
Abraham sudah berangkat bekerja. Bellova segera menyelesaikan dan merapikan pekerjaannya sambil menunggu kedatangan Sarah. Mulai jam pelajaran dari jam 9 pagi.
Hingga pukul 11 kurang 10 menit, barulah Sarah datang. Padahal Bellova sudah menunggunya lama.
Sarah menekan bel, dan Bellova segera membukanya.
“Pagi Bu Bellova,” Sarah langsung masuk tanpa menutup pintu, dan Bellova mengikutinya dari bekang setelah menutup kembali pintunya.
“Aduh Bu Bellova, maafkan saya yak arena sedikit terlambat. Saya tadi ada urusan mendadak dan jalanan juga sangat ramai,” Sarah langsung mendaratkan pantatnya disofa, meletakkan tas sandangnya diatas meja.
Bellova melihat jam didinding. Sudah hampir pukul 11 dan Sarah mengatakan hanya sedikit terlambat?.
Bellova ingin duduk, karena mau memulai pelajaran.
“Bu Bellova, apa saya bisa meminta air dingin? Saya haus banget,” dengan wajah tersenyum dan suara pelan, Sarah memintanya.
“Iya Bu, sebentar ya,” Bellova akhirnya berdiri lagi, berjalan menuju dapur untuk membuatkan air minum.
‘Wah, di ruangan ini saja sampai ada dua AC. Sepertinya ada dua lantai ya? Apa kamar mereka ada diatas? Tentu saja!’ Sarah melihat sekitar ruangan, padahal kemarin dia juga begitu, tapi belum bosan.
Sudah terlihat kedatangan Bellova, ‘Ya, dia hanya mengandalkan wajah cantiknya saja sih, selebihnya banyak kurang,’
“Bu, saya sudah bawakan air minumnya. Saya juga bawa camilan,” Bellova meletakkan diatas meja.
“Wah, terima kasih ya Bu. Maaf nih sudah merepotkan,” Sarah langsung menuangkan gelas dengan air dingin dan meminumnya segera. Bukan hanya satu gelas saja, tapi dia mengisi gelasnya dua kali dan habis diminumnya.
Sama seperti kemarin, Bellova belajar dengan duduk dilantai, dan Sarah duduk di sofa.
“Baiklah, Bu Bellova. Sekarang, anda ingin mulai belajar apa? Oh ya, apa anda bisa membaca?” sindir Sarah.
“Saya bisa membaca meski masih sering mengeja, tapi saya sudah mengenal semua huruf,”
“Wah, bagus dong. Tapi, jangan langsung merasa lega Bu Bela. Karena anda isteri seorang anggota Polisi, anda harus bisa membaca dengan lancar dan menulis dengan baik. Anda tidak mau membuat Pak Abraham malu kan?” ucap Sarah. Walau suaranya pelan dan lembut, Bellova sedikit tersinggung, tapi tidak bisa marah.
“Baiklah, sekarang, bagaimana kalau kita mulai dengan belajar menulis lagi? Supaya jari tangan anda tidak kaku?”
“Tapi saya ingin belajar membaca?”
“Itu bisa kita lakukan nanti. Sekarang, belajar menulis saja dulu. Oke? Baiklah, apa anda sudah menyiapkan semuanya? Pulpen, buku, dan buku tulis?”
__ADS_1
“Sudah Bu,” Bellova kecewa karena tidak diajarkan sesuai dengan apa yang dia inginkan.
***
Abraham dan Adley berada diluar kantor. Mereka sedang menyelidiki kejadian terbakarnya restaurant milik Monik. Disana sudah ada Venom dan Monik juga beberapa saksi. Sudah direntangkan juga garis pembatas dari kepolisian.
Ada sekitar 3 saksi yang mengatakan kalau ada seorang wanita yang menyuruh tersangka yang sudah mereka tahan untuk melakukan aksi kebakaran. Rekaman video dari CCTV menampilkan kejadian itu.
“Itu sudah jelas kalau yang melakukannya adalah Angela,” ucap Adley.
“Jaga mulutmu Adley. Meski kita sudah mengetahuinya, kita tidak boleh ceroboh. Diantara mereka, pasti ada mata-mata Irwan.” Ucap Abraham.
“Jadi Pak, kapan kita tangkap pelaku dibalik ini semua?”
“Sebentar lagi, karena pertama-tama dia akan sebagai saksi untuk persidangan papa nanti. Setelah itu, baru lah kita jadikan dia sebagai tersangka.” Ucap Abraham memberitahukan rencananya. Itupun pembicaraan mereka sangat pelan agar tidak ada yang menguping.
