I Love U Honey

I Love U Honey
Rencana Punya Anak


__ADS_3

Beberapa jam kemudian.


Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Bram duduk dikursi ruang kerjanya. Seragamnya dibiarkan berantakan sejak secara kasar menyiksa si Budi itu. Hari itu, sudah berapa kali dia marah, pertama dirumahnya karena Sarah dan setelah kembali ke kantor, semakin emosi dengan tingkah seorang pria yang memperkosa hingga meninggal.


Tok! Tok! Tok!


Adley mengetuk pintu lalu masuk.


“Sudah malam, apa anda tidak pulang Pak Bram?” tanya Adley sembari meletakkan berkas laporan barusan.


Abraham melihat jam ditangannya yang sudah menunjuk angka 8.


“Oh iya, kalau begitu aku siap-siap dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi saja aku,” Bram berdiri memakai jaketnya.


“Pak Bram, kondisi tersangka yang baru anda ‘hajar’ itu sedang kritis.”


“Terus?” dia menoleh melihat Adley.


“Apa tidak dibawa kerumah sakit saja? Walau dia adalah penjahat, tapi kita tidak bisa memperlakukannya seperti itu.”


“Hm, ya kau benar. Kalian bawa saja dia kerumah sakit.” Abraham tidak keberatan. Walau dia tidak suka.


“Dan laporan ini?”


“Besok saja aku periksa. Bellova pasti menungguku. Biasanya, kalau belum jam 9 malam, dia akan menungguku untuk makan malam.”


“Ekhem, ya begitulah yang namanya pasangan suami isteri. Teman-temanku yang sudah menikah juga begitu. Si isteri tidak bisa makan kalau suaminya belum pulang.”


“Oh ya?”


Adley mengangguk.


Diambil kunci motor dan keluar dari tempatnya bekerja.


Sementara itu, Bellova memang sedang menunggu kedatangan suaminya di meja makan. Makan malam sudah dihidangkan diatas meja. Sambil menunggu, dia teringat kejadian disiang itu.


Tok! Tok!


Bellova berdiri, berlari menuju pintu untuk dibukakan.


Tidak perlu beberapa kali Abraham mengetuk pintu, karena hanya dalam satu kali ketukan isterinya sudah membukanya.


“Sudah pulang?” Bellova menerima jaket yang diberikan Abraham pada Bellova.


“Hm, kamu pasti belum makan?” tebak Bram melepas kaos kaki, menggantinya dengan sandal rumahan yang tipis.


Bellova menjawab dengan anggukkan.


“Harusnya kau bisa makan lebih dulu, tidak perlu menungguku.”


“Bram bilang mau makan malam bersama. Lagipula aku belum lapar.” Ujarnya menutup pintu kembali.


“Iya sih, tapi kalau sudah lewat jam 7, jangan menungguku lagi. Bagaimana kalau aku sudah makan diluar?” sekarang dia duduk dikursi meja makan.


“Kamu mau makan dulu? Tidak mandi?”


“Enggak usah. Aku sudah lapar, jadi kita makan saja dulu, nanti habis makan aku mandi,” ucapnya sudah bersiap-siap makan.


Bellova meletakkan jaket suaminya dikursi kosong disampingnya. Disiapkan makanan mereka.


Ting!

__ADS_1


Abraham menerima pesan WA dari Adley.


“Hm?” dia mengernyitkan keningnya saat membaca isi pesan.


Baru mau dibalas, sekarang ponselnya berdering. Panggilan dari Adley.


“Baru mau balas, sudah ditelepon saja. Ada apa?”


“Pak, si Budi sudah meninggal.” Ucap Adley.


“Hm? Meninggal?” tanyanya dengan santai, tidak terlalu terkejut.


Mendengar kata ‘Meninggal’, Bellova melihat suaