I Love U Honey

I Love U Honey
Pelecehan


__ADS_3

“Sayang, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah sedikitpun denganmu.”


“Aku juga mencintaimu, maafkan aku karena tidak percaya dengan cintamu sebelumnya.”


“Tidak apa-apa Sayang, yang penting sekarang kau percaya, betapa besar dan tulus cintaku padamu.” Itu adalah bagian dialog dari para pemain film yang Abraham dan kawan-kawan tonton. Sepasang suami isteri yang mengatakan perasaan cintanya sambil berpegangan tangan.


‘Hah, film apaan sih ini? Lebay banget mereka,’ gerutu Abraham menyandarkan dagu pada tangannya.


Wajahnya terlihat sangat bosan. Diliriknya Arshinta, Ina dan lainnya. Pikirnya, pasti yang lainnya akan berpikir sama seperti apa yang dia pikir,terutama Aditya dan Satmaka.


‘Ya ampun, dua pria itu kenapa serius sekali menontonnya, apa mereka baper?’ gumamnya dalam hati, menggeleng-gelengkan kepala seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.


Hanya Abraham yang bosan tidak tertarik dengan jalan cerita, walau tidak sampai membuatnya mengantuk dan tertidur.


Adegan berikutnya, sepasang suami isteri itu berpelukan sambil menangis.


Terdengar suara tarikan hidung dari Arshinta dan Ina. Abraham tercengang tidak percaya.


Diliriknya Bellova, pikirnya isterinya tidak menangis karena tidak ada suara yang sama seperti Arshinta dan Ina.


Dia semakin kaget, karena mata Bellova sudah berkaca-kaca, bibirnya bahkan bergetar karena tersentuh dengan jalan cerita film.


“Hah,” hembusan napas sambil menutup wajah dengan tangannya.


“Sayang, aku ingin menciummu, apa boleh?” tanya si pemeran laki-laki pada pasangannya. Isterinya mengangguk, artinya suaminya bisa menciumnya.


Adegan berikutnya adalah saat suami isteri itu berciuman menyentuh bibir mereka.


Ciumannya sangat dalam dan lama. Para penonton disana ikut terbawa suasana adegan sehingga mereka ikut mencium pasangannya masing-masing. Walau Arshinta dan yang lainnya datang bersama dengan pasangannya, tidak bisa mereka lakukan.


‘Untung saja Rakha sudah tidur,’ ucap Arshinta dalam hati melirik Rakha dalam pangkuannya.


Abraham penasaran dengan reaksi isterinya.


“Pft,” tiba-tiba suami Bellova itu malah hampir tertawa. Abraham lucu karena wajah Bellova berkeringat bukan karena kepanasan karena suhu didalam ruangan bioskop itu sangat dingin.


Untung saja tidak ada yang menyadari Abraham.


‘Lucu banget sih, wajahnya sampai memerah gitu.’


Abraham tidak mau mengganggu keseriusan mereka saat menonton. Meski tidak suka, dia hanya duduk dengan ekspresi datar, paling yang diliriknya adalah isterinya saja.


Bellova merasa ada yang aneh dikakinya. Seperti ada yang menyentuh kulit kakinya. Bellova menundukkan kepalanya untuk melihat, ternyata rok panjang yang dikenakannya terangkat naik sedikit, lalu turun lagi. Sedangkan pria yang duduk disampingnya malah tersenyum nakal menatapnya jelas.


Tidak mau memperbesar masalah, Bellova menggeserkan kakinya kearah Abraham, lalu kembali fokus pada layar bioskop.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara suatu benda yang jatuh. Pria disampingnya menunduk untuk mengambil barangnya yang terjatuh, Bellova sempat melihatnya. Bukannya malu, pria itu malah mengeluarkan lidah dan menjilat bibirnya sendiri pada Bellova, tentu saja Bellova risih dan mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Karena tidak ada perlawanan dari Bellova, pria itu semakin memberanikan aksinya. Tangannya masuk kedalam rok Bellova dan mengusap-usap betis wanita itu.


“Aaakkhhh….” Teriak Bellova mengangkat kakinya, pria itu langsung membenarkan posisi duduknya.


Karena suara teriakan Bellova, penonton yang lain terkejut dan melihat kearahnya.


“Ada apa Love?” tanya Abraham yang duduk disampingnya.


“Bram, dia… dia memegang kakiku,” tunjuk Bellova pada pria yang masih diam duduk disampingnya.


“Apa? Apa yang anda katakan Nona, daritadi saya duduk seperti ini, apa yang saya lakukan?” pria itu mengeluarkan alasan berbohongnya.


