I Love U Honey

I Love U Honey
Tidak Salah Melihat Isteri Sendiri Kan?


__ADS_3

Abraham langsung mendaratkan pan**tnya disofa sambil memijit kepalanya.


Bellova merapikan belanjaannya yang sudah diletakkan suaminya kedapur.


Dilihat suaminya sangat kelelahan, dituangkan air dingin untuk Abraham.


“Ini, kamu minum dulu Bram,” ucapnya memberikan segelas air putih dingin.


Abraham yang sebelumnya menyandarkan kepalanya disofa, kearah langit rumah, mengangkat wajah melihat isterinya.


“Kalau kau lelah, istirahat saja dulu,” ujarnya, menerima minuman dari Bellova. Karena dia haus, gelas langsung kosong.


“Aku belum lelah kok. Apa kepalanya masih sakit?” tanya Bella, masih berdiri dihadapannya. Dia menerima gelas kosong dari suaminya.


Suaminya menjawab dengan anggukan kepala.


“Mau aku pijit?”


Dilihat isterinya sangat serius menawarkan pijatan, dia mempertimbangkannya sebentar.


“Tidak, tidak usah. Aku yakin kau juga sama capeknya. Kau duduk saja dulu disini, atau kalau kau mau tiduran, tiduran saja,” ajak Abraham, menepuk ruang kosong disampingnya.


Malu-malu, Bellova menundukkan wajahnya. Karena sudah tidak berdaya, walau bisa menyadarinya, Abraham hanya diam saja.


“Kalau begitu, aku mandi saja dulu. Mungkin kalau aku mandi, sakit kepalanya sudah hilang,” dia berdiri, masih memegang kepalanya.


Bellova tidak berkata apa-apa selain melihat Bram pergi membelakanginya, menuju tangga.


Bellova pun kembali ke dapur, untuk memasak makan malam mereka.


Dua jam kemudian, Bellova selesai memasak. Dia keluar dari dapur, ternyata suaminya masih belum datang. Dilepasnya celemek dan pergi kekamar untuk menjemput Bram, makan malam bersama.


Tok! Tok! Tok!


“Bram, ayo makan malam dulu,” panggilnya dari luar kamar sembari mengetuk pintu.


Tidak ada jawaban.


Bahkan ketukan berikutnya pun masih juga tidak ada jawaban.


Bellova akhirnya membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.


Ternyata Abraham sudah tertidur di tempat tidur dan sudah selesai mandi. Bellova berjalan mendekatinya.


Walau matanya terpejam, tapi terlihat kalau pria itu mengernyitkan kening, tidak nyaman.


‘Apa kepalanya masih sakit?’


Diletakkannya telapak tangan untuk memeriksa kening suaminya, “Aku tidak demam Love,” tiba-tiba terdengar suara dari suaminya, tapi matanya masih tertutup.


Mendengar itu, Bellova langsung mengangkat tangan dan terkejut.

__ADS_1


Abraham membuka mata, bangun dari ranjang sambil melihat isterinya. Dia duduk bersandar di kepala ranjang.


“A-anu, makan malamnya sudah siap.”


“Kau sudah mandi?”


“Hah? Be-belum. Apa aku bau?” dia mencium pakaiannya.


“Pft, bukan, bukan seperti itu. Aduh, sudahlah. Kau mau mandi dulu atau makan malam?”


Isterinya menggaruk ujung hidungnya, “Mm, aku mandi saja dulu. Tapi kalau Bram mau makan duluan-


“Ya sudah, segera mandi, aku akan menunggu disini.” Selanya sambil membaringkan dirinya lagi.


“Tapi Bram pasti lapar. Makanannya-


“Cepat mandilah. Kepalaku semakin sakit kalau berdebat denganmu.” Ucap Bram, memejamkan mata.


Bellova langsung masuk ke kamar mandi saat mendengar suaminya mengatakan kepalanya bertambah sakit.


Mendengar suara pintu ditutup, Abraham menghela napas, dan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Hampir 20 menit, Bellova baru selesai mandi.


“Aduh, aku lupa membawa pakaian ganti. Gimana nih?” hanya ada handuk yang tersedia didalam kamar mandi. Pakaian yang dipakai sebelumnya juga sudah basah dan kotor, tidak mungkin dipakainya walau hanya sebentar.


“Apa Bram masih tidur?” pelan-pelan dia membuka pintu kamar mandi dan mengintip.


Ujung kaki Abraham terlihat diatas tempat tidur, “Ternyata dia masih tidur. Kalau begitu aku bisa keluar pelan-pelan. Ambil pakaiannya dan masuk lagi ke kamar mandi.” Ucapnya yang sudah melilitkan handuk putih ditubuhnya, yang hanya bisa menutupi bagian dada dan sebatas pahanya saja. Karena handuknya tidak panjang.


