
“Pak Polisi, saya bersumpah, bukan saya yang mencurinya, tolong percaya pada saya,” seorang pria tua memohon sambil menangis, memeluk kaki Ridwan. Dia tuduh karena mencuri uang sumbangan dari Musholla.
“Jangan percaya dia Pak! Saya melihatnya langsung kalau dia mencongkel-congkel kotal amal di depan Musholla,” ucap seorang pria yang yang menuduh pria berlutut itu. Bahkan sipenuduh sampai memukul orang yang dituduh.
“Tolong anda hentikan! Jangan main hakim sendiri! Apalagi kalian sekarang sedang berada di kantor polisi,” Ridwan melerai baku hantam itu.
“Apa yang terjadi? Kenapa berisik sekali?” Abraham keluar dari ruangannya.
“Pak Komisaris,” Ridwan memberi hormat.
“Ada apa?” Abraham melihat wajah pria yang memar masih berlutut memeluk kaki Ridwan, lalu melihat pria lain yang berdiri bersama rekan-rekannya, mereka lah yang membawa pria malang itu ke kantor polisi.
Abraham berjalan mendekati mereka, “Kasus apa ini?” tanyanya pada Ridwan.
“Bapak ini dituduh mencuri uang dari kotak amal yang ada di Musholla.”
“Bukan menuduh lagi Pak, tapi memang dia pelakunya,” sela pria yang memukul Bapak tersebut.
Karena Abraham melihat mereka dengan tajam, mereka terdiam dan menundukkan wajah.
“Apa kau punya bukti?”
“Ada Pak, kami punya videonya,” si pria mengeluarkan ponsel untuk menunjukkan video pada Abraham.
“Ini Pak, ini buktinya. Terlihat jelas sekali kalau orang ini mencuri,” pria itu mendekati Abraham untuk berbagi ponsel.
“Menyingkirlah! Jangan berdiri didekatku!” Abraham mendorong tubuh si pemilik ponsel agar menjauh darinya. Akibat dorongan itu, si pria itu hampir jatuh, untung saja temannya menangkap tubuhnya agar tidak sampai mendarat di lantai. Padahal Abraham mendorongnya pelan.
‘Bau sekali badannya. Bukan bau badan, tapi seperti pewangi atau parfum yang menyengat.’ Batinnya.
Memang terlihat pria tua itu sedang membuka kotak amal tanpa menggunakan kunci. Pria itu melihat kekiri dan kekanan seperti orang yang ketakutan.
Abraham lalu melihat Bapak itu, wajahnya memelas agar dikasihani dan dipercayai.
“Ini,” setelah selesai menonton videonya, ponselnya dikembalikan lagi pada si pemilik.
“Bagaimana Pak? Saya tidak bohong kan?”
“Siapa namamu?”
“Anwar, Pak. Nama saya Anwar.” Jawabnya jelas.
“Dan kau?” sekarang Abraham bertanya pada orang yang dituduh.
“Saya Ilham Pak.” Jawabnya dengan suara bergetar, pelan dan hampir tidak bisa didengar.
__ADS_1
Abraham melihat Anwar dan Ilham bergantian. Anwar sangat yakin kalau Ilham pencuri, sedangkan Ilham berusaha agar Abraham percaya padanya dan dilepaskan.
“Kenapa anda berada disana?” Abraham memberikan pertanyaan pada Ilham.
“Saya penjaga Musholla, Pak. Tugas saya bersih-bersih dan mengurus keamanan Musholla.” Jawabnya.
“Apa kau tinggal disana juga?”
“Iya Pak. Saya dan anak laki-laki saya tinggal disana.”
“Dimana dia sekarang?”
“Dia dirumah sakit Pak.” Ucapnya lagi. Karena sudah tua, suaranya yang serak dan tidak terdengar jelas, juga menahan rasa sakit disekitar mulut jika berbicara.
“Anaknya sakit, Pak. Sebelumnya dia mau minjam uang sama saya, tapi karena saya tidak punya uang, saya tidak bisa memberikannya. Itu makanya dia langsung gelap mata dan membongkar kotak amal.” Sela Anwar menjelaskan.
Ilham ingin membela diri, tapi apa daya, tenaganya tidak banyak untuk protes. Dia menundukkan wajah, seakan pasrah meski masih ada sedikit harapan.
