I Love U Honey

I Love U Honey
Pembalut


__ADS_3

“Sudah pergi?”


“Sudah Pak.”


“Akh, berisik sekali mereka, apalagi siapa namanya tadi..?”


“Pak Anwar.”


“Nah, iya, itu dia.” Abraham menjentikkan jarinya didepan Ridwan.


“Panggilkan Dokter,” suruh Abraham sambil membuka ponselnya.


“Ya? Untuk siapa Pak? Apa anda sakit?”


“Bukan untukku, tapi untuk Pak Ilham tadi.”


“Loh? Kenapa-


“Ck, ada apa sih hari ini? Kenapa ada saja orang yang menyela perkataanku yang belum selesai?” dia melihat Ridwan, emosinya mulai naik lagi.


“Ba… baik Pak,” Ridwan meninggalkan Abraham sendirian diruangannya.


“Kau dimana Dley?”Abraham berbicara pada Adley melalui ponselnya.


“Saya sedang dilapangan Pak, ada apa?”


“Apa yang kau lakukan?”


“Memeriksa lokasi restaurant milik Nona Monik, saya juga bersama dengannya. Apa ada yang anda butuhkan?”


“Tidak, tidak, tidak ada. Lanjutkan tugasmu, jangan terlalu fokus pacaran.”


“Apa? Pacaran? Siapa yang-


Klik!


Abraham menutup teleponnya.


“Ada apa? Apa itu Pak Abraham?” tanya Monik yang mendengar suara Abraham.


“Iya, itu dari Pak Bram,” Adley memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


“Apa yang dikatakannya? Apa anda mau kembali kekantor?”


“Tidak, dia hanya menyuruhku untuk tidak terlalu fokus pada pacaran saja.”


“Apa? Pacaran?” Monik terkejut.


“Anda terkejut kan? Sama, saya juga sangat terkejut dia mengatakan seperti itu. Ada-ada saja,” Adley menggelengkan kepala, tidak percaya kalau atasannya menebak seperti itu.


“Nona Monik, bagaimana kalau kita..? Ada apa dengan anda?”


Monik diam.


“Nona Monik? Hey, apa anda baik-baik saja?” Adley melambaikan tangan didepan waja Monik karena diam terus.


“Oh? Iya? Kenapa Pak Adley? Anda bicara apa?” Monik tersadar, kaget.


“Apa anda baik-baik saja?”

__ADS_1


“I… iya, saya baik-baik saja kok.”


“Tapi wajah anda merah, anda yakin baik-baik saja?”


“Iya, saya baik-baik saja. Ekhem, sebaiknya kita lanjutkan lagi pekerjaan kita,” Monik mengalihkan topik.


“Baiklah, selanjutnya ayo kita kesana,” ajak Adley.


***


Abraham dan Ridwan sedang melihat Aditya memeriksa luka dari Pak Ilham.


“Bagaimana lukanya?”


“Luka dikakinya sudah lebih dari dua hari, terlihat ada yang sudah mulai mengering, dan ada luka yang baru lagi. Tapi yang jelas, Bapak ini sudah digebukin dulu disana sebelum dibawa kesini.” Ucap Aditya membereskan perlengkapan medisnya.


“Dia kenapa? Apa ada yang memfitnahnya?” tebak Aditya.


Ujung bibir Abraham terangkat sebelah, “Hm, kau menyadarinya,”


“Tentu saja. Mungkin karena aku akan menjadi iparmu, jadi kecerdasanmu mengalir di-


“Bulshit! Sudahlah, kau kembali sana!”


“Loh, kok jadi seperti ‘Habis Manis, Sepah Di Buang’, ya.”


“Ridwan!”


“Siap Pak!” Ridwan sudah tahu harus berbuat apa.


“Oke, oke, aku akan pergi. Ya ampun, tidak ada harga diri sekali Dokter ini ya,” gerutu Aditya.


Tinggallah Abraham dan Pak Ilham. Komisaris itu masih berdiri memperhatikannya.


“Kenapa kau mencongkel kotak amal itu?”


Ilham tidak langsung menjawabnya, masih ragu.


“Kenapa diam? Apa anda pikir aku tidak akan percaya?”


Karena merasa ditebak benar, Ilham mengangkat wajahnya melihat Abraham.


“Sebenarnya, bukan saya yang mencurinya, Pak. Anda pasti bosan mendengar ucapan seperti ini yang keluar dari mulut yang dituduh.”


“Kau tahu? Kalau aku bertanya secara pribadi seperti ini, itu artinya aku tidak percaya mereka yang membawamu kesini. Makanya, katakan padaku yang sebenarnya, jangan ada yang kau tutupi.”


Ilham mulai menceritakan kejadiannya.


