
“Stokkannya habis, jadi aku mampir dulu. Bram mau lihat?”
“Apa? Untuk apa aku melihatnya?”
“Siapa tahu kamu penasaran.”
“Hah, untuk apa aku penasaran sih Love, sudahlah kita makan saja dulu,” karena sudah lapar, dia ingin segera menyantap makan siangnya.
“Ada-ada saja, masa pembalut dikasih tunjuk, apa bisa dimakan?”
“Apa? Bram bicara apa?”
“Tidak Isteriku, aku cuma kumur-kumur saja tadi, makan yuk,” pura-pura tersenyum menghadapi pertanyaan isterinya.
“Kumur-kumur? Kenapa tidak-
“Aduh, udah dong bicaranya, sekarang kita makan saja, oke?”
“Iya,” Bellova menganggukkan kepala.
Abraham menggelengkan kepala melihat Bellova. Padahal dia hanya bicara sendiri, suaranya juga pelan tapi Bellova mendengarnya meski tidak mengerti kenapa suaminya bicara seperti itu.
***
“Papa,” Eva dan Denis berdiri saat Lucifer datang, keluar dari sel, dibawa salah satu petugas polisi.
Eva langsung memeluk suaminya, karena rindunya tidak bertemu beberapa hari.
“Sayang, apa kamu sakit? Kenapa terlihat kurus?” tanya Adam, duduk dihadapan Eva dan Denis.
“Iya, tapi hanya flu biasa saja kok. Aku rindu dan memikirkanmu. Berapa lama lagi sih Papa disini dan bisa pulang ke rumah kita lagi?” Eva menggenggam tangan Lucifer, diatas meja.
“Kamu harus menjaga kesehatanmu, kalau Mama sakit, Papa juga jadi kepikiran. Tolong jangan khawatirkan Papa, karena anak-anak kita selalu datang dan memperhatikan Papa kok. Papa tahu, kondisi kita sekarang ini seperti ini, tapi, sebenarnya ini jauh lebih baik. Coba Mama pikirkan? Kalau bukan Denis datang, pasti banyak yang akan di korbankan termasuk anak-anak kita.” Adam menenangkan isterinya. Dia mengusap wajah Eva yang hampir menangis.
“Mama takut kalau ada yang menyakiti Papa. Mama takut Papa disiksa disini.”
__ADS_1
“Hahaha, siapa yang berani? Walau suamimu ini sudah tua, kekuatan Papa masih sama seperti muda dulu. Semua orang disini perduli pada Papa, entah itu karena takut atau penasaran, intinya tidak ada yang menyakiti atau menyiksa Papa, percayalah.”
“Benar Mama Eva, jangan khawatir. Tinggal sedikit lagi kok, jadi Mama harus bersabar ya. Setelah ini, kalian akan bisa hidup bersama-sama lagi.” ucap Denis yang juga menenangkan Eva.
“Ekhem, begini Papa Lucifer dan Mama Eva, seperti yang waktu itu aku bicarakan, ini pasti membuat kalian untuk beberapa lama berpisah dulu. Karena untuk masa persidangan Papa Lucifer, akan diadakan dua bulan lagi.”
“Dua bulan lagi? Maksud Denis, suamiku tinggal disini selama dua bulan lagi?” Eva panik.
“I… iya, tapi itu sudah mendingan Ma. Karena biasanya ada 6 bulan untuk menunggu persidangannya, tapi aku sedang mengusahakannya paling lama dua bulan. Setelah semuanya beres, maka kasus Papa Lucifer akan masuk persidangan. Dan aku juga punya rencana,” sampai disini, Denis tersenyum melihat Adam dan Eva.
“Apa rencanamu untuk mengurangi hukumanku?”
“Bukan hanya itu.” wajah Denis terus tersenyum, seakan punya rencana yang belum bisa ditebak suami isteri itu.
***
Bellova dan Abraham sudah selesai makan. Bellova disuruh duduk saja, sedangkan Abraham membereskan dan menutup kembali bekal makan yang sudah kosong.
“Mm? kenapa kau menebaknya seperti itu?” Abraham menoleh melihat Bellova.
“Bram bilang, kalau bapak itu disuruh membuka kotak amal karena tidak ada kuncinya.”
‘Iya sih, aku bilang begitu.’
“Menurutmu, siapa yang salah? Siapa pencurinya?” Abraham menarik kursi untuk duduk didepan Bellova. Menunggu jawaban dan penilaian isterinya.
“Pak Anwar!” jawab Bellova yakin. Abraham mengernyitkan keningnya.
“Yakin banget?”
