
“Belum lewat satu hari, dan Anda sudah datang? Kenapa Kalian terburu-buru?”
“Begini Pak, kalau orang itu belum ditahan, kami tidak bisa tenang karena ketakutan. Coba Anda bayangkan, seorang pencuri yang berbohong dan pandai menipu berkeliaran disekitar Anda, apa tidak was-was?”
“Pak Anwar, warga yang lain saja masih bisa bersabar menunggu-
“Mereka sebenarnya ketakutan Pak! Mereka tidak berani mengatakan langsung pada Anda, tapi, kalau Anda coba datang kekampung kami, pasti anda akan tahu, bagaimana khawatirnya kami.” Ucap Anwar memotong ucapan Abraham.
“Baik, besok saya akan datang ketempat anda untuk menyelidikinya langsung!”
“Me… nyelidiki?”
“Ya! Kami tidak bisa asal main tahan saja tanpa melakukan penyelidikan. Sekarang, ini sudah mau maghrib, silahkan kalian pulang, tunggu saja kabar selanjutnya.”
“Tapi Pak, semua warga-
“Anda mau menginap disini? Tidak masalah sih, masih banyak yang kosong. Bagaimana?”
Anwar dan Herman saling melihat. Herman menggelengkan kepalanya, tidak mau sampai menginap di penjara.
“Baiklah Pak, kami pulang sajalah-
“Bagus!”
“Tapi kami akan datang lagi-
“Oh tidak perlu! Karena kami sendiri yang akan datang kesana. Karena pekerjaan saya masih banyak, tolong kalian pulang saja kalau tidak ada masalah yang harus dibicarakan lagi,” Abraham mempersilahkankan dua orang itu untuk segera pergi.
Sebenarnya Anwar masih belum puas. Tatapan matanya yang kecewa mengarah pada Abraham. Tapi, karena dihadapannya adalah seorang Polisi, dia takut.
“Kalau begitu, kami berdua per-
“Ridwan! Bawakan berkas laporan yang lain!” sebelum dua orang itu selesai berpamit, Abraham meninggalkan mereka berdua.
‘Dasar sombong sekali! Belagu banget!’
Abraham lupa kalau isterinya masih berada diruang kerja. Dia berada dimeja kerja Ridwan sambil memeriksa kasus-kasus lain.
“Mereka datang lagi Pak?”
“Pake tanya lagi, kan kau sendiri yang memanggilku keluar untuk bertemu pada mereka,” ucap Abraham sambil membuka lembaran laporan.
“Iya sih Pak, tapi saya tidak menyangka kalau mereka datang hanya untuk menanyakan kapan Pak Ilham ditahan, seperti tidak sabaran gitu.”
“Bukan ‘seperti’ lagi, tapi memang itu keinginan si Anwar itu.”
‘Pak Abraham ini, kalau sudah menilai seperti itu, pasti benar.’
“Besok, aku dan Adley akan kedaerah Pak Ilham untuk mulai melakukan penyelidikan, mungkin seharian aku tidak datang ke kantor.”
“Bagaimana kalau isteri Anda ingin membawakan makan siang?”
Abraham berhenti sesaat, “Nanti aku yang akan bicara dengannya.”
“Siap Pak!”
***
Abraham masuk ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Dilihat isterinya sedang tertidur di kursi kayu, melipat kedua tangan didepan dada. Kepalanya bergerak kekiri dan kekanan karena tidak ada sandaran dibagian kepalanya.
‘Padahal aku mau menyuruhnya pulang, tapi dia malah tidur. Apa aku bangunkan saja?’
Abraham bingung memutuskan apa. Tidak tega juga membangunkan Bellova. Dia berdiri dihadapan Bellova sambil memperhatikan isterinya yang masih terpejam.
‘Aku ingin belajar lagi. Aku malu karena hanya lulusan SD saja.’
‘Aku anak pertama, aku punya 4 adik yang masih kecil, aku harus bekerja cari uang agar mereka bisa sekolah’
Abraham teringat kata-kata yang diucapkan Bellova. Saat pertama kali mereka bertemu di pelelangan manusia, saat Bellova bekerja dirumahnya, pokoknya hampir semua dia ingat.
Ting!
Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya. Abraham membelakangi Bellova sambil mengeluarkan ponsel dalam saku celananya untuk membaca pesan.
Adley : Pak Komisaris, saya sudah mengetahui siapa pelaku kebakaran di restaurant Nona Monik. Saya memiliki rekaman dan beberapa saksi.
Abraham : Bagus! Bagaimana keadaan Nona Monik?
Adley : Kondisinya sudah membaik, tidak panik lagi.
