I Love U Honey

I Love U Honey
Pengaduan Bellova


__ADS_3

Bellova membuka pintu, terkejut melihat siapa yang datang.


“Kenapa lama sekali membuka pintunya?”


“Maaf, tadi aku tidak jelas mendengarnya.” Suaranya pelan.


Abraham mengernyitkan keningnya saat melihat wajah isterinya yang muram.


“Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu seperti itu?” tanyanya sambil melepas sepatu.


“Tidak, aku tidak apa-apa,” jawabnya menggelengkan kepala, sambil menutup kembali pintunya.


“Tumben kamu pulangnya cepat,”


“Ada sesuatu yang ingin aku ambil,” Abraham masuk lebih dalam. Dia berdiri berkacak pinggang sambil melihat meja yang penuh dengan makanan dan buah. Sarah masih belum menyadari siapa yang datang dan duduk dengan tenang membelakangi Abraham si pemilik rumah. Mengangkat kedua kaki disofa, dengan mulut mengunyah.


‘Apa-apaan ini? Kenapa berantakan sekali? Kenapa bantal itu ada di lantai?’ tanyanya dalam hati.  Abraham tahu, untuk apa bantalan itu digunakan. Hanya saja dia tidak tahu, siapa yang menggunakannya. Bellova yang berdiri dibelakang suaminya heran kenapa suaminya berdiri dan diam.


“Bram?” panggil Bellova.


Karena mendengar suara dibelakangnya, Sarah menoleh kebelakang dan terkejut.


“Pak Abraham?” Sarah berdiri, meletakkan anggur dan memberi hormat menundukkan kepalanya.


‘Kenapa dia ada dirumah di jam segini?’


“Selamat siang Pak Bram,” sapa Sarah tersenyum sungkan.


Abraham mengabaikannya. Dia menoleh melihat isterinya dibelakang.


“Apa kamu lagi belajar?” tanyanya pada isterinya.


“Iya Pak Bram, saya masih mengajar Ibu Bellova.” Sarah yang menjawab.


Abraham tidak senang mendapat jawaban dari orang yang tidak dia tanya. Sedangkan isterinya menjawab hanya dengan anggukkan kepala saja, tapi tetap saja dia tidak puas.


“Baiklah, kalian lanjutkan saja lagi,” Abraham membuka jaket yang menutupi seragamnya dengan menunjukkan tanda kepangkatannya dengan lambang satu bunga sudut lima. Dia duduk, tidak jauh dimana mereka sedang melakukan proses belajar mengajar.


Agar tidak mengganggu proses belajar, sengaja dia mengeluarkan ponsel dan fokus pada ponsel itu.


Sarah yang masih gugup dan ketakutan setelah melihat seragam Abraham yang terdapat beberapa lencana dan tanda kepolisiannya. Dia duduk kembali. Sudah tidak bernafsu memakan apapun yang sudah dikeluarkan.

__ADS_1


“Ekhem, Bu Bella, ayo kita lanjutkan pelajaran kita tadi ya.” tiba-tiba Sarah berubah sikap menjadi ramah dan sopan.


Bellova yang masih kesal dan masih berdiri dihadapan Sarah sesekali melihat suaminya yang memperhatikannya.


‘Kenapa wanita ini malah diam saja? Apa dia mau mengadu?’


“Bu Bella? Anda tadi minta diajarkan membaca kan? Ayo kita lanjutkan lagi. Kemampuan membaca anda masih banyak yang kurang, jadi ayo kita perbaiki lagi.”


‘Cepat, turuti aku.’


Abraham semakin mengernyitkan keningnya bahkan lebih fokus pada isterinya.


“Love, kenapa kamu diam? Apa ada yang ingin kamu katakan?” tanya Bram.


“Tidak ada kok Pak-


“Permisi? Yang aku tanyakan adalah isteriku, kenapa kau yang menjawabnya?”


“Ma-maaf.”


“Bram, aku tidak mau belajar dengannya!” suara Bellova sambil menunjuk pada Sarah.


‘Aduh, apa yang dia katakan?’


Bellova melihat Sarah, “Dia bilang… dia bilang-


“Dia bilang apa?”


Diambil napas dalam-dalam, “Dia bilang aku bodoh dan kau yang menyuruhku untuk belajar agar kau tidak malu punya isteri bodoh seperti… ku,” dia menundukkan wajah, menutupi matanya yang hampir menangis. Pokoknya, setiap dia sedang sedih dan suaminya bertanya padanya, dia akan menangis meski berusaha menahannya. Dia merasa, kalau suaminya bertanya, artinya suaminya perduli dan khawatir dengannya.


“Apa?” Abraham berdiri.


