
Abraham melihat isterinya sedang mencarinya. Karena tidak mau isterinya panik, Abraham meninggalkan wanita itu.
“Terima kasih ya Pak karena sudah menolong saya,” ucap wanita itu, sempat menahan Abraham berhenti sejenak.
“Untuk apa berterima kasih padaku kalau pencurinya saja anda lepaskan.”
“Itu karena saya kasihan pada orang tadi. Wajahnya saja terlihat merasa bersalah.”
“Oh, terserah anda saja, silahkan lanjutkan belanjaan anda, aku permisi dulu,” Abraham pergi meninggalkan wanita yang mengangkat tangannya untuk menahan Abraham, rasanya wanita itu ingin berbicara lagi padanya.
Abraham bisa melihat dengan jelas, Bellova melihat ke kiri dan ke kanan. Dan tentunya mencari dirinya.
“Sudah selesai memilihnya?” terdengar suara Abraham disamping kiri Bellova.
“Sudah, aku tadi mencarimu.”
“Ya, aku datang karena kulihat kau mencariku. Berapa semua?” Abraham mengeluarkan dompetnya.
Bellova memberitahukan jumlah yang harus dibayar. Abraham mengeluarkan sejumlah uang pada Bellova, biar isterinya yang menyerahkan pada sipenjual.
“Sini, biar aku saja yang membawanya,” diambilnya plastik yang berisi bahan dapur dari tangan Bellova. Awalnya Bellova tidak mau, karena pikirnya tidak terlalu berat, tapi suaminya terus memaksa sampai dia mau.
Mereka masih mencari-cari apa lagi yang harus dibeli. Daging, ikan, telur dan lainnya yang bisa dimasukkan kedalam kulkas.
“Love, apa masih ada lagi? Aduh, aku capek sekali, kepalaku pusing,” Abraham tidak bisa memijit kepalanya karena kedua tangan memegang plastik belanjaan.
“Kepala kamu pusing? Sini biar aku bawa saja satu-
“Tidak usah!” dijauhkan belanjaan dari tangan Bellova yang ingin mengambilnya.
“Tapi-
“Kalau sudah selesai, kita pulang saja. lain waktu saja kita kesini lagi,” ucap Abraham yang sudah tidak tahan lagi. Ada banyak orang dipasar membuat kepalanya pusing dan mual. Tapi tidak untuk Bellova.
“Ya sudah, ayo kita pulang, aku rasa semuanya sudah ada.”
Mereka berdua akhirnya pulang, dan semuanya Abraham yang membawa. Bellova hanya memegang dompet dan kunci mobil saja. Dia berjalan disamping suaminya bersamaan.
Karena sudah berada didekat mobil, Bellova menekan tombol remot mobil hingga bersuara. Semua belanjaannya dimasukkan lagi kedalam bagasi, sama dengan buah-buahnya tadi.
Bellova masih belum masuk kedalam mobil, sedangkan Abraham baru masuk dikursi kemudi.
“Love? Kenapa masih berdiri diluar?” tanya Abraham, melalui kaca jendela yang sudah dibuka.
Bellova membuka pintu mobil, memasukkan setengah tubuhnya untuk berbicara dengan suaminya, “Bram, apa masih sempat beli cendol?”
“Apa? Cenol?”
__ADS_1
“Cendol. Itu ada dibelakang mobil kamu. Kalau kamu mau, biar dibungkus saja.”
Abraham memang sangat lelah, tapi karena melihat wajah isterinya yang menginginkan minuman itu, dia keluar lagi dari mobil, padahal sudah memasang sabuk pengaman.
“Dimana?” tanyanya menutup kembali pintu mobil.
“Itu, gak jauh kok.” Tunjuk Bella.
“Hm, baiklah, kita minum disana saja kalau kau mau.”
“Benar kah?” wajah isterinya terlihat bahagia.
‘Sudah kuduga, dia lebih suka minum ditempat.’
Mereka berdua berjalan menuju warung dengan atap daun kelapa yang kering, dan ada beberapa pembeli juga yang minum disitu dan ada yang minta dibungkus.
“Uhuk… uhuk.. uhuk,”
“Kau kenapa? makanya kalau mau minum, matanya jangan jelalatan!” seorang pria menegur pasangannya karena tersedak minum saat melihat Abraham, pria yang sangat tampan dan berkharisma di warung itu.
Bellova terganggu dengan tatapan mereka pada suaminya.
“Silahkan Bu, mau minum disini atau dibungkus?” tanya si penjual, tangannya juga sibuk mengikat cendol pesanan orang lain.