“Nona Monik, tolong anda juga harus berhati-hati. Jangan bertemu dengan orang yang tidak anda kenali. Jika ada yang anda curigai atau anda merasa terancam, anda bisa menghubungi saya atau Adley. Anda punya nomor Adley kan?”
“Iya Pak, saya punya nomor Pak Adley,” Monik melirik Adley sambil tersenyum ramah.
“Saya akan menyuruh beberapa petugas polisi untuk menjaga keamanan anda.”
“Kalau begitu, kami permisi dulu. Dan tolong bersabar untuk menangani kasus anda.”
“Iya Pak Abraham. Yang penting, anda selesaikan dulu mana yang lebih baik dan lebih penting.”
“Pak Abraham, ada yang ingin saya bicarakan pada Nona Monik, jika anda tidak keberatan, saya-
“Ya, ya, silahkan. Aku akan kembali sekarang ke kantor,” Abraham memberi ijin pada Adley. Pikir Abraham, Adley sedang melakukan upaya pendekatan, meski Adley tidak menyadari dan masih berusaha mengabaikan perasaannya.
***
“Ckckck, Bu Bellova, kenapa semakin lama tulisan anda semakin tidak bisa dibaca?” Sarah melihat hasil tulisan Bellova.
“Keponakan saya yang masih berusia 6 tahun, bisa menulis lebih bagus dan rapi dari tulisan anda. Kalau seperti ini terus, anda bisa membuat nama baik suami anda jelek,” hina Sarah. Mendengar itu, wajah Bellova murung.
‘Benar, kalau aku tidak ada kemajuan, nanti Bram akan meninggalkanku.’
“Kita istirahat saja sebentar ya. Mungkin jari anda sudah pegal,” Sarah melempar buku tulis Bellova diatas meja.
__ADS_1
Sarah berdiri, meregangkan tubuhnya, “Bu Bellova punya kue gak? Atau camilan lain?” tanya Sarah sambil berjalan menuju dapur.
Bellova ikut berdiri, mengikuti Sarah, “Ada, apa Bu Sarah mau? Kalau mau, biar saya ambilkan.”
“Iya, saya mau. Biar saya ambilkan saja sendiri, karena saya juga sudah berada di dapur. Saya ijin membuka kulkasnya ya Bu,” belum mendapat ijin dari Bellova, Sarah sudah langsung membukanya saja.
Sarah takjub dengan lemari pendingin yang tinggi dan lebar. Warnanya juga silver yang mulus.
‘Wah, besar sekali kulkasnya.’
Sarah ingin membuka kulkas, tapi dia bingung bagaimana cara membukanya. Dia tarik apa yang menurutnya bisa ditarik.
“Bu Sarah, bukan seperti itu cara membukanya,” Bellova datang dan ingin membuka kulkasnya. Sarah bergeser ke samping Bellova.
‘Hm, sombong sekali. Baru buka kulkas saja sudah belagu.’
Bellova meletakkan telapak tangannya didepan kulkas, mendorongnya dan terdengar suara.
Klik!
Yang artinya sudah bisa dibuka.
Bellova membuka daun lemari es itu.
“Wah, luar biasa sekali ya, ternyata cara membukanya seperti itu ya,” Sarah langsung mendorong Bellova kesamping, bertukar posisi.
‘Isinya banyak sekali ya. Ada daging, telur, ikan, sayuran. Ini seperti minimarket ada didalamnya.’
“Mmm, Bu Sarah mau ambil yang mana? Saya ambikan piring ya,” Bellova pergi ke rak piring dan mengambil satu piring keramik.
‘Nanti saja aku mengambil sisanya, sekarang aku ambil yang ini saja dulu,’
Sarah mengeluarkan satu kue tart yang kesukaan Bellova. Kue tart dengan hiasan potongan strawberry, cokelat, krim putih dan taburan gula putih bubuk. Bukan sepotong yang dia ambil, tapi semuanya.
“Tapi Bu, itu-
“Saya sangat suka sekali ini. Setiap saya melewati toko roti, saya selalu membelinya,” sela Sarah seakan tahu apa yang ingin diucapkan Bellova.
Bellova akhirnya diam pasrah saja. Mereka berdua kembali duduk.
__ADS_1
Bellova ingin duduk disofa, “Anda duduk dibawah saja Bu Bellova, karena kan sebentar lagi pelajarannya akan dimulai,” suruh Sarah, menyendokan kue kedalam mulutnya.