I Love U Honey

I Love U Honey
Dua Minggu Lagi


__ADS_3

“Bagaimana makanannya? Enak tidak?”


“Mm, enak. Kau yang memasaknya?”


“Aku dan mama yang menyiapkannya.”


Abraham mengangguk, “Jadi, apa mama juga yang menyuruhmu mengantarkan kesini?”


“Mmm, iya, tapi sebenarnya aku juga ingin mengantarkannya.”


Abraham yang sudah sangat lapar segera menghabiskan makan siangnya. Sedangkan Bellova tidak ikut makan karena sudah makan lebih dulu dirumah mertuanya.


Bellova masih duduk, memperhatikan Bram makan. Segelas air juga sudah disiapkan. Abraham tahu, dilihat dari raut wajah Bellova, pasti ada yang ingin dibicarakannya.


“Apa ada yang mau kau bicarakan?”


“Hah? Oh, iya. Tapi nanti saja, kalau Bram sudah selesai makannya.”


Ya, Abraham tidak terlalu penasaran makanya melanjutkan makannya dengan santai, tidak terburu-buru.


Diluar ruang kerja Abraham terdengar suara berisik, Bellova ingin keluar melihatnya, “Jangan keluar, disini saja.”


“Mm?” Bellova menoleh kebelakang melihat Abraham yang sudah selesai makan.


“Itu pasti ‘Penghuni baru’, diluar sudah ada petugas yang mengurusnya. Tolong ambilkan tisu itu dong,”


“Penghuni baru, maksudnya orang jahat yang akan dimasukkan kepenjara?” Bellova memberikan tissue yang selalu tersedia diatas meja kerja Abraham.


“Iya, seperti itu.” dia mengeringkan tangan dan mulutnya dengan tissue yang diberikan Bellova.


“Jadi, kau mau membicarakan apa?” tanpa basa-basi, Abraham langsung menanyakan pembicaraan yang akan diberikan Bellova.


Bellova menggaruk pipinya, lirikannya ke kiri, dan ke kanan.


“Wajahmu merah, apa yang mau kau katakan sesuatu yang bisa membuatmu malu?”


“Kok kamu tahu?” wajah Bellova semakin memerah.


“Warna wajahmu bisa menunjukannya. Sekarang, katakan padaku.” Abraham sudah duduk dikursi kayu, sambil menatap Bellova dengan serius.


“Mmm, begini. Bram kan waktu itu bicara tentang… anak.” Sampai bicara disini, Abraham merespon dengan anggukkan kepala.


“A-aku mau!” dia menutup mata karena malu.


Abraham yang terkejut, tercengang dan heran. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja, tanpa dia pikirkan, isterinya membahas tentang anak. Malu dan gugup, dilihat dari reaksi Bellova.


‘Oh, jadi dia sudah memutuskannya ya.  Baiklah, mari kita coba menggodanya lagi.’


“Ekhem, kau mau?”


Bellova mengangguk, matanya sudah dibuka, malu-malu melihat Abraham yang berdiri menatapnya.

__ADS_1


“Kamu tahu gak, bagaimana cara memiliki anak?”


“Hm? Hubungan badan, benar kan?” jawab Bellova dengan polosnya.


Abraham mengernyitkan keningnya, ‘Dia tahu tidak sih apa maksud dari berhubungan badan itu? Apa aku tanya lagi kejelasannya?’


“Lalu? Apa yang dilakukan dalam hubungan badan itu?” Abraham semakin melangkah mendekati Bellova.


“Apa kau tahu, bagaimana cara berhubungan badan itu?” semakin dekat Abraham pada Bellova. Bellova merasa curiga, dia mundur selangkah demi selangkah.


‘Lihat, apa dia mengerti makasudnya? Apa dia mulai takut?’


“Me-memangnya apa yang akan dilakukan?”


Ujung bibir Abraham naik, tersenyum pada Bellova.


Dia mengangkat kedua tangan dan menyatukannya, Pak! Pak! Pak!. Suara dari kepakan telapak tangan Abraham.


Bellova masih belum mengerti, “Ada apa dengan tanganmu?”


‘Hah? Masih belum mengerti?’


“Haiss… Lov, masa kau masih belum mengerti,” Abraham memegang keningnya dan tangannya yang lain memegang pinggang, masih berdiri.


‘Benar, bagaimana dia bisa tahu. Sekolah saja cuma sampai dasarnya saja kan. Tapi, masa sampai seumur ini tidak mengerti?’


“Begini Love-


Suami isteri itu langsung melihat Adley. Adley sebenarnya tidak mau mengganggu, tapi karena Denis mengatakan ada hal yang penting yang harus dia katakan pada Bram, makanya dia nekad.


