
Yayasan cinta kasih milik Arshinta kembali beraktifitas, meski banyak murid-muridnya yang sudah tidak bersekolah lagi disana. Ada yang beberapa murid dan orang tuanya tetap bertahan di sekolah itu. Selain biaya pendidikan yang murah dan lebih banyak yang di gratiskan, mereka tidak perduli dengan rumor yang beredar. Selama yang mereka tahu kalau Arshinta orang yang baik dan perduli dengan masyarakat bawah. Begitupun dengan para pedagang, tetap mereka berjualan.
“Rul, ada berapa banyak murid yang datang?”
“Sekitar sepertiga dari jumlah pelajar awal Bu Shinta.”
“Tapi Bu Shinta, sebenarnya beberapa hari yang lalu, saat Ibu tidak datang kesini, ada beberapa orang tua mendaftarkan anaknya untuk sekolah disini.”
“Terus?” Arshinta sambil membuka catatan laporannya.
“Saya menyuruh mereka datang saat anda ada disini, dan mungkin besok mereka akan datang.”
“Oke, yang kau lakukan sudah benar. Apalagi waktunya hampir mendekati tahun pelajaran baru. Tapi, kau tetap harus memeriksanya dengan jelas ya, jangan asal menerima murid saja. Kalau terlihat mereka sangat kaya, abaikan! Aku tidak mau menerima siswa yang sombong dan nantinya malah buat onar disini. Kau lihat sendiri kejadian sebelumnya kan?”
“Iya Bu Shinta, saya mengerti.”
“Bagus, apa ada guru yang tidak datang?”
“Semua guru baru yang anda terima datang semua tanpa ada yang kurang.”
“Waw, luar biasa.”
“Benar Bu. Ternyata ada banyak yang masih mendukung dan percaya pada anda, dan saya salah satu yang
sangat percaya pada anda.”
Arshinta yang sedang menandatangani laporan, melihat Ruly, “Terima kasih ya Bu Ruly atas kepercayaannya,” ucap Arshinta tersenyum.
Benar kata Arshinta, tidak ada kerugian yang dirasakannya walau orang tua murid membawa anaknya keluar dari sekolahnya. Karena rata-rata murid yang keluar, adalah murid yang tidak berprestasi, songong dan sering membully murid-murid yang tidak mampu.
Dan yang tersisa, adalah siswa yang berprestasi, meski hampir dari mereka tidak membayar biaya apapun di sekolah itu, gratis.
Menjelang jam istirahat, Arshinta dan Ruly keluar dari ruang kerjanya untuk mengisi perut.
“Loh Rul, siapa mereka? Apa mereka mau mendaftarkan anaknya?”
__ADS_1
Ruly melihat ada beberapa orang tua datang dan membawa anak-anaknya. Karena Arshinta menyadari, mereka mendekati Arshinta.
“Selamat siang Bu Arshinta,” sapa mereka bersamaan sambil menganggukkan kepalanya. Tidak ada tanda-tanda ketidak sukaan dari wajah mereka, malah terlihat bersikap ramah dan sopan.
“Iya, selamat siang,” Arshinta tetap menjawab dengan rasa pensaran. Tatapannya diarahkan pada mereka satu persatu.
“Bu Arshinta, kami datang kesini untuk mendaftarkan anak kami disekolah ini.”
“Benar Bu,” awalnya satu Ibu saja yang berani bicara, lama kelamaan yang lainnya ikut nimbrung mengatakan tujuan kedatangan mereka.
“Oh begitu. Tapi, apa kalian tidak apa-apa mendaftarkan anak kalian ditempat saya? Kalian pasti sudah mendengar rumor saya kan?”
Sebelum menjawab pertanyaan Arshinta, mereka saling melirik dan tersenyum.
“Tidak apa-apa Bu. Kami sudah percaya dan yakin meletakkan anak kami di sekolah ini.”
“Bu Shinta, sebenarnya, saya tidak percaya dengan rumor itu, dan kalau pun itu benar, saya yakin kalian punya alasan untuk melakukannya.”
“Selama ini, saya dan yang lainnya sudah mendengar tentang kebaikan anda. Anda banyak menggratiskan biaya pendidikan anak-anak yang tidak mampu, anda juga tidak membeda-bedakan anak-anak disini.”
Ruly yang melihat dan mendengar obrolan itu tersenyum, ‘Saya benar-benar bangga dengan Bu Arshinta.’ Gumamnya dalam hati.
