I Love U Honey

I Love U Honey
Suami Tidak Tahu Diri


__ADS_3

Abraham baru memarkirkan motornya didepan kantornya. Sudah ada banyak warga yang berkurumun sambil terus memukul pria sampai berdarah dan bengkak-bengkak.


Adley dan Ridwan berusaha melindungi pria yang digebuki warga dan memasukkannya kedalam tahanan.


“Ada apa?” tanya Bram melepas jaketnya.


“Orang ini telah memperkosa anaknya sendiri,” ucap Ridwan, sambil membawa pria yang sudah sulit dikenali itu.


“Apa? Memperkosa kau bilang?” Abraham terkejut tidak percaya.


“Benar Pak Komisaris, dan anak itu adalah anak kandungnya sendiri yang berusia 5 tahun.” tambah Adley menjelaskannya lagi.


Abraham melihat pria yang lebih tua darinya sudah tidak berdaya. Dia menatap wajah Abraham dengan memelas berharap dikasihani.


Brugh!


Brugh!


Bukannya mendapat rasa iba, Abraham malah menendangnya beberapa kali hingga pria itu terjatuh tidak bisa berdiri. Warga yang menyaksikannya diam dan terkejut, tapi mereka senang kalau si pria bejat itu dihajar.


“Ampun Pak, ampun. Tolong jangan pukul saya lagi, saya bisa mati Pak.” Pria itu memohon ampun dengan melipat tangannya dihadapan Abraham.


“Diam kau! Anak sendiri kau tiduri juga? Dasar binatang kau!!” bentak Bram sambil kakinya terus menendang pria itu.


Ayah korban sekaligus si tersangka menangis meraung memohon ampun. Pakaiannya yang sudah robek karena ditarik-tarik warga sudah berlumuran darah.


“Mati saja kau! Dasar suami tidak tahu diri! Pak Polisi, bunuh saja dia, setiap hari saya disiksa setan ini!” seorang wanita, yang adalah isteri dari tersangka menangis, juga memukul suaminya. Tapi, yang namanya perempuan lemah, pukulannya tidak berarti apa-apa bagi suami bejatnya itu.


“Pak, sebaiknya kita masukkan saja dia kedalam sel,” Adley tidak mau tersangka mati ditangan Abraham, karena nanti pasti ada tuduhan untuknya. Apalagi, pasti banyak orang yang sedang mencari titik kesalahan atasannya.


Abraham mengepalkan kedua tangannya, hatinya panas dan menggebu-gebu melihat si penjahat itu. Akhirnya Adley dan satu rekannya membawa pria itu kedalam sel untuk menghindari amukan massa.


Abraham mengeluarkan tempat minum yang memang setiap hari dibawa dari rumah dan disiapkan isterinya. Untuk mereda emosi, dia meminum air minumnya.


Isteri tersangka masih menangis, dan orang tua juga warganya yang lain berusaha menenangkan wanita itu.


“Bagaimana kejadiannya?” tanya Ridwan mulai menginterogasi.

__ADS_1


“Begini Pak, menantu saya yang bejat itu pulang-pulang dalam keadaan mabuk. Dia meminta agar anak


saya ini melayani nafsunya,” tunjuknya pada isteri tersangka yang juga adalah puterinya yang masih menangis sesunggukkan.


“Tapi karena puteri saya sedang datang bulan dan kondisinya juga lemah karena pengaruh siklusnya itu, menolak keinginan suaminya. Karena tidak terima, Budi, menantu bajing*n itu marah-marah dan mengamuk. Dia memukul anak saya hingga berdarah seperti ini. Lalu saya dan suami saya membawanya ke Puskesmas untuk berobat. Hanya satu jam kami pergi, tapi saat kembali pulang, kami melihat ada banyak warga didalam dan depan rumah. Dan si Budi ini sedang dihajar tetangga. Kami tidak tahu kalau… hiks… hiks… kalau cucu kami, hiks, hiks diperkosanya,” wanita tua itu tak kuasa menahan airmatanya.


Karena ibunya menangis, isteri Budi jadi ikutan menangis dan mereka berpelukan sambil menangis. Ayah sekaligus mertua Budi ikut geram, dia memeluk dua wanita yang sangat berharga baginya.


Abraham kembali marah lagi. Rasanya dia ingin menyiksa orang itu perlahan-lahan agar bisa merasakan sakit yang berkepanjangan.


‘Tolong anda bersabar Pak Bram.’ Ucap Adley dan Ridwan dalam hati bersamaan, melirik Abraham.