Sekarang dia sepenuhnya sudah keluar dari kamar mandi. Sambil melirik lokasi Abraham yang masih berbaring dan menutup mata.


‘Hm? Wangi apa ini? Wanginya sangat enak dan segar.’ Ucap Abraham dalam hati, matanya masih tertutup.


Saat Bellova membelakangi Abraham, suaminya membuka mata pelan-pelan. Ternyata isterinya berada didepan lemari, didepannya juga.


‘Waw, ternyata baunya dari dia.’ Ucapnya dalam hati.


Bellova membalikkan badan ingin melihat Abraham. Suaminya menutup matanya langsung agar tidak ketahuan.


‘Kenapa aku harus menutup mata? Apa salah kalau melihat tubuh isteri sendiri?’


‘Tidak!Kalau dia tahu aku melihatnya, dia pasti merasa sangat malu dan bisa saja dia menangis.’


Bellova ingin mengambil pakaian lainnya di tingkat dua. Membuatnya sedikit membungkuk, membelakangi Abraham. Hanya sedikit saja bungkuknya.


Yakin isterinya tidak melihatnya, dia membuka matanya lagi.


Baru hanya melihat punggung isterinya, Abraham sudah menelan ludah.


‘Pft, apa yang aku pikirkan.’ Dia tersenyum sendiri.

__ADS_1


‘Aku merasa bersalah karena mengintipnya.’


Semua pakaiannya sudah didapatkan. Bellova kembali ke kamar mandi untuk memakainya. Langkahnya juga pelan-pelan agar suaminya tidak bangun. Kalau dia sudah memakai pakaian lengkap, tidak masalah seandainya suaminya bangun.


‘Apa kau pikir aku masih tidur?’


‘Hm, kenapa kau tidak memakai pakaianmu disini saja.’


‘Ya ampun! Apa yang aku ucapkan?’


Setelah pintu kamar mandi kembali tertutup, Abraham membuka matanya. Menghela napas dan tersenyum.


“Aku harus keluar dari kamar ini.” Akhirnya Abraham turun dari ranjang dan keluar dari kamar.


Dia berjalan sendiri menuju ruang makan.


“Loh? Kok Bram tidak ada? Apa dia sudah turun?” sudah berpakaian lengkap dan keluar dari kamar mandi. Tidak melihat Abraham di ranjang.


“Sejak kapan dia keluar?”


Bellova segera keluar dari kamar.


Sedangkan Abraham sudah menunggu dikursi meja makan. Belum ada makanan atau piring diatas meja, masih menunggu isterinya datang. Melipat kedua tangan didepan dada, teringat sesuatu.


“Kamu sudah disini Bram? Aku pikir masih di kamar.”


Abraham melihat isterinya yang baru datang.


‘Kenapa dia melihatku seperti itu?’ gumam Bella dalam hati.


“Aku siapkan makan malamnya ya,” karena malu, Bellova ke dapur menyiapkan dan mengeluarkan masakannya.


Abraham masih duduk, melihat isterinya masuk ke dapur.


Satu persatu hidangan diantar ke atas meja. Walau hanya mereka berdua yang makan, tapi banyak menu hidangan diatas meja, karena mereka juga suka makan.


Abraham memperhatikan dari pinggang sampai kaki isterinya yang terlihat jelas karena isterinya memakai pakaian tidur, dengan celana pendek.


Tidak ada yang mau di keluarkan lagi, Bellova duduk disampingnya. Piring suaminya diisi lebih dulu. Karena sudah tahu seberapa banyak nasi yang diinginkan suaminya, Bellova tidak perlu menanyakannya lagi.


“Bram? Ada apa? Kenapa dari tadi kamu melihatku seperti itu?”


“Hm? Kenapa?” Abraham baru tersadar setelah isterinya memanggilnya.


“Apa kepalamu masih sakit?”


“Kepalaku?”


“Iya, kalau masih sakit, habis makan aku akan memijit kepalamu.”


Abraham diam memikirkannya, “Hm, baiklah.” jawabnya.

__ADS_1


‘Padahal kepalaku tidak sakit lagi sih. Tapi tidak apa-apa kan? Lagipula isteriku yang memijitku, bukan orang lain.’


Mereka berdua akhirnya makan malam bersama. Setelah seharian keluar dari rumah dan terasa sangat melelahkan. Apalagi Abraham, setengah hari yang lalu berada di kantor polisi dengan mengatasi berbagai kasus kejahatan baru. Lalu melanjutkan menemani isterinya. Yang awalnya hanya berbelanja buah dan pikirnya tidak memakan banyak waktu, malah sudah hampir malam baru bisa tiba dirumah.


__ADS_2