
“Bram, kemeja ini cocok kamu pakai, kamu suka?” Bellova mengangkat satu kemeja yang disukainya.
Bahkan sampai di praktekkan pada tubuh Abraham.
“Mm? warna merah ya?”
“Iya, kamu tidak suka?”
‘Di jawab gak suka, nanti ngambek.’
“Suka kok, suka,” dia menjawab berbohong.
“Loh, kak Bram kan-
“Ssshh,” Ina dengan cepat meletakkan jari telunjuknya untuk menutup mulut Arshinta. Bellova curiga, apalagi kalimatnya berhenti saat menyebutkan nama Abraham.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa Love, lanjutkan,” Ina melambaikan tangannya agar Bellova tidak memperdulikan Arshinta.
“Bram, apa kamu tidak suka?” tanya Bellova lagi. Curiga kalau suaminya berbohong padanya. Wajahnya
memang melas, Abraham pun bingung, mau jujur atau berbohong. Abraham sebenarnya tidak suka dengan warna-warna terang, termasuk merah dan pink.
“Aku suka kok, kan aku sudah mengatakannya pertama kali tadi.”
‘Terpaksalah aku berbohong, demi senyum isteri.’
Benar saja, raut wajah Bellova seketika berubah cerah bahagia. Lalu wajahnya berubah murung lagi.
‘Nah loh, ada apa dengan wajahnya? Kenapa cemberut?’
Kemeja berwarna merah yang sudah diangkat dan dilihat Bellova, diletakkan kembali pada raknya.
“Love, kenapa dibalikkin lagi?”
Tidak langsung menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada Abraham. Melihat tingkah isterinya, Abraham sedikit menundukkan kepala seakan isterinya ingin berbicara sesuatu.
“Harganya sangat mahal, kita cari yang lain saja, pasti masih banyak harga yang murah,” bisik Bellova, melirik sekitar agar tidak ada yang mendengar bisikannya.
“Pft,” tidak bisa menahan tawanya, Abraham langsung menutup mulutnya agar Bellova tidak tersinggung.
“Memang harganya berapa?” Abraham pun berbisik ditelinga Bellova. Karena merasa geli, bahu isterinya terangkat. Hembusan napas Abraham saat mengeluarkan kata ‘harga’, sangat terasa didaun telinganya.
“955 ribu,” ucap Bellova, tidak berbisik ditelinga suaminya lagi, hanya suaranya saja yang dipelankan.
__ADS_1
Abraham ingin berbicara, Bellova memundurkan kepalanya, tidak mau Abraham berbisik lagi ditelinganya. Aditya malah keceplosan mengeluarkan suara tawa, untungnya Ina memalingkan tubuh Aditya untuk membelakangi Abraham dan Bellova.
“Ekhem, Love, kamu bawa Black Card yang aku berikan padamu waktu itu kan?”
Bellova mengangguk sambil mencarikan kartu yang dimaksud.
“Ini,” diserahkan pada Abraham, dan diterimanya.
Abraham meraih kemeja yang dipilih Bellova, “Loh Bram, tidak usah diambil,” isterinya masih berusaha
menahan Abraham, menggerakkan kedua tangan untuk menolaknya. Abraham hanya tersenyum tanpa mengembalikan kemejanya.
“Sini, kita ambil lagi,” ditariknya pergelangan tangan isterinya, untuk mencari-cari pakaian mana lagi yang membuat isterinya tertarik. Setiap Bellova ragu meski dia suka, Abraham memaksanya untuk mengambil.
“Lov, lihat ini, kamu suka?” sekarang giliran Abraham menunjukkan satu gaun sependek lutut berwarna
cokelat muda, sama seperti warna kulit pada umumnya.
Tanpa ragu-ragu, Bellova menggelengkan kepalanya, “Aku tidak suka warna cokelat,” ucapnya memberi alasan.
“Oh, kau tidak suka warna cokelat ya,” diletakkannya lagi gaun yang ditolak.
Sudah hampir 2 jam, mereka masih berbelanja, dan yang sudah sangat bosan adalah Aditya dan Satmaka,
bahkan Raka saja sampai mengantuk dan tertidur dalam gendongan Satmaka.
“Ck, baru setengah jam sudah menyerah, letoy ih calon kakak ipar,” ledek Arshinta sambil memegang celana jeans.
“Hah? Setengah jam?” Aditya menoleh kebelakang melihat Satmaka. Pikirnya bisa mendapat pembelaan dari Satmaka, ternyata temannya malah menggelengkan kepala, seakan tidak mau ikut campur.
