I Love U Honey

I Love U Honey
Tidak Menerima Orang Ke Tiga


__ADS_3

“Jadi kalian belum pernah… melakukan ‘itu?”


Bellova menjawab dengan anggukkan.


Eva menghela napas. ‘Memanglah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.’ Ucap Eva dalam hati memegang kening, bersandar di sofa.


“Tidak apa-apa, jangan khawatir. Percaya pada Mama, kalau Bram itu normal kok.” Eva mengusap punggung Bellova.


“Tapi, Bram bilang, tentang anak. Dia bilang menginginkan anak dari kami.”


“Terus?” Eva semakin penasaran.


“Tapi, tapi aku takut Ma.”


“Takut kenapa? Takut melahirkannya? Itu sudah biasa untuk seorang isteri dan calon ibu, menantuku.”


“Bukan itu Ma,”


“Terus?”


Awalnya Bellova menutup mulutnya dengan rapat, melihat mertuanya yang menatap dengan penasaran.


“Aku takut kalau nanti Bram mencintai wanita lain, dan meninggalkan aku. Bram bilang, jika itu terjadi, dia yang meminta untuk mengasuh anak kami.”


‘Apa yang dikatakan anak itu? Kenapa dia harus mengatakan itu?’


“Apa itu yang membuat wajahmu murung seperti ini?”


Lagi, Bellova menganggukkan kepalanya.


“Lova, Mama mau tanya. Perasaan kamu sama Abraham itu apa? Apakah hanya sekedar menyukai atau mengaggumi saja?”


“Bella… Bella jatuh cinta pada Bram, Ma.” Ujarnya malu-malu.


‘Dari warna wajahnya yang memerah, sepertinya dia tidak berbohong.’


“Tapi, Bram bilang, dia masih belum punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Aku pikir, aku bisa menerimanya selama bisa tinggal dan hidup bersama Abraham.”

__ADS_1


“Aku mencintainya bukan karena jabatan atau uangnya yang sangat banyak itu, tapi karena cintaku padanya murni. Maafkan aku Ma.”


“Loh, untuk apa kamu minta maaf? Apa salah kalau kamu mencintai seseorang? Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Semua orang berhak merasakan cinta dan kasih sayang. Apalagi kamu adalah seorang isteri yang mencintai suaminya sendiri, itu tidak menimbulkan dosa, menantuku,” Eva menggenggam wajah Bellova, hingga bibir Bellova monyong.


“Punya anak dari Bram, walau dia masih belum mencintaiku, aku tidak apa-apa. Tapi, aku takut, jika dia meninggalkanku karena mencintai wanita lain. Aku tidak mau membagi bahkan tubuhnya pada orang lain. Aku mau Bram hanya untukku, hiks… hiks..” Bellova tidak bisa menahan air matanya lagi. Seperti anak kecil yang menangis, dengan lengannya dia mengusap airmatanya.


‘Entah aku harus tertawa atau sedih nih. Sedih karena ceritanya, lucu karena sikapnya.’


“Sudah, sudah, jangan menangis lagi,” Eva memberikan tisu pada Bellova untuk diusap.


“Maafkan aku karena egois. Maafkan aku Ma. Aku sudah berusaha untuk membuang perasaan ini, tapi setiap Bram memperlakukanku dengan baik, perasaanku malah semakin besar. Padahal, Bram menyuruhku untuk tidak mencintainya, bagaimana ini? Aku harus apa.” Airmatanya semakin deras. Eva berusaha menenangkannya, dengan mengusap punggungnya.


Akhirnya Eva hanya membiarkan Bellova menangis sampai dia puas. Pikirnya, agar menantunya puas mengeluarkan kesedihan dan kebimbangannya.


10 menit kemudian.


“Bagaimana? Sudah berhenti menangisnya?”


Belllova mengangguk, tapi masih terdengar suara tarikan hidungnya yang masih basah.


“Iya Ma,” jawabnya mengangguk.


“Kalau begitu, berikan! Dengan kalian memiliki buah hati, secara tidak langsung, eh salah! Secara langsung kau sudah memiliki Bram untuk selamanya!” ucap Eva, tersenyum meyakinkan Bellova.


Bellova kembali bingung dengan ucapan mertuanya.


“Dengarkan aku, segera kalian ‘mencetak’ anak dan lahirkan. Dengan adanya anak, Bram lebih bertanggung jawab dan perhatian padamu. Kalau untuk wanita lain yang dicintai Bram, serahkan pada Mama!”