“Minum saja disini, dua gelas.” Abraham menunjuk dua jari pada sipenjual.
“Pak, tolong dua gelas ya, minum disini,” pinta seorang wanita, bersama dengan puteranya.
“Ma, kita duduk dimana?” tanya Robert, puteranya.
Wanita itu melihat sekitar, untuk mencari meja kosong. Dan ternyata ada satu meja yang masih kosong, tepat disamping Abraham. Wanita itu tersenyum, “Kita duduk disana saja Robert,” tunjuknya.
“Hallo Pak, kita bertemu lagi di sini,” ucap wanita itu tersenyum pada Abraham yang sedang mengeluarkan ponselnya.
“Mm? Oh anda.”
“Iya Pak. Anda ada disini juga ya. Tapi tidak apa-apa kan kalau saya duduk disini?”
“Tidak apa-apa, untuk apa aku marah, kan bukan milikku,” suaranya datar dan kembali melihat ponselnya.
Robert duduk disamping mamanya, melepas topi karena kegerahan.
“Oh ya Pak, kita belum berkenalan. Saya Irma,” Irma, wanita itu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Dia tersenyum ramah pada Abraham.
Abraham melihatnya, “Aku Abraham, dan ini isteriku,” tanpa bersalaman, dan menunjuk Bellova yang duduk disampingnya, yang sedari tadi memperhatikan Irma saat datang dan berbicara pada suaminya.
“Hallo, saya Bellova,” dia mengulurkan tangan untuk bersalaman, dibelakang Abraham.
__ADS_1
“Hallo juga, saya Irma. Ini putera saya, Robert,” Irma memperkenalkan puteranya.
“Robert,” putera Irma pun ikut bersalaman dengan Bellova untuk berkenalan. Robert tersenyum pada Bellova, dan menyalaminya beberapa menit. Kalau tidak karena wajah Bellova yang merasa tidak nyaman, Robert tidak mau melepas tangannya.
“Ini Pak, Bu, es cendolnya,” isteri sipedagang cendol mengantarkan pesanan Abraham dan Bellova.
Melihat Bellova mengaduk-aduk minuman, Abraham pun mengikutinya hingga gula merah tercampur rata.
“Bram pernah minum ini?” tanya Bellova, berbisik disamping Abraham.
“Belum, aku belum pernah,” jawabnya menggelengkan kepala.
“Di kampungku, kami sering minum ini. Rasanya manis dan dingin.”
“Es batu juga dingin kan?” canda Bram.
“Iya, tapi gak ada rasa manisnya.”
“Tinggal kasih aja gula, manis kan.” Balas Bram lagi. Mereka berdua tertawa kecil membuat semua orang iri.
“Bu Bellova, apa anda sering belanja disini?” Irma mengajak Bellova mengobrol.
“Iya, mungkin satu kali dalam dua minggu.”
“Apa bersama suami anda juga?”
“Iya. Katanya, supaya aku tidak nyasar,” liriknya pada Abraham yang mulai meminum cendol.
“Senang ya, kalau suami ikut kita saat berbelanja.”
“Anda juga bisa kan?”
“Tidak bisa, karena saya tidak ada suami.” Walau berat mengatakannya, Irma berusaha tersenyum getir.
“Oh, maaf.”
“Tidak apa-apa kok. Lagipula itu sudah lama, jadi sudah terbiasa. Bu Bella, kalau tidak keberatan, apa boleh saya berteman dengan anda? Jadi, kapan-kapan, kita bisa belanja bareng.”
Bellova melihat suaminya, seakan tidak perduli dengan obrolan para wanita itu.
“Mm, boleh kok. Kita kan sama-sama wanita.”
“Iya benar. Kalau begitu, saya minta nomor telepon anda ya,” Irma mengeluarkan ponselnya.
Karena tidak ada larangan dari Abraham, bukan karena tidak dengar apa yang mereka obrolkan. Maka Bellova memberikannya.
Hampir dua jam, akhirnya mereka sudah tiba dirumah. Walau masih lelah, Abraham yang membawa semua belanjaannya dan Bellova bertugas membuka pintu, dan hanya membawa tas kecil yang disandangnya. Abraham paling anti jika seorang wanita yang membawa barang-barang berat, apalagi itu adalah isterinya. Untungnya dia sudah membeli troli besi, persiapan saat pulang berbelanja. Jadi hanya satu kali, sudah selesai memindahkan belanjaannya.
__ADS_1