I Love U Honey

I Love U Honey
Tanganmu Berdarah


__ADS_3

Hampir saja Bellova jatuh karena menahan tangan Abraham.


“Cepat bawa mereka, sebelum mati aku hajar disini!”


“Baik Pak,” dua orang yang mengakibatkan keributan itu segera dibawa setelah diborgol. Bellova masih belum melepas lengan Abraham.


“Ekhem, Pak-


“Ayo kita pulang!” ajak Abraham pada Arshinta dan lainnya. Mereka mengikuti Abraham dari belakang.


“Hah, padahal filmnya sangat seru dan kita tidak bisa menontonnya sampai selesai.” Ucap Aditya, hanya bercanda.


“Maafkan aku, karena aku mengkibatkan masalah-


“Oh, tidak… tidak adik ipar, ini bukan salahmu kok, ini salah mereka karena sudah berani mengganggumu,” tidak mau menjadi target pukulan Abraham, Aditya menahan Bellova untuk tidak meminta maaf, apalagi Abraham langsung menatapnya dengan tajam.


“Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Untungnya, sebelum si breng**k itu dibawa kekantor polisi, Bram sudah menghajarnya lebih dulu. Aku juga senang orang itu babak belur, supaya dia jera.”


“Tapi kak Ina, orang yang punya sifat mesum kayak gitu gak bisa jera loh. Sudah penyakit bawaan.” Balas Arshinta.


“Lain kali, kalau kita menonton lagi, satu kursi dari samping kita harus kita kosongkan, biar tidak ada orang aneh lagi.” komentar Satmaka.


“Ih, waktu aku lihat wajah pria breng**k itu saat berbohong, rasanya pengen aku potong lidahnya.” Kesal Arshinta.


“Iya, apalagi saat dia mengeluarkan lidahnya dan menjilat bibirnya sendiri, jijik banget.” Ucap Bellova ikut kesal.


“Apa? Mengeluarkan lidah? Kenapa tidak kau katakan tadi padaku? Biar aku potong dan injak-injak lidahnya,” Abraham kembali marah saat mendengar ucapan Bellova.


***


Mereka sudah berada diparkiran mobil.


“Aku sangat senang sekali hari ini,” Arshinta yang menggendong Rakha masuk kedalam mobil.


“Lain kali, kita triple date seperti ini ya.” ucap Ina bersiap-siap masuk kedalam mobil.


“Sampai jumpa lagi,” Bellova melambaikan tangannya pada Arshinta dan Ina yang sudah masuk kedalam mobil namun membuka kaca jendelanya.


“Ayo masuk,” Abraham membuka pintu mobil untuk Bellova setelah memasukkan belanjaannya di kursi belakang. Satu persatu mobil mereka bertiga secara bergantian keluar dari parkiran.


“Love, pakai sabuk pengamannya,” ucap Abraham melihat sabuk pengaman belum terpasang pada Bellova.


“Oh iya,” karena sudah terbiasa memasang sabuk pengaman, Bellova tidak kesulitan lagi saat ingin memakainya.


Klik!


“Sudah,” ucapnya bangga, dibalas senyum dari Abraham yang kemudian fokus pada perjalanannya.


“Gimana? Kau senang?”


“Mm? Iya, aku sangat senang.” Bellova tersenyum.


“Senang banget atau senang aja?”


“Senang kali.”


“Senang kali?”


“Senang banget, seperti itu artinya,” ucapnya tertawa kecil.


“Oohhh, begitu,” angguknya.

__ADS_1


“Love-


“Hm?” Bellova cepat menyahut dan melihat Abraham.


“Belum selesai bicara udah disela.”


“Kenapa?”


“Tidak, tidak apa-apa. Dengarkan aku-


“Iya?”


“Ck, Love, jangan bicara dulu kalau aku belum selesai bicara, oke?”


“Iya.”


“Hm, dengarkan aku, lain kali, kalau ada orang yang mengganggumu, apalagi kalau sengaja seperti tadi, langsung beritahu aku, aku akan ‘menyelesaikan’ mereka.”


Bellova masih diam mendengarkan.


“Apalagi kejadian yang tadi, misalnya tidak terjadi padamu, aku pasti akan marah kalau ada pria yang tidak sopan pada perempuan. Rasanya aku ingin memotong alat kelaminnya-


“Pft,” Bellova langsung menutup mulutnya.


“Kalau tertawa, tertawa saja, jangan ditahan seperti itu. leher dan hidungmu akan terasa sakit nanti.” Setelah Abraham mengatakan itu, Bellova akhirnya tertawa dan tidak lama.


“Kau mengerti kan yang aku katakan tadi? Jangan biarkan dirimu diganggu atau disepelekan orang lain.”