“Cetak anak? Maksudnya apa Ma?” Bellova masih belum mengerti dengan kata khiasan itu. Dia menggaruk kepalanya.


Eva menghela napas lagi, “ Kalau kau tidak tahu, serahkan saja pada Abraham. Dia pasti mengerti caranya. Yang jelas, Mama tidak akan membiarkan Abraham dekat atau terpikat dengan wanita lain.”


“Apa Bella pernah melihat Abraham dekat dengan wanita lain? Atau wanita ganjen yang menggoda suamimu? Kalau ada, beritahu Mama, biar Mama ‘urus’!” Eva membuat kode dengan goresan dilehernya hanya dengan ujung jari jempol.


Bellova mengernyitkan keningnya dan tertawa kecil, meski dia masih belum mengerti.


“Tapi bagaimana kalau Bram marah? Bukankah aku jadi jahat karena memisahkannya dengan cinta sejatinya?”

__ADS_1


“Ya ampun menantuku sayang. Sekarang kan Abraham belum mencintai wanita lain kan? Makanya Mama bilang, setiap ada wanita gatel yang mencoba dekat dan menggoda Bram, adukan pada Mama, biar mama usir wanita itu. Jauh-jauh deh dari pelakor.” Eva memberikan dukungan dan kekuatan pada Bellova. Pikir Eva, tidak ada yang salah selama mereka adalah suami isteri.


“Dengar ya, papa mertuamu dari dulu enggak pernah main perempuan setelah kami menikah. Kalau sebelum menikah, Mama gak tahu ya dia ada main apa enggak. Yang jelas, setelah menikah dia tidak ada main. Dan Mama juga percaya pada Bram, dia tidak mungkin seperti itu. Mama dan papa dulunya juga menikah tidak atas dasar cinta. Entah kenapa papa mertuamu yang kaku seperti kayu itu bisa mengajukan pernikahan padaku, seperti membeli kacang goreng. Dan kau tahu? Mama belum memberi jawaban dia udah main bawa aja kerumahnya,” Eva menceritakannya tersenyum mengingat masa lalu yang menyenangkan untuk mereka.


“Tapi lama-lama, seiringnya waktu, cinta itu mulai tumbuh. Jadilah papa mertuamu bucin pada Mama. Dan Mama yakin, Abraham juga akan bucin padamu.”


“Bucin? Apa itu Ma?”


“Budak Cinta. Artinya, dia akan mencintaimu dengan tergila-gilanya.”


Mendengar itu, Bellova malu hingga menundukan wajahnya.


“Kamu kan tidak sendirian. Ada Mama, papa, iparmu yang banyak begini, pokoknya banyaklah. Kau sudah masuk kedalam keluarga besarnya Abraham. Kami tidak menerima adanya orang ketiga yang disebut pelakor atau pebinor. Mau sekaya atau seterkenal apapun, tidak bisa kami biarkan. Jadi, kalau kau ingin mengadu pada kami, lakukan saja. Jangan takut pada Abraham, dia bukan pria yang suka membentak atau menyakiti wanita apalagi isterinya. Ini bukan hanya sekedar pujian belaka ya.”


“Jangan merubah apapun atau bersikap seperti orang lain, jadilah dirimu sendiri. Abraham lebih suka yang seperti itu.” nasihat untuk Bellova.


Sekarang Bellova sudah mulai membaik dan lega. Kedatangannya kerumah mertuanya tidak sia-sia. Awalnya Bellova datang bukan untuk mengadu atau cari perlindungan, tapi karena kepekaan mertuanya.


***


“Pak, mau makan siang dimana?” tanya Adley.


“Oh ya, diujung jalan sana ada rumah makan yang terkenal enak dan murah.” Usul Ridwan.


“Kau pikir aku tidak bisa membeli makanannya kalau mahal? Yang paling terpenting bagiku adalah enak dan bersih, harus bersih!”


Tiga sekawan itu bersiap-siap untuk makan siang. Mereka bertiga masing-masing memakai jaket berbeda warna.


Mereka ingin keluar, dan ternyata langkah Abraham berhenti saat melihat Bellova datang dan berjalan kearahnya.


“Love? Kamu datang kesini?”


“Iya, apa aku mengganggu?” tanyanya, dilihat Ridwan dan Adley yang berjalan bersama Abraham, seperti ingin pergi.


“Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?” Bellova merasa tidak enak hati.


Sekarang mereka bertiga saling melihat, “Tidak kok Kakak ipar, anda datang pas diwaktu yang tepat.” Ucap Adley karena Bellova yang datang membawa makan siang untuk Abraham.

__ADS_1


__ADS_2