Berbeda dengan Abraham dan Bellova, justru mereka masih menikmati waktu berbelanjanya. Tidak terlihat
lelah dan jenuh. Suami isteri itu, bergantian mencobai pakaian diruang ganti.
Tidak hanya pakaian saja yang mereka pilih, sepatu, dan tas dengan kualitas terbaik pun menjadi sasaran belanja mereka.
Tibalah saatnya untuk pembayaran. Bellova gugup, takut kalau uang suaminya tidak cukup. Aditya dan Satmaka, berdiri didepan kasir untuk membayar belanjaan pasangannya.
“Kakak ipar, kita menunggu disini saja,” panggil Arshinta. Untuk para wanita, hanya menunggu sambil duduk santai disofa. Giliran Arshinta yang menggendong Raka. Bukan mereka juga yang meminta di bayarin, tapi itu permintaan dari Aditya dan Satmaka, sebagai bukti sayang dan cinta mereka.
Para pengunjung yang disana kagum dan iri melihat tiga pria dengan tiga wanita. Berharap, pasangan mereka juga sama royalnya seperti Abraham, Aditya dan Satmaka.
Bellova tidak mau jauh dari Abraham, takut kalau suaminya dimarahi sipemilik toko karena kekurangan uang. Dan juga, Abraham menahan Bellova untuk tidak jauh-jauh, karena ada yang ingin dia tunjukkan pada isterinya.
Tiga pria itu tidak mau ada yang ditraktir, malu kalau belanjaan pasangannya dibayarkan orang lain, makanya bersikeras untuk membayarnya.
__ADS_1
Dan sekarang giliran Abraham yang sudah berdiri dihadapan kasir. Karyawan lain curiga melihat Bellova yang panik ketakutan. Sesekali Bellova menarik tangan Abraham agar mengembalikan kembali pakaian yang mereka pilih.
Sang kasir melakukan penghitungan dan memberitahukan jumlah total yang harus dibayar Abraham.
“Hah???” karena terkejut, Bellova menutup mata dan membelalakkan matanya. Dari tatapan matanya yang melihat Abraham seakan mengatakan, ‘Apakah kau memiliki uang sebanyak itu?’
“Tunggu sebentar, bisa minta waktunya sedikit?” karyawan lain itu pun ingin memeriksa tas dan menyentuh tubuh Bellova, karena curiga apakah wanita yang dicurigai itu mencuri atau tidak.
“Hey! Apa yang kau lakukan?” Abraham langsung menghentikan tangan karyawan yang berjenis kelamin
laki-laki itu. Arshinta dan lainnya yang masih menunggu mendengar suara Abraham.
“Maafkan saya Pak, saya hanya ingin memeriksa wanita ini-
“Wanita ini? Siapa maksudmu?”
“Daritadi saya curiga dengannya. Karena gerak-geriknya yang canggung, saya rasa dia mencuri sesuatu-
Brugh!
Tidak mau mendengar penjelasan orang itu, Abraham langsung melayangkan bogemnya diwajah pria itu.
“Sembarangan sekali kau bicara seperti itu! Kau pikir aku tidak bisa membayarnya? Hah?” Abraham mengamuk. Tidak ingin ada siapapun yang memandang rendah atau menuduh isterinya dengan kejahatan. Abraham ingin memberikan pukulan lagi, Aditya dan Satmaka langsung menahan dengan menarik tangan Abraham, Bellova juga menahan suaminya.
Karena keributan itu, sampai mendatangkan petugas keamanan sehingga perkelahian pun berhasil dilerai.
Bellova, mengelus-elus dada Abraham agar tidak marah dan kembali tenang. Sedangkan karyawan yang
menuduh Bellova sudah dibawa bersama petugas keamanan.
“Maafkan kami atas kesalahan kami Pak,” sang Manajer datang, meminta maaf secara langsung.
“Sudahlah! Aku mau BAYAR!!”
“Love, lihat cara menggunakan kartu ini,” suaranya berubah menjadi lembut saat berbicara pada Bellova yang masih berdiri disampingnya.
“Kakakku benar-benar cinta mati pada kakak ipar. Padahal tadi ngamuknya kayak banteng kejar tirai warna merah.” Ucap Arshinta, menggelengkan kepalanya, dan yang lainnya menganggukkan kepala, sepakat dengan yang dikatakan Arshinta.
“Apa bisa membayar dengan kartu itu?”
“Makanya lihat dong!”
“Iya,” dia melihat dengan cermat, bagaimana cara kartu itu bekerja, sampai-sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.
“Sudah selesai, ini kartu anda Pak,” Kasir mengembalikan Black Card pada Abraham.
__ADS_1
“Sudah selesai?” tanya Bellova heran.