“Begini Pak, sebenarnya ini terjadi bukan sekali dua kali, tapi sudah lebih dari 8 kali. Tapi karena kami tidak tahu siapa tersangkanya, dan saat Pak Anwar menunjukkan video ini, kami baru tahu siapa pencurinya.” Ucap Herman, orang yang ikut membawa Ilham kekantor polisi.
Ilham semakin menangis, rasanya sakit hati karena tidak ada yang percaya padanya.
“Pak Ilham juga pernah minjam uang sama saya, tapi saat itu saya tidak punya uang dan yang dia minta itu cukup besar. Kami tahu, Pak Ilham sudah berjasa karena mau mengurus Musholla, makanya, setiap bulan kami memberinya uang 500 ribu, dan sembako juga.”
Setiap Ilham dituduh mencuri, Ilham akan diam dan pasrah.
“Dan kejahatannya yang lain, Pak Ilham sering mengganggu santriwati disana, hanya saja kami memang belum menemukan buktinya.”
“Kalau tidak ada bukti, kenapa kalian yakin sekali dia melakukan itu?”
“Saya tidak-
“Anda mengatakan ‘kejahatan lainnya’, itu artinya kalian yakin mengatakannya kan?”
Herman tidak bisa mengelak. Dia diam dan melihat rekan-rekannya yang tidak bisa membelanya.
“Masukkan dia kedalam sel!” suruh Abraham.
“Tapi Pak, saya…” Ilham tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Pikirnya, tidak akan ada yang percaya dan sia-sia.
Ridwan membantunya berdiri, karena Ilham tidak bisa berdiri, kakinya mengalami luka karena mengalami kekerasan sebelum dibawa ke kantor polisi. Abraham jelas sekali melihat kondisi dari Pak Ilham.
Anwar dan warga lainnya senang ketika Ilham dimasukkan kedalam penjara.
“Terima kasih Pak atas keadilannya. Sebenarnya kami tidak ingin melakukan tindakan ini, tapi karena ini terjadi berulangkali, kami akhirnya menyerah.” Ucap Anwar.
__ADS_1
“Kalau boleh saya tahu, berapa banyak uang yang dia ambil?”
“2.500 .000 Pak.”
“Darimana anda tahu?”
“Ah, itu… itu karena… karena saya tahu jumlah uang… nya,” Anwar gelisah, dia menggaruk kepalanya dan melihat warga lain yang masih berdiri dibelakangnya.
“Jumlah uang yang mana yang anda tahu?”
“Jumlah uang dalam kotak amal itu Pak. Sekali dua minggu, kami menghitung bersama jumlah uang didalam kotak amal, dan berapa kali kami menghitung, pasti ada yang kurang, benar kan Pak Herman?” Anwar melirik Herman.
“Iya Pak, bukan hanya Pak Anwar saja yang tahu, saya dan beberapa warga lainnya juga tahu.” Ucap Herman mendukung jawaban Anwar.
Tidak ada pertanyaan lagi dari Abraham. Ditatapnya satu persatu mereka yang menuduh Ilham.
“Baiklah, kalian bisa-
“Maafkan saya Pak, kalau boleh kami tahu, kira-kira, Pak Ilham ditahan berapa tahun ya?” tanya Anwar menyela kalimat Abraham. Dia sangat penasaran berapa lama orang itu ditahan.
“Ditahan?”
“Iya?”
“Untuk saat ini kami akan menahannya disini beberapa hari-
“Apa? Hanya beberapa hari? Tapi dia kan terbukti mencuri?” Anwar tidak senang mendengarnya.
‘Dari tadi orang itu memotong Pak Abraham saat bicara.’
“Hah, kami akan melakukan penyelidikan dulu-
“Penyelidikan apa lagi Pak? Kan sudah ada videonya.” Anwar semakin ngotot.
“Kau-
“Ekhem, begini Pak Anwar, kami tidak bisa asal menahan Pak Ilham sebelum memiliki bukti yang lebih banyak lagi-
“seberapa banyak Pak?!”
“Ridwan! Bawa mereka semua keluar!” teriak Abraham. Daripada dia melayangkan tinjunya, lebih baik menyuruh mereka pergi sebelum dia berubah pikiran.
“Tapi Pak-
“Sebaiknya kalian pulang saja dulu. Seperti yang dikatakan Pak Komisaris, kami akan melakukan penyelidikan untuk kejahatannya. Minimal, ada dua bukti akurat dari tindak kejahatan Pak Ilham. Tolong anda mengerti,” ucap Ridwan menuntun Anwar dan lainnya keluar. Sedangkan Abraham, memijit keningnya menahan emosi.
__ADS_1