“Tolong, tolong hukum mati saja dia Pak. Kami ikhlas anak kami menjanda daripada makan hati dan tersiksa dengannya.” Bujuk ayah isteri.


“Tenang saja Pak, kami akan mengusut kasus ini dan kami pastikan tersangka mendapat hukuman yang layak.” Jawab Adley.


“Pak Polisi! Karena ulahnya itu, si Eli jadi meninggal dunia,” teriak salah satu warga.


“Benar Pak, saya kasihan pada Ibu Dewi karena kehilangan puterinya.” Warga lain juga ikut bersuara.


“Eli?”


“Hah!” Abraham pergi meninggalkan kerumunan dan membiarkan Adley dan Ridwan yang mengurusnya.


Tidak ada yang tahu kemana Abraham akan pergi, tapi tidak keluar dari kantor polisi.


“Saat kami bawa kerumah sakit, ternyata Eli sudah meninggal dalam perjalanan karena kehilangan banyak darah. Bahkan mayatnya masih berada dirumah sakit Pak. Tolong beri keadilan untuk cucu saya, saya mohon Pak.” Ibu Dewi dan suaminya sampai berlutut memohon agar mendapat keadilan dengan memberi hukuman berat pada Budi.


Adley dan Ridwan menyuruh mereka berdiri dan tidak sampai berlutut.


Beberapa Polisi berusaha menenangkan keluarga itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah sel tahanan.


“Aakkkh… akhh… ampun… ampun..”


Adley dan Ridwan saling menatap, seakan mereka tahu apa dan siapa yang melakukannya. Semua orang disana mendengar dengan jelas suara teriakan itu.


“Apa yang terjadi?”

__ADS_1


“Entahlah, apa ada yang disiksa disana?”


Para warga mulai penasaran dan tidak tahu siapa yang sudah berteriak kesakitan itu.


“Ekhem, sebaiknya kalian kembali. Nanti, saat diminta keterangan, kami akan memanggil kalian.” suruh Adley. Tidak mau ada yang berprasangka.


“Tapi pak, bagaimana kalau suami saya tidak dihukum dan dilepas? Saya benar-benar tidak ikhlas Pak.”


“Tenang saja, saya jamin suami anda akan mendapatkan hukuman berat.” Tentu saja Adley sangat yakin itu. Sekarang saja dia tahu kemana atasannya pergi.


Dan benar, Abraham sedang menyiksa seorang ayah yang baru saja memperkosa sekaligus membunuh puterinya.


Dengan sabuk, dia mengayunkan ditubuh pria itu. Sengaja Abraham melepas baju Budi agar kulitnya bisa langsung merasakan ayunan sabuknya.


“Setan! Dasar setan kau!”


“Ampun… ampun..”


“Mengampunimu? Itu bukan tugasku mengampunimu!” sambil terus mengayunkan sabuk tebalnya.


“Tolong, Tuhan saya… Tuhan… bisa memaafkan..” mohonnya terus dan merintih kesakitan.


“Hah! Kalau begitu, biar kau saja yang meminta pengampunan langsung pada Nya! Itupun kalau kau layak bertemu dengan Nya!”


Lagi dan terus lagi Abraham memukul Budi. Tidak perduli sudah seberapa banyak darah dan luka yang terlihat ditubuh Budi.


Semua tahanan yang ada disana juga ikut merasakan ketegangan dan kesakitan dari teriakan Budi. Tidak mau mendapat siksaan dari Bram, mereka bersikap baik dan diam tanpa ada yang menghentikannya.


Tubuh Abraham juga berkeringat hingga membasahi seragamnya. Rambutnya juga berantakan, dan dia tidak perduli.


“Yang benar saja\, hanya karena nafsu s*x mu\, kau tega menodai anak kandungmu sendiri? Harusnya kau melindunginya bukan merusaknya\, breng**k!!”


“Bagaimana ini Pak Adley, seharusnya kita hentikan Pak Bram.Bagaimana kalau nanti orang itu mati?”


“Dia tidak akan mati. Paling, sekarat.” Jawab enteng Adley. Dia juga sangat gregetan dengan kejahatan si Budi itu. Mungkin, kalau tidak ada Bram, dia yang akan melakukan penyiksaan pada pria itu.


“Tapi tetap saja kita harus menghentikannya. Lebih baik dia mati karena hukumannya daripada Pak Abraham disalahkan.”

__ADS_1


“Hah, ya sudah, ayo kita kesana,” akhirnya Adley mengikuti Ridwan untuk menghentikan atasannya yang sedang ‘bermain’ itu.


__ADS_2