“Pak Anwar yang memegang kunci kotak amalnya. Saat itu, dia menemui saya karena katanya kunci kotaknya masuk kedalam kotak amal, makanya tidak bisa dibuka dari luar.” Mulai dari sini, Abraham mengernyitkan keningnya.


“Dia menyuruh saya untuk membuka paksa kotaknya dari luar menggunakan cairan keras penghancur besi. Awalnya saya tidak mau melakukannya, tapi karena dia menjanjikan akan meminjamkan saya uang untuk pengobatan anak saya, saya melakukannya. Saya tidak menyangka kalau dia menipu saya dengan merekam aksi itu.”


“Kenapa anda melihat kekiri dan kekanan dalam video itu?”


“Itu karena Pak Anwar memberi kode, menunjuk kekiri dan kekanan, saya tidak mengerti untuk apa.


Besoknya, dia dan warga lainnya datang memukul dan menuduh saya mencuri. Tapi saya bersumpah, saya tidak mencurinya Pak. Meski saya butuh uang, saya tidak akan melakukannya.” Ilham berharap agar Abraham percaya padanya. Dari wajahnya yang awalnya menyerah, mulai memiliki harapan yang besar.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


“Pak, saya bawa makanannya,” Ridwan datang membawa plastik isi bungkusan makanan.


“Berikan padanya,” ucap Abraham. Dia berjalan keluar sambil mengeluarkan ponselnya.


‘Kenapa dia belum datang? Padahal aku sudah lapar sekali.’ Ucapnya dalam hati.


‘Apa terjadi sesuatu padanya?’


“Pak, apa anda sedang menunggu Nyonya Bellova?” Ridwan keluar menemui Abraham setelah memberi makananan untuk Pak Ilham.


Abraham hanya melihat Ridwan tanpa menjawab. Dari reaksi wajahnya, sudah terlihat jelas jawabannya.


“Anda jangan khawatir Pak, tadi saya lihat Nyonya ada di Minimarket didepan sana,” ucap Ridwan


memberitahukan meski tidak ditanya.


“Di sana? Ngapain dia kesana?”


“Saya tidak tahu jelasnya apa, nah itu Nyonya sudah datang, silahkan anda tanyakan saja langsung,” Ridwan pergi meninggalkan Abraham saat melihat Bellova sudah datang.


“Bram,” Bellova melambaikan tangan tersenyum pada suaminya yang sedang berdiri disisi pintu menunggunya.


Saat isterinya ingin menyeberangi jalan…


“Awas!!” teriak Abraham merentangkan satu tangannya karena terkejut. Untung saja Bellova cekatan sehingga terhindar dari kecelakaan tabrakan.


‘Malah Tersenyum lagi, apa dia pikir kalau dia tersenyum aku tidak akan marah?’


“Bram, kenapa kamu disini?”


Abraham masih kesal.


“Kamu marah? Kenapa? marah pada siapa?” Bellova masih bertanya sambil melihat wajah Abraham yang mengabaikannya.


“Apa kamu menunggu lama? Kamu sudah lapar sekali?” tanyanya lagi, memegang bahu suaminya.


Karena melihat usaha isterinya yang terus mengajaknya bicara, akhirnya dia menoleh melihat Bellova yang masih seperti tidak terjadi apa-apa. Dia kesal karena isterinya sering sekali tidak melihat kiri kanan jalan.


“Lain kali, kalau mau menyeberang, lihat kendaraan dulu, ada yang lewat atau tidak.”


“Maaf, aku benar-benar tidak lihat. Aku pikir karena Bram sudah lapar jadi aku-


“Lebih baik aku kelaparan daripada kamu kecelakaan, didepan mata lagi.” celetuknya.


Barulah isterinya merasa bersalah. Dia menggaruk kepalanya, diam berdiri dibelakang Abraham.


“Kenapa kamu diam? Ayo masuk,” ajaknya. Sebelum masuk keruang kerja Abraham, Bellova melihat Pak Ilham, dia memberikan rasa hormatnya dengan tersenyum menganggukkan kepala pada Ilham, yang tentu saja, pria tua itu membalas dengan senyum ramah.


‘Apa dia isteri dari Pak Komisaris itu? Dia sangat ramah dan baik, terlihat dari wajahnya.’


“Kata Ridwan, kamu mampir ke minimarket ya?” tanya Abraham, mengangkat satu kursi untuk tempat Bellova duduk.


“Iya,” Bellova membuka bekal makanannya.


“Ngapain? Apa kamu memerlukan sesuatu?”


“Iya, ada keperluan pribadi yang harus aku beli.”


“Keperluan pribadi? Apa itu?” sambil mengisi dua gelas untuk minum mereka dari dispenser.

__ADS_1


“Pembalut.” Jawaban langsung tanpa malu-malu dari Bellova.


“What??”


__ADS_2