Mereka mengobrol sambil tertawa dan tersenyum, meski dalam keadaan berdiri. Bukan Shinta tidak menawarkannya, tapi para orang tua itu yang menolak, karena mereka merasa bersalah mengganggu waktu istirahat Arshinta.
“Ekhem, maafkan saya Bu Shinta menyela pembicaraannya,” seorang wanita mendehem menyela obrolan.
Semuanya melihat padanya, membuatnya gugup.
Irma, seorang pengusaha terkenal dan sukses datang bersama puteranya, Robert yang ikut berdiri bersama mereka.
“Nama saya, Irma. Saya datang kesini sama seperti tujuan mereka, ingin menyekolahkan putera saya.” Ucapannya membuat Arshinta melirik Robert, puteranya.
Setelah itu, Arshinta dan Ruly saling menatap, seperti berbicara tentang peraturan yang mereka bicarakan, yaitu menolak orang kaya untuk masuk ke sekolahnya.
“Saya tahu, kalau anda hanya ingin menerima murid-murid yang kurang mampu, dan mendaftarkan putera saya disini, adalah kesalahan.” Dengan gugup Irma bicara. Orang tua yang lain menatapnya sinis. Mereka tidak suka melihat Irma. Sebelum Arshinta datang, tidak ada yang mengajaknya mengobrol seperti yang lainnya, malah mencibirnya meski sudah ketahuan.
__ADS_1
Arshinta menyadari lirikan tajam dari orang-orang lain disana.
“Baiklah, siapapun yang ingin mendaftarkan anaknya disini, silahkan, tapi, saya punya cara sendiri untuk memutuskan menerimanya atau tidak.” ucap Arshinta tenang.
“Kalian bisa datang lagi besok ya, karena hari ini saya tidak bisa memberi keputusan, takutnya orang tua yang lainnya yang pernah datang sebelumnya akan merasa cemburu.” Arshinta mengatakannya dengan bijak. Harus berlaku adil.
“Apa saya juga bisa datang Bu?” tanya Irma meyakinkan. Dan lagi, mereka-mereka melihatnya dengan tajam, Arshinta menyadarinya.
“Iya, tentu saja. Anda datang bersama putera anda,” liriknya pada Robert. Jawaban Arshinta membuat Irma senang dan lega.
“Sekarang kalian pulang dulu, dan pikirkan lagi, apakah kalian masih yakin atau sudah berubah pikiran.” Suruh Arshinta.
“Kakak…” Raka datang berlari menuju Arshinta. Sambil merentangkan kedua tangan untuk memeluk Arshinta.
Semua melihat anak kecil yang lucu.
Arshinta jongkok, “Ya ampun Raka, kamu jangan berlari seperti ini, bagaimana kalau nanti kamu jatuh?” dia memeluk Raka. Karena kedatangan Raka, kumpulan itu bersikap santai, mengalihkan tatapannya pada Irma yang membuatnya tidak nyaman.
“Kami permisi dulu ya,” Arshinta berdiri dengan menggendong Raka yang masih memakai tas kecilnya.
Mereka hanya tersenyum mengangguk, melambaikan tangan pada Raka.
***
Di kota T, dimana Lucifer ditahan disana. Sedikit demi sedikit petugas kepolisian disana mulai tidak canggung lagi menghadapi Lucifer.
“Dia benar-benar berbeda.”
“Ya, aku juga merasakan seperti itu. Padahal, awal aku melihatnya saat tiba disini, lututku gemetar, tidak mampu berdiri dengan benar.”
“Ternyata, dia orang yang hangat, walau jarang berbicara.” Komentar dari polisi-polisi yang baru mengenal Lucifer.
Lucifer memang diletakkan bersama dengan tahanan lain dengan kasus pembunuhan, penculikan, dan kasus berat lainnya. Tidak ada perkelahian disana, justru mereka berusaha tidak cari masalah dengan Lucifer yang hanya duduk sambil membaca sebuah buku yang diberikan isterinya dengan menggunakan kaca mata.
Tapi setiap hari bahkan setiap jam ada saja wartawan dan orang-orang dari kepolisian cabang lain datang hanya untuk melihat seorang dari Bos Mafia, Lucifer. Atas perintah Abraham yang menghubungi mereka, meminta untuk melarang para wartawan dan orang yang tidak penting untuk bertemu dengan Lucifer. Tentu mereka akan menurutinya kalau jabatannya dibawah Abraham, tapi kalau diatas Abraham, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1