“Iya Bram, aku mengerti.”


“Bagus.”


“Tapi Lov, apa cuma kakimu saja yang dipegang?”


“Apa kau puas aku memukulnya seperti tadi? Atau masih kurang?”


“Sangat puas sekali. Wajahnya saja sudah bonyok seperti itu, tidak perlu memukulnya lagi.”


“Lain kali, aku akan mengajakmu keluar lagi, hanya kita berdua saja.”


“Kita berdua saja?” dilihatnya Abraham.


“Iya, kita saja.”


“Apa tidak apa-apa?”


“Maksudmu?”


“Apa Arshinta dan Kak Ina tidak marah?”


“Hahaha, untuk apa mereka marah. Mereka juga pasti sering berjalan berdua kan. Hanya kau sendiri saja yang lebih sering dirumah.”


“Kalau kita berdua pergi, kita mau kemana?”


“Terserah kau saja, kau mau kemana, mau keluar kota pun tidak apa-apa.”


“Benar kah?”


“Yups,”


“Ada yang ingin kau datangi?”

__ADS_1


“Hmmm, ke Sumatera Utara bagaimana?”


“Sumatera Utara ya, tapi aku tidak tahu tentang tempat itu. Apa ada yang menarik?”


“Ada, ada banyak. Seperti Danau Toba, Berastagi, Samosir, Batu Gantung-


“Waw, sepertinya banyak yang kau tahu ya?”


“Aku membaca dan menontonnya di yutube saat Bram bekerja. Aku hanya melihat dari video saja, aku ingin melihatnya secara langsung.”


Abraham masih diam mendengarkan sambil tetap fokus pada kemudi mobilnya.


“Aku penasaran bagaimana dengan Batu Gantung dan Danau Toba. Ada juga nama tempatnya… mmm… apa ya namanya, kalau tidak salah namanya… Pusuk… Pusuk Buhit, itu kalau aku tidak salah nama,” Bellova berusaha mengingat-ingat sambil menggaruk kepalanya.


Abraham hanya sebagai pendengar sejati yang lucu melihat isterinya berbicara dengan semangat. Sama sekali dia tidak mengerti apa yang dikatakan Bellova, yang dia senang bisa melihat isterinya berbicara.


“Tapi Bram, apa kita benar-benar bisa kesana?”


“Kenapa?”


“Karena sangat jauh loh tempatnya.”


“Tidak masalah kan?”


“Memangnya kapan kita kesana? Apalagi, saat ini kan Papa sedang ada di penjara. Tidak enak kan kalau kita pergi jalan-jalan sedangkan papa mertua sedang ditahan.”


‘Hm benar juga. Aku tidak bisa mengabaikan seperti ini, walau ada keluarga lain yang membantu.’


“Bram, aku tidak memaksamu untuk jalan-jalan. Aku tahu Bram pasti punya banyak kesibukan, kita selesaikan saja dulu itu. Lagipula, kita masih bisa berkeliling Jakarta dulu kan? Kalau kamu sangat sibuk sekali, aku bisa pergi bersama Arshinta dan kak Ina.”


Abraham tersenyum, “Terima kasih ya sudah ngertiin aku. Aku janji, kalau semua sudah selesai, kamu mau kemanapun aku bawa,” janji Abraham.


“Janji ya, mana jari kelingkingnya,” Bellova mengeluarkan kelingking untuk melakukan symbol menepati janji.


“Kelingking?”


“Iya, seperti ini,” ucap Bellova menunjuk kelingkingnya.


Abraham mengangkat jari kelingking dan langsung dikaitkan Bellova. Lucu memang seperti anak-anak, tapi Abraham tidak bisa mengabaikannya, takutnya nanti isterinya malu dan ngambek.


“Udah? Begitu saja?”


“Iya, itu artinya kamu sudah berjanji padaku.”


“Bram, tanganmu kenapa?” Bellova menarik pergelangan tangan kiri Abraham.


“Nggak apa-apa kok.”


“Apa ini karena kau memukul orang tadi? Tanganmu berdarah,” ditiupnya punggung telapak tangan Abraham dengan lembut. Dengan satu tangan, Abraham memegang kemudi, sesekali melirik Bellova.


‘Dia sadar gak sih megang tangan aku seperti itu?’


“Pokoknya nanti dirumah, lukanya harus diobati.”


“Bantu aku mengobatinya ya.”


“Iya dong, tangan kamu terluka kan karena aku.”


“Bukan karena kamu, tapi karena orang itu sudah cari masalah.”


“Iya, dia cari masalah karena aku kan?”

__ADS_1


“Hah, terserah kamu sajalah Love.” Abraham mengalah tidak mau berdebat lagi untuk masalah sepele.


__ADS_2