I Love U Honey

I Love U Honey
Pemindahan Penjara


__ADS_3

“Bagaimana perasaan anda didalam sana?” Irwan bertanya pada Lucifer.


“Biasa saja, memangnya kau berharap apa?” jawab santai Lucifer.


“Pft,” Adley menahan tawa. Irwan menoleh melihat Adley yang menyembunyikan wajah. Irwan tidak tahu, kalau Adley, Venom dan lainnya adalah anak angkat Lucifer, yang dia tahu, hanyalah hubungan Abraham dan Lucifer.


“Ekhem, Komisaris Abraham, kenapa si penjahat ini memiliki sel terpisah dari tahanan yang lain?” ditanya seperti itu, tahanan yang lain seperti tahu apa maksud dari Irwan, mereka tidak mau kalau sampai disatukan dengan Lucifer, karena takut.


“Karena dia adalah ‘Penjahat’ terkenal, tentu saja kita harus memisahkannya dari tahanan biasa, supaya tidak menimbulkan keributan.” Abraham menekankan kalimat ‘Penjahat’.


“Tidak ada peraturan seperti itu kan? Satukan mereka,” perintah Irwan. Abraham menatapnya tajam,  “Jangan melihatku seperti itu pak Komisaris, saya adalah atasan anda, anda tidak lupa kan?”


“Tentu saja saya tidak lupa, Pak Jendral.”


“Bagus, sekarang keluarkan si Pembunuh ini, satukan dengan tahanan lainnya,”


Abraham menatapnya dengan tajam, berdiri dalam diam. Dilihatnya Papanya, Lucifer menganggukkan kepala.


“Baiklah Pak Jendral,” Abraham berjalan ingin membuka sel Lucifer. Irwan jaga jarak, agar tidak mendapat pukulan atau serangan dari Lucifer, dia sadar, karena dialah makanya Lucifer ditangkap.


Abraham sendiri yang memindahkan Lucifer, menyatukannya dengan tahanan lain. Irwan melihat, isi dalam sel Lucifer terlihat sangat nyaman, dan lengkap dengan selimut juga bantal, meski masih memekai tikar lantai, tidak terlalu tipis.


“Ck, ck, ck, luar biasa sekali, hanya karena dia adalah orang tua anda, anda memperlakukannya dengan khusus ya.” decik Irwan.


Abraham mengabaikan.


Saat Lucifer disatukan dengan tahanan lain, para tahanan menundukkan kepalanya, seakan menghormati


kehadiran Lucifer, membuat Irwan semakin kesal.


“Anda sudah puas kan Pak Irwan?”


“Belum! Saya dan masyarakat diluar sana belum puas sampai penjahat ini dihukum berat, lebih baiknya lagi hukuman mati.”


Benar-benar Abraham harus sangat bersabar. Didepannya sendiri, ada orang yang mengatakan dengan


gamblang untuk kematian papanya.


“Yah, anda benar. Saya juga akan menangkap semua penjahat, baik yang sedang ‘bersembunyi’ dan tidak.


Dalam waktu dekat ini, semuanya akan selesai. Jadi, anda tidak perlu khawatir dengan keamanan negara ini, kita hanya menunggunya saja.” ucap Abraham tersenyum sinis.


‘Rasakan!’ batin Adley.


“Bagaimana dengan puteri anda? Apakah sudah ditemukan? Kenapa anda begitu tenang sekali, seakan tidak masalah jika anak anda tidak terlihat?” sindir Abraham.


“Apa? Apa kau sedang mengancamku?”


“Apa anda merasakan seperti itu? Kalau benar anda merasa seperti itu, bukankah itu benar?”

__ADS_1


***


“Hahaha, jadi orang itu datang kesini?” tawa Denis. Setelah kepergian Irwan, Denis datang, hanya selang satu jam kemudian.


Bukan Abraham yang menceritakannya, melainkan Adley. Denis tertawa keras membayangkannya.


“Benar kan yang aku katakan, kalau orang gila itu pasti meminta Papa Lucifer dipindahkan.”


“Iya, pindahnya bukan cuma sel saja, tapi kantor tempat penahanannya juga, tidak boleh disini.” Ucap Abraham.


“Ya sudah, ayo kita lakukan itu. Kita ikuti caranya dia.”


“Lalu, bagaimana dengan puterinya?”


“Si Angela? Anak orang gila itu? Dia masih aman. Tenang saja,” tentu saja Angela tidak bisa melawan Denis. Setiap dia memeriksa Angela, pasti akan mendapatkan siksaan dulu dari Denis.


“Apa isterimu akan datang?”


“Kenapa kau menanyakan isteriku?” setiap pembicaraan Denis tentang isterinya, pasti Abraham marah.


