I Love U Honey

I Love U Honey
Anak?


__ADS_3

Sudah jam 8 malam suaminya belum pulang. Berulang kali melihat jam didinding dan mengintip diluar pintu.


Sambil menunggu, diapun belajar menulis untuk persiapannya besok.


“Ah, akhirnya dia pulang,” Bellova membuka pintu saat mendengar ketukan pintu, ciri khas dari Abraham.


“Selamat malam Bram,” ucapan sambutan dari Bellova.


“Hm? Semangat banget?” Abraham membuka sepatu sebelum masuk lebih dalam. Bellova mengambil jaket Abraham yang ditenteng ditangannya.


“Apa kau mau mandi atau makan dulu?”


“Aku mandi dulu, gerah dan bau keringat,” ujarnya mencium bagian ketiaknya.


“Ya udah, aku siapkan makan malamnya ya,”


“Hm,” Dia mengangguk sambil melangkah menuju lantai atas tempat kamar mereka.


Bellova menyiapkan makan malam yang masih hangat. Sebelumnya Bellova menanyakan pada Abraham apakah mau makan dirumah atau diluar. Karena desakan Bellova yang ngotot ingin masak, Abraham akhirnya menyerah. Bukan tidak mau, tapi karena kesibukan Bellova yang mulai bertambah. Secara kebetulan juga, pekerjaan Abraham lumayan padat, sehingga Bellova memasak tidak terlalu terburu-buru.


30 menit kemudian Abraham sudah turun dengan keadaan yang lebih segar dan rambutnya juga sedikit basah. Setiap malam, Abraham paling senang memakai pakaian tidur, apalagi berwarna hitam dan biru tua.


Bellova sudah menunggu kedatangan Abraham dengan duduk tenang.


“Sudah lama menunggunya?” Abraham menarik kursi untuknya.


“Tidak, aku baru meletakkan sayurnya,” kini Bellova mulai menyendokkan nasi kedalam piring Abraham terlebih dahulu.


“Oh ya, bagaimana dengan pelajarannya?”


“Mm?”


“Apa kau mengalami kesulitan?”


“Mungkin karena aku baru memulainya, agak canggung dan sedikit kesulitan. Nasinya cukup?”


“Cukup, pelajaran apa tadi?” Abraham memilih lauk untuknya.


“Belajar menulis,” kini piring bagiannya diisi.


“Menulis?”


“Iya, apa kau mau melihatnya? Aku akan ambilkan-


Abraham menghentikan Bellova yang ingin berdiri, “Tidak, nanti saja. Kita kan sedang makan. Selesai makan, baru kau tunjukan.” Ucapan Abraham membuat Bellova duduk kembali.


‘Semangat sekali.’


“Belajarnya pelan-pelan saja. Kau bukan mau ujian seleksi, jadi santai saja. Aku tahu pendidikan itu sangat bagus, tapi kalau dipaksakan, yang anda nanti kepalamu sakit karena terbebani.”


Mereka berdua akhirnya makan bersama tanpa ada pembicaraan lagi.


***


“Kenapa lauknya cuma tempe tahu sih? Apa gak ada ikan?” Jordy membuka penutup makanan diatas meja. Dia terkejut hanya ada tahu dan tempe juga sambal, tidak ada sayur.


“Ya ampun, ini saja ada sudah syukur! Gak usah protes!” ucap Sarah, duduk diruang tamu sambil menonton Tv, tangannya memegang remot Tv.


Suami isteri lain yang sedang bertengkar. Sarah dan suaminya Jordy. Sarah adalah seorang guru honorer, yang juga menerima panggilan untuk les privat. Sedangkan suaminya bekerja sebagai ojek online dan kadang jadi buruh bangunan, jika diperlukan.


“Kau ini ya, aku setiap hari memberimu uang belanja 50 ribu, apa masih kurang?” Jordy menyamperin isterinya diruang depan.

__ADS_1


“Hah? 50 ribu? Kau pikir itu cukup? Minyak sudah mahal tahu!”


“Aku tahu minyak mahal, tapi tidak tiap hari kau beli minyak kan? Baru kemarin juga kau beli minyak, jangan pake alasan yang gak masuk akal!”


“Suami pulang kerja, harusnya kau siapkan makanan. Kalau tidak bisa sediain daging, minimal ikan kek. Ini, tahu tempe terus sama sambal.”


Sarah berdiri tidak terima, dia ingin membalas celotehan suaminya, “Eh, apa kau pikir hanya kau saja yang bekerja? Aku juga bekerja! Aku juga butuh uang. Kalau kau mau ikan atau daging, kasih lebih dari 50 ribu dong!”


Perdebatan mereka tidak ada hentinya. Suami isteri yang sudah menikah 3 tahun dan masih belum dikaruniai anak.