“Enggak! Tadi kamu bungkuk-


“Nona, jangan berbicara yang aneh-aneh menuduh saya. Dari tadi anda sendiri yang melihat saya sambil tersenyum nakal, tapi saya diamkan saja karena tidak mau membuat pacar anda salah paham.” Pria itu mengucapkannya dengan wajah percaya diri, tidak takut sedikitpun.


Bellova melihat Abraham, berharap suaminya percaya.


“Bram, aku gak bohong, aku juga tidak tersenyum padanya, dia-


“Nona, apa anda mau mengatakan kalau saya mengangkat rok anda, alasan apa lagi yang ingin anda katakan?”


Bellova merasa tersudutkan, apalagi yang lainnya berbisik menjelekkan Bellova. Wanita itu panik.


Abraham berdiri, dan berjalan mengarah pria yang masih duduk dengan percaya diri tanpa merasa bersalah.


“Bangun kau!” kerah baju orang itu ditarik paksa oleh Bram.


“Apa yang anda lakukan? Lepaskan saya-


Brugh!


“Aaakkhh..” sekarang pria itu menjerit kesakitan karena wajahnya ditonjok sampai terjatuh. Akibat perkelahian itu, penonton tidak nyaman dan berdiri menghindari adegan berbahaya itu.


Teman dari pria yang melecehkan Bellova hanya diam tidak berani menolong rekannya karena ketakutan.


Sekali lagi, Abraham menarik kerah baju pria itu, mau tidak mau pria itu harus berdiri.


“Beraninya kau menyentuh isteriku!”


“Saya hanya memegang kakinya…,


Brugh!


Tidak dapat mengelak dari pukulan Abraham, apalagi pria itu tidak sengaja mengaku apa yang sudah dilakukannya.


“Tolong, kalian hentikan ini, jangan buat keributan,” ada sekitar 3 security datang untuk memisahkan perkelahian.

__ADS_1


“Rasain, makanya jangan punya pikiran cabul! Dasar mesum!” gerutu Ina. Mereka hanya diam membiarkan Abraham melampiaskan kemarahannya dulu.


Karena perkelahian itu membuat suasana gaduh, semua berlari karena si pria yang menjadi target Abraham berusaha berlari menyelamatkan diri.


“Mau kemana kau!! Kau pikir bisa lari dariku hah?” dengan cepat, Abraham sudah menarik baju pria itu dan melemparnya pada barisan kursi bioskop yang sudah kosong.


“Kakak ipar, kenapa tidak kau tenangkan suamimu itu?” tanya Arshinta santai.


“Biarkan saja, itu karena dia sudah berbohong, dan juga dia memang melakukan kejahatan kan.”


“Waw.”


Bellova puas melihat pria itu hampir mati digebukin suaminya.


Aditya dan Satmaka masih asik menonton film sambil mengunyah popcornnya.


***


Beberapa saat kemudian.


Abraham dan lainnya sudah berada diruang office bioskop. Pria yang menjadi bulan-bulanan Abraham sudah berdarah dan wajahnya hampir tidak bisa dikenali. Kalau tidak dipisahkan Bellova dan Arshinta, sudah pasti mati orang itu.


Karyawan yang bekerja di gedung bioskop itu menginterogasi mereka.


“Komisaris Polisi Abraham Evano Caesarius Rameses?” Manajer bioskop membaca kartu pengenal milik Abraham. Semuanya terkejut mendengar jabatan dari Abraham, apalagi pria yang sudah berani mengganggu Bellova.


“Anda… anda adalah-


“Sudah tahu kan? Kenapa bertanya lagi?” tanya sinis Abraham meminta dompetnya.


“Ma… maafkan kami Pak Abraham, kami-


Tok… tok… tok…


Ada beberapa Polisi mengetuk pintu ruangan. Semua melihat kearah mereka.


‘Ada Polisi?’ ucap si penjahat dalam hati.


“Selamat malam Pak Komisaris,” Polisi itu memberi hormat pada Abraham.


“Cepat bawa mereka ke kantor!” perintah Abraham tidak mau menunggu waktu lagi.


“Baik Pak!”


“Berdiri! Borgol tangan mereka!”


“Pak, ampunkan saya Pak, saya tidak sengaja Pak, jangan bawa saya kekantor polisi Pak, saya mohon Pak,” mohonnya.

__ADS_1


Abraham mengangkat tangan yang sudah dikepalkan untuk diarahkan pada wajah pria itu, “Bram, jangan lagi Bram,” Bellova menahan tangan Abraham untuk berhenti.


__ADS_2