“Karena aku tertarik!” Denis menjawab dengan lugas, tidak terlihat sedang bercanda.


“Denis, perhatikan bicaramu!” peringatan dari Lucifer yang mendengar.


“Eh? Papa-


Plak!


“Loh, kenapa memangnya? Adley dan Leo saja bisa, kenapa aku tidak?”


“Kau berbeda!”


“Apa perbedaannya? Apa karena aku mengatakan tertarik pada isterimu?” wajah Denis menantang kemarahan Abraham.


“Denis, berhentilah memancing kemarahan Pak Abraham,” Adley menengahi.


“Pak Abraham, jika ada waktu, bagaimana kalau kita bertanding? Tinju misalnya, kau bisa kan? Atau, kau


bebas-


“Aku terima!”


Semua terkejut dengan jawaban Abraham.


“Bram, jangan terpancing dengan si Denis itu.”


“Tidak apa-apa Pa, aku jadi punya alasan dan kesempatan untuk memukul wajahnya.”


Denis tersenyum, wajah Abraham datar.

__ADS_1


***


Satu bulan kemudian, Lucifer di pindahkan ke kantor polisi lain, bukan ditempat Abraham lagi. Untungnya ini adalah termasuk rencana Denis sehingga mereka semua tidak terkejut.


“Hari ini kan pemindahan tahanan dari si Bos Mafia itu?”


“Benar, kalau tidak salah namanya Lucifer.”


“Aku penasaran bagaimana dengan wajahnya, apakah benar yang dikatakan orang-orang tentang kejahatan dan kesadisannya?”


“Kalau sadisnya, aku yakin itu benar.” Obrolan petugas kepolisian di kota T, jauh dari tempat Abraham.


“Kapan sidangnya dilakukan ya?”


“Entahlah, mereka juga sedang menyiapkan bukti-bukti kejahatan Lucifer. Karena ada rumor juga yang mengatakan kalau Lucifer itu bukan orang yang jahat. Tapi yah, kita tidak tahu kan mana yang benar, kita bisa lihat saja dulu setelah dia datang.”


Tiba-tiba terdengar keramaian diluar kantor. Beberapa mobil juga baru saja parkir, mobil yang membawa Lucifer. Untuk membawa satu tahanan itu dibutuhkan sampai 5 mobil untuk mengawalnya agar tidak ada anak buah Lucifer yang mencoba untuk menyerang mereka.


Wartawan berebutan untuk mengambil foto dan video tentang kedatangan Lucifer, si Bos Mafia itu.


Plak!


Salah satu kamera milik wartawan mengenai kepala Lucifer. Wajah si wartawan kelihatan sangat ketakutan apalagi langsung mendapatkan tatapan tajam dari Lucifer.


Agus, yang memimpin perpindahan Lucifer, melihatnya dengan senang. Sengaja dia membiarkan wartawan


mengerubuni Lucifer, apalagi kedua tangan Lucifer diborgol.


“Kalian sekarang jangan khawatir, karena penjahat yang sangat kejam ini sudah ditahan dan sebentar lagi akan mendapatkan hukuman yang sangat berat.” Ucapnya menunjuk Lucifer. Walau cahaya kamera dari wartawan mengarah diwajah Lucifer, tidak membuatnya silau. Pria tua itu berdiri dengan tenang tanpa ada rasa takut diwajahnya.


Tak bosan-bosannya si Agus tersenyum menyeringai melihat Lucifer, pikirnya, ini adalah titik akhir dari Lucifer.


Akhirnya Lucifer dimasukkan kekantor polisi, dimana sudah ada banyak petugas kepolisian yang menunggu didalam. Mereka sangat penasaran dengan Lucifer.


“Ya ampun, dia adalah Bos Mafia itu?” bisik petugas polisi yang berdiri dipaling belakang.


“Iya, kau benar. Aduh, kenapa aku merasa panas ya?”


“Apa karena orang itu ada disini?”


Karena kedatangannya, banyak yang berjaga-jaga dan tidak nyaman.


“Apa benar dia datang seorang diri? Aku dengar dia punya banyak anak buah.”


“Tapi, memang benar hanya dia saja yang datang, kemana anak buahnya yang mendunia itu?”


Di sisi lain, Revand dan Vicky sedang mengatur rencana. Atas keinginan Audrey, dia juga ingin membantu dan bersedia menjadi saksi untuk menolong Lucifer.


Abraham dan yang lainnya berusaha menenangkan Eva, isteri Lucifer. Mereka memintanya untuk mempercayakan semuanya pada anak-anaknya.

__ADS_1


Dan di sisi Irwan, semakin bahagia karena rencananya akan tercapai. Bukan hanya Lucifer yang ingin dihancurkan, Abraham juga menjadi sasaran Irwan.


__ADS_2