Abraham tidak mau bertanya lagi, dia mulai melangkah meninggalkan Bellova, “Apa kau mau kita pulang bersama, atau kau mau pulang kerumah mama?” tanyanya, berbalik pada Bellova.


Bellova menggaruk kepala, bingung memutuskannya.


“Baiklah, kau tunggu disini, kita pulang bersama. Tunggu aku disini, sambil menunggu, kau coba buka google, lihat dan pelajari apa saja yang harus kita lakukan untuk ‘Itu’.” setelah mengatakannya, Abraham dan Adley pergi meninggalkan Bellova yang masih bingung.


“Pak, memangnya ‘Itu’ itu apa?”


“Bukan urusanmu Adley. Tidak ada hubungan dengan pekerjaan kita.”


Abraham mengangkat telepon kantornya, “Hallo, ada apa?” tanya Abraham ketus.


“Hey, kenapa aku tidak bisa menghubungimu? Apa kau sedang sibuk dengan isterimu?”


“Langsung saja, bukannya kau bilang ada yang penting?”


“Ya ampun, kenapa kau ketus sekali. Apa tidak bisa kita bicara santai? Oh ya, aku dengar dari Adley, Bellova ada disana juga ya? Apa yang dia lakukan?”


“berhenti membicarakan hal yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan! Kalau tidak ada yang penting, aku akan-


“Sabar, sabar, dong Bram. Tidak ada salahnya kan kalau aku menanyakan kabar Bellova.”

__ADS_1


“Salah! Karena dia adalah isteriku!”


“Terus?”


‘Aduh, kenapa Denis malah memancing emosi Bram sih. Apa dia sengaja? Tahu begini, aku tidak akan mengijinkannya berbicara pada Bram.’


“Sorry Bram, aku hanya khawatir pada Bellova, makanya aku menanyakan kabarnya. Tadi malam aku bermimpi


kalau wanita cantik itu menangis tersedu-sedu.” Tentu saja yang dikatakan Denis tentang mimpinya adalah bohong belaka.


Abraham terdiam mendengar isi mimpi Denis.


“Walau Bellova menangis, tidak ada orang disekitarnya untuk melindunginya, bahkan, kau sendiri juga tidak ada. Aduh, maafkan aku, ini hanya mimpi saja kok, jangan marah ya.”


“Tapi kalau kabarnya baik-baik saja, berarti aku tidak perlu terlalu khawatir kan?”


Tidak ada jawaban dari Abraham.


‘Hm, kenapa dia diam?’


“Ekhem, baiklah, baiklah, aku akan mulai mengatakan yang serius sekarang.”


“Aku ingin memberitahukan padamu, kalau persidangan untuk papa Lucifer akan diadakan dua minggu lagi. Aku sudah mengurus semuanya, termasuk saksi. Saksi yang paling kuat adalah dari bibi Audrey, yang sekarang tinggal dirumah mama Eva.”


“Untuk pengacaranya?”


“Aku! Aku yang akan menjadi pengacara inti dari papa Lucifer, tapi masih ada beberapa pengacara yang akan membantuku dari belakang. Aku juga menyuruh Venom untuk mengawasi gerak-gerik Irwan. Bagaimana menurutmu?”


“Hm, itu lebih baik. Aku harap, jangan sampai papa dipenjara.”


“Maafkan aku Bram, yang pastinya papa Lucifer akan mendapatkan hukuman.”


“Apa?” Abraham tidak suka dengan jawaban Denis yang terakhir.


“Iya, untuk hukuman tidak bisa dihilangkan, tapi aku pastikan, hukumannya tidak akan berat kok. Mungkin 10 tahun.”


“Breng**k! Gampang sekali kau mengucapkannya. Kalau hasilnya seperti itu, untuk apa aku membiarkan papaku dipenjara?!”


‘Padahal aku hanya bercanda, tapi anak papa Lucifer ini langsung mengamuk.’


"Baiklah, aku akan bantu mengurangi masa hukumannya, tapi ada syaratnya.”


“Apa hak mu meminta syarat dariku? Bukankah ini caramu untuk menunjukkan budi baik papaku?” Abraham mulai kesal.


‘Keterlaluan sekali si Denis ini. Sebenarnya dia mau menolong atau tidak sih?’


“Aku kan bekerja juga loh Bram. Dan tidak sendirian, masih ada kerja sama dengan pihak-pihak lain yang membantuku.”


“Hah… berapa banyak uang yang kau inginkan??!”


“Aku tidak membutuhkan uang, karena uangku sudah banyak. Untuk makan dan biaya lain, ya masih cukuplah.”

__ADS_1


“Terus apa yang kau inginkan?” Abraham mengepalkan tangannya.


__ADS_2