“Iya. Darimana Anwar tahu berapa jumlah uang yang hilang? Dan kalau kuncinya masuk kedalam kotal amal, kenapa tidak dia saja yang membuka kotak amal dengan memanggil beberapa warga sebagai saksi? Kenapa Pak Ilham yang disuruh dan malam-malam lagi.” dengan wajah polos, Bellova menjelaskan pendapatnya.
“Mungkin karena Pak Ilham niatnya jujur dan menganggap Pak Anwar akan membantunya meminjamkan uang, Pak Ilham percaya dan melakukannya. Bram juga pasti mikirnya begitu kan?”
__ADS_1
Bram, yang duduk mengangkat kaki menatap isterinya lekat-lekat.
“Kasihan sekali Pak Ilham. Pasti anak dan isterinya khawatir karena salah satu keluarganya difitnah dan masuk penjara. Apalagi anaknya sedang sakit. Aku jadi teringat dengan Ayahku. Dia pernah dituduh mencuri jagung dikebun, padahal Ayah saat itu hanya melewati kebun itu saja, tapi sudah dituduh mencurinya satu karung jagung. Akibat itu, Ayahku digebuki sampai kakinya pincang sebelah.”
Abraham kesal mendengarnya, tangannya dikepal, “Kenapa tidak dilaporkan pada Polisi?”
“Mana ada, bahkan yang punya kebun jagungnya juga tidak mau melaporkannya. Jadi, satu-satunya cara adalah merundingkan dengan kepala Lurah dan Rt. Ayah disuruh ganti rugi jagung satu karung. Kami sekeluarga tidak percaya Ayah melakukannya, tapi Ayah berani bertanggung jawab, meski tubuhnya sudah luka-luka karena pukulan mereka.”
“Hah, apa kau ingat wajah mereka? Mereka yang memukul ayah mertua?”
“Masih, tentu saja kami ingat.”
“Bagus, kalau begitu aku bisa memberinya pelajaran.”
“Tidak bisa!”
“Kenapa?”
“Karena 5 tahun yang lalu dia sudah meninggal. Dia dan isteri keduanya meninggal saat pergi ke kampung sebelah.”
“Pft, akhirnya kena karma ya,” Abraham menahan tawa. Antara lucu, lega dan sedih Abraham merasakan suasananya. Apalagi Bellova menceritakannya seperti berusaha menahan kejadian masa lalu yang menyedihkan. Bagaimana tidak, karena kejadian itu, ayahnya tidak akan pincang dan bisa berjalan dengan normal meski kedua kakinya masih utuh.
“Apa kau membenci mereka?”
Sebelum menjawab, Bellova menatap wajah suaminya, “Tentu saja. Anak mana sih yang tidak akan sedih, didepan matanya ayahnya dituduh dan dipukul? Meski ibu berteriak agar mereka berhenti, tapi tidak ada yang perduli, bahkan ibu juga sampai kena pukul dipunggungnya. Rasanya, saat itu aku ingin ambil batu untuk melempari kepala mereka sampai berdarah.” Saat Bellova mengatakan niat untuk memukul mereka, wajahnya terlihat sangat marah dan dendam.
Abraham tidak menyangka kalau dia akan mendengarkan kisah menyedihkan dari isterinya. Betapa berat kehidupan yang dijalani Bellova dan keluarganya.
“Untungnya, ayah dan ibuku panjang umur, dan mereka tidak. Mereka sudah menghadap Tuhan lebih dulu,” ucap Bellova penuh semangat dan tersenyum.
“Hah… iya, ya,” Abraham mengernyitkan kedua alis dan hampir tertawa mendengar ucapan Bellova. Lucu tapi seperti orang jahat yang bersembunyi dibalik senyumnya.
“Jadi, apa Pak Ilham akan dipenjara?”
Abraham berdiri dari kursinya, “Kan kamu sudah tahu kalau dia tidak bersalah, kenapa ditanya lagi?”
“Kan keputusannya ada di Polisinya. Terkadang, kebenaran akan dilupakan dan tenggelam, kalah dengan orang-orang yang lebih pintar, kaya dan memiliki hubungan dengan hukum.” Ucap Bellova bijak.
Plak!plak!plak!
__ADS_1
Abraham bertepuk tangan mendengar pendapat Bellova yang menurutnya luar biasa. Bukan sekali dua kali dia takjub dengan pendapat isterinya, tapi setiap berkomentar, Abraham tidak pernah tidak terkejut dan kagum.
“Luar biasa! Kamu benar-benar luar biasa!” puji Abraham, bertepuk tangan, menggelengkan kepala dan berdiri dihadapan Bellova.