“Ti-tidak Pak. Bukan begitu ma-maksud sa-saya,” Sarah melambaikan kedua tangan tidak mengakui.


Masih penasaran, Abraham bertanya lagi pada isterinya, “Lalu? Apa lagi yang dia katakan?” sambil berjalan mendekati mereka berdua.


Tes… tes… tes…


Bellova malah tidak bisa menahan air matanya yang sudah jatuh.


“Dia bilang, kalau kau… kau akan… menceraikanku, meninggalkanku, hiks… hiks..” tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi, Bellova diam dan mengusap air matanya yang semakin banyak mengalir.

__ADS_1


“Katanya, karena aku tidak bisa bersamamu 24 jam, kau… bisa saja kau atau wanita lain punya hubungan diluar sana,” ucapnya lagi sambil mengusap pipinya.


Abraham mengangkat salah satu tangannya ingin menampar Sarah. Untung saja dia menahannya agar tidak sampai mendarat diwajah guru bejat itu. Sarah sudah ketakutan dan berkeringat. Bahkan kedua kakinya gemetar dan seakan tidak kuat menahan berat dirinya.


Prang!


Meja kaca tempat dihidangkannya makanan, minuman dan buah-buahan pecah dan hancur akibat tonjokan dari Abraham. Hanya dalam satu tonjokan saja sudah menghancurkan setengah dari meja tersebut. Sarah dan Bellova menghindar agar tidak terkena serpihan kacanya.


“Bram! Tanganmu berdarah,” Bellova menangkap tangan suaminya yang berdarah.


Abraham mendengus kesal, “Oh my God!” dia menutup wajahnya dengan tangan kiri karena kesalnya.


Apalagi harus mengontrol emosinya yang takut akan meledak apalagi lawannya adalah seorang wanita. Darah dari Lucifer tentu saja mengalir di tubuhnya.


“Sejak kapan?” tanya Abraham lagi. Yang dia tanyakan pada Bellova.


Bellova diam, mengusap punggung tangan Bram dengan tisu.


“Love! Aku sedang bertanya padamu.” Suaranya pelan namun terdengar menakutkan. Sedikit saja Sarah salah bicara, pasti tangannya tidak bisa ditahan untuk didaratkan diwajahnya. Sudah berapa kali Sarah menelan ludahnya saking ketakutan. Rasanya dia ingin segera keluar dari rumah itu.


“Kata-kata tadi, memang baru hari ini diucapkannya.”


“Lalu bagaimana dengan yang kemarin-kemarin? Apa dia menghinamu lagi?”


Bellova menggelengkan kepalanya.


“Dia hanya mengambil semua isi kulkas. Hari pertama dia membawa semua buah dikulkas, esoknya daging telur. Esoknya lagi juga gitu, sayuran dan banyak lagi yang dia bawa.” Bellova menceritaka semuanya. Semua kejadian dari awal Sarah mengajarnya. Bahkan saat dia disindir dengan tulisan dan cara membacanya.


“Hah… hahahahaha, jadi ternyata dia si maling kulkas itu.” Abraham tertawa bukan karena lucu, hanya tidak menyangka dan diluar nalarnya. Tidak masalah kalau isi kulkasnya habis, jika isterinya yang sanggup menghabiskannya. Tapi ternyata, “Ternyata ada pencuri dirumahku sendiri. Dari awal aku sudah mulai curiga. Untung saja aku pulang hari ini, kalau tidak, aku pasti tidak tahu kejadian ini dan sampai kapan akan ketahuan.” Dia menatap Sarah dengan tajam.


Semakin Abraham melihat wajah Sarah, rasanya dia ingin mengeluarkan senjata berpelurunya dan ditembakkan kekepala Sarah.


Tidak mau melihatnya lagi, dikeluarkan dompetnya, “Ini ambil! Mulai dari sekarang, jangan pernah datang lagi dan mencuri dirumahku!” dilemparkan beberapa lembar uang seratus ribuan didepan wajahnya.


Sarah ingin mengambil uang itu, tiba-tiba Bellova merebut dan mengambil semuanya, “Kau tidak berhak memiliki uang ini!” dirampasnya uang yang sudah ada digenggaman sarah sebagian.


Abraham tidak melarangnya, dibiarkan dan masih diawasi.


“Tapi Bu-


“Enak saja kau menerima gaji padahal caramu mengajariku saja masih kurang. Walaupun suamiku yang membayar gajimu, tapi aku sebagai isterinya tidak mau membiarkannya begitu saja.” ucapnya dengan yakin.

__ADS_1


‘Sialan wanita ini! Benar-benar membuatku malu didepan pak Abraham. Apa dia mau bersikap jadi isteri yang baik? Dasar bodoh! Bodoh akan tetap jadi orang bodoh!’


__ADS_2