutnya dengan rapat.
‘Lucu sekali ekspresinya.’ Abraham ingin tersenyum, tapi dia menahan mulutnya.
“Masih belum mau bicara? Oh, apa kau benar-benar kita akan berciuman?” semakin dia mendekatkan wajah mereka.
Deg!deg!deg!
Bellova merasakan detak jantungnya semakin cepat.
Jarak wajah mereka hampir sejengkal. Tatapan Abraham juga sudah mengarah pada bibir Bellova.
Bellova mengedipkan matanya beberapa kali dengan cepat, takut bibir mereka bersentuhan.
__ADS_1
“Yah, kalaupun kita berciuman tidak ada yang salah kan? Yang aku cium bukan wanita atau pria lain.”
“Pft,” tiba-tiba Bellova ingin tertawa.
Abraham sengaja mengeluarkan kata candaan agar isterinya tidak tegang.
Diusapnya kulit bibir Bellova yang sangat lembut itu dengan jarinya.
Dekat, semakin dekat dan lebih dekat lagi.
“Bram, sebenarnya-
Cup!
Baru mau mulai bicara, Abraham sudah mendaratkan bibirnya dibibir Bellova. Bellova semakin membuka matanya lebar.
Cup!
Tidak hanya sekali, sudah berulangkali Abraham mencium bibir Bellova. Yang awalnya hanya untuk gertakan saja, tapi malah keterusan dan bahkan sampai ciuman yang sangat dalam dan beberapa menit.
Bellova bisa melihat jelas wajah suaminya karena dia tidak menutup matanya saat berciuman, hanya suaminya saja yang memejamkan mata. Sepertinya, Abraham yang lebih menikmati ciuman itu.
‘Gawat, aku tidak bisa bernapas.’ Gumam Bellova dalam hati.
Abraham yang saat itu jongkok karena membersihkan darah dikaki Bellova, dan isterinya yang duduk disofa mulai berdiri pelan-pelan. Dan tentu saja, dia belum melepas atau mengakhiri ciumannya. Tangannya yang awalnya memegang wajah Bellova, salah satunya mulai bergerak kebelakang kepala dan menahan agar bibir mereka tidak
sampai terlepas dari ciuman.
Dia mendorong isterinya untuk bersandar disofa.
Wajah Bellova sudah memerah karena kesulitan bernapas. Dia juga sudah berusaha mendorong suaminya, tapi Bram masih tidak peka. Dia juga tidak bisa memutar wajah atau melepaskan ciumannya karena Bram menahan wajah dan kepalanya.
“Hhhmmmpp!” suara Bellova.
Abraham membuka mata dan mengernyit, “Eh?” bingung dan mengakhiri ciuman.
Bellova mulai bernapas dengan normal dan masih tersengal. Sedangkan Bram masih dalam kebingungan, masih belum menyadari apa yang terjadi. Mereka berdua hanya diam sambil memperhatikan dengan isi pikiran yang berbeda.
‘Apa yang aku lakukan?’ tanyanya dalam hati.
Dilihat bibir Bellova yang sudah memerah dan basah.
Abraham berdiri, “Ekhem, aku akan kembali ke kantor,” ucapnya sambil mencari jaket untuk dipakai.
Bellova berusaha berdiri, dan ingin memunguti serpihan kaca yang masih belum dibereskan.
__ADS_1
Melihat isterinya turun dari sofa dan telapak kakinya yang masih sakit, Abraham melepas jaketnya lagi.
“Sini, biar aku saja yang membersihkan. Kau duduk saja,” ditahannya isterinya agar tidak melanjutkannya. Dibantu Bellova untuk kembali duduk di sofa dan dia pergi ke dapur untuk mengambil perlengkapan.