Abraham tidak membalas pesan dari Adley lagi, karena pikirnya sudah cukup informasinya. Abraham memasukkan lagi ponsel sambil berputar ingin melihat Bellova.
“Bram,”
“Shit!!!” teriak Abraham karena terkejut. Saking terkejutnya, tubuhnya spontan bergerak mundur seperti melompat.
“Sit? Siti?” tanya Bellova tidak mengerti.
“Hah…” Abraham menghela napas, menutup wajah dengan satu tangan dan tangannya yang lain memegang pinggang.
“Kau mengagetkanku Bellova,”
“Pak Komisaris, ada apa?” tiba-tiba Ridwan datang asal masuk karena mendengar suara teriakan dari dalam.
Mereka bertiga saling menatap satu sama lain.
‘Ada apa dengan Pak Abraham?’
‘Apa mereka… bertengkar?’
“Pak-
“Keluar!”
“Tapi Pak-
“Ada apa?”
“Apa Anda… bertengkar dengan isteri-
“CK, siapa yang bertengkar. Sudah, keluar sana!”
“Jadi kalian tidak sedang bertengkar kan?”
Abraham kesal karena anak buahnya tidak menggubrisnya.
“Baiklah Pak, saya akan keluar. Saya lega, saya pikir kalian bertengkar hebat makanya saya masuk kedalam untuk melerai agar tidak terjadi-
__ADS_1
Plak!
Karena Ridwan nyerocos terus, Abraham memukul bahu Ridwan dan menyuruhnya segera pergi. Akhirnya, Ridwan pun pergi sambil melihat kebelakang, yang ternyata suami isteri itu masih memperhatikannya.
“Bram terkejut? Kenapa?”
‘Pake nanyak lagi.’
“Karena kau tiba-tiba bangun, padahal tadi saat aku melihatmu beberapa waktu yang lalu, kau masih tidur dengan pulas.” Abraham melihat wajah Bellova seperti ingin minta maaf dan menyesal.
“Ekhem, apa kau masih mengantuk? Kalau kau masih mengantuk, kau tidur saja di kursiku yang disana.”
Bellova melihat kursi kerja Abraham yang empuk berwana hitam dan memiliki sandaran dikepalanya.
“Tapi, sebaiknya kau pulang saja duluan, kalau kau tidak ngantuk lagi sih, tapi kalau ngantuknya sudah tidak bisa ditahan, kau bisa tiduran sebentar disana.”
“Mm, aku tidak mengantuk lagi,” Bellova berdiri.
“Kalau begitu, aku pulang saja, aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu.”
“Tidak kok, tidak mengganggu. Aku akan menyuruh Ridwan saja untuk mengantarmu pulang.”
“Tidak usah, kalian kan sangat sibuk-
“Jadi, kau mau pulang sendiri?”
Bellova mengangguk dengan yakin.
Abraham mempertimbangkannya untuk sesaat, “Enggak, kau tidak boleh pulang sendiri. Biar Ridwan yang mengantarmu!”
“Ayo kita keluar,” ajak Abraham keluar dari ruang kerjanya. Bellova merapikan apa saja yang dia bawa sewaktu datang bertemu Abraham, salah satu bekal makanan yang sudah kotor.
Semua melihat Abraham keluar dari ruangan, “Ridwan, tolong antarkan isteriku pulang,” suruh Abraham pada Ridwan yang saat itu duduk dikursinya.
Ridwan berdiri, “Siap Pak!” jawabnya tegas sambil mengangkat tangan disamping kepalanya. Karena suaranya yang keras, giliran Bellova yang terkejut sampai bahunya terangkat.
‘Pft, kau terkejut Lov? Seperti itulah tadi yang aku rasakan.’
***
“Nomor siapa ini? Kenapa tidak ada namanya?” Irwan melihat ada panggilan diponselnya. Nomor baru tanpa nama. Dia ragu untuk mengangkatnya.
“Hallo?” akhirnya dia menjawab karena terus menerus menghubunginya.
Tidak ada suara, hanya suara gesekan angin.
“Hallo? Ini siapa?”
“Hallo, Papa,” suara pelan dan lemah dari seberang.
“Angel? Apa kau Angela?”
“I… iya Pa, ini aku, Angela.”
“Kau dimana sekarang? Kenapa nomormu tidak bisa dihubungi?” Irwan yang sedang berada dikamarnya terbangun dan turun dari ranjang saat mengetahui kalau yang menghubunginya adalah puterinya sendiri.
“Papa, aku-
“Dasar anak tidak tahu diri! Kenapa kau selalu membuat masalah, hah?!”
__ADS_1