Jordy akhirnya mengalah. Dia pergi keluar dari rumah membiarkan Sarah yang masih dongkol padanya.


“Suami tidak tahu diri! Mati aja sana!”


Kembali pada Abraham dan Bellova.


“Ini kau yang menulisnya?” Abraham sedang melihat hasil tulisan dari isterinya. Duduk disofa empuk, ruang santai dengan camilannya bolu pandan dan bandrek.


Bellova menganggukkan kepalanya, “Iya, masih jelek kan.”


“Enggak kok, siapa yang bilang ini jelek?”


“Tapi kata Bu Sarah tulisannya….”


“Apa? Dia bilang apa?”


‘Dia bilang seperti cakar ayam, tapi aku tidak bisa mengatakan itu.’


“Tidak, tidak apa-apa. Dia hanya mengatakan untuk lebih rajin lagi menulis.”


“Sekarang kan, tidak terlalu membutuhkan tulisan tangan. Apa-apa sekarang sudah main ketik, mau di handphone, laptop, email, tidak masalah kan? Yang penting sudah bisa menulis dan masih bisa dibaca, tidak apa-apa.”


Bellova senang mendapat dukungan seperti itu dari suaminya. Lebih menenangkan perasaan.


Bellova ragu-ragu untuk menjawabnya.


“Mm, itu, buahnya..”


Abraham mengernyitkan dahinya.


“Buahnya sudah habis,” dia melirik Abraham, melihat reaksinya diam-diam.


“Ha… habis?” Abraham terkejut.


“Tapi kan ada banyak? Mangga, jeruk, Pir? Habis semua?”


Wajah Bellova murung takut dimarahi.


‘Bukankah baru kemarin kita beli banyak buah?’


“Hah, ya sudahlah. Kalau kau menghabiskannya aku tidak masalah, tidak usah dipikirkan.”


“Sebenarnya bukan aku yang menghabiskannya, tapi… tapi Bu Sarah. Katanya dia suka, dan mau membawanya. Aku pikir dia mau ambil sedikit saja, ternyata dia ambil semuanya.”


“What? Guru itu?” Abraham hampir tidak percaya.


‘Padahal kemarin seperti tidak menginginkan apapun. Apa karena dia malu-malu.’


“Oke, oke. Besok kita akan membelinya lagi.”


“Besok? Jam berapa?” Bellova tertarik.

__ADS_1


“Mm, sore mungkin sekitar jam 4 sore. Pulang kerja aku langsung menjemputmu.”


Bellova senang mendengarnya.


‘Lihat wajahnya itu. Tadi aja kayak bocah yang takut dimarahi melakukan kesalahan.’


***


Abraham dan Arshinta sedang berbicara melalui handphonenya.


“Gimana Kak? Gurunya cocok?”


“Entahlah. Tapi Bellova tidak mengalami masalah.”


“Kalau tidak suka, pecat saja. Tidak usah hiraukan  aku.”


“Kalau aku memecatnya, berarti itu salahmu juga Shinta.”


“Loh?”


“Iya kan? Kau yang menawarkannya padaku.”


“Hm, sebenarnya ada salah satu guru disini yang menawarkannya padaku, katanya lagi butuh kerja tambahan, makanya aku menawarkannya lagi padamu Kak,”


“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apa pacarmu itu memperlakukanmu dengan baik?”


“Tentu saja dong. Tadinya, kami ingin segera menikah, tapi karena kasus papa, jadi dipending dulu.”


“Memangnya tidak apa-apa? Apa Satmaka bisa menunggu? Karena sepertinya ini masih lama urusan papa.”


“Tidak, justru dia yang mengatakan itu padaku.”


“Oh ya? Bukan karena dia memiliki wanita lain kan?” canda Abraham.


“Ish, apaan sih Kak, ya gak mungkinlah.”


“Ya bisa saja kan. Tapi kalaupun ada, akan aku lempar dia ke jurang.”


“Ck, kejam. Hati kami sudah terikat erat loh Kak. Kakak tahu kan, kalau kami sudah dekat dari kecil?”


“Iya, iya, aku tahu Adikku.”


“Terus kalian kapan punya anak?”


“Apa??” Abraham terkejut.


“Anak! Itu salah satu tujuan untuk menikah kan? Jadi, kapan kalian akan memberikan kami keponakan?”


“Kak? Kau masih dengar kan?”


“Iya.”


“Jangan menundanya, cepat bikin anak! Jangan pura-pura tidak dengar! Kalian nikah sudah berapa bulan? Harusnya kakak ipar sudah ngisi tuh.”


“Ssshh, sudahlah, lain kali saja membahasnya.”


“Kapan?”


“Bawel ya, Mama saja tidak menanyakan itu.”


“Itu karena-

__ADS_1


“Shinta, ada penjahat yang baru masuk, sudah dulu ya!”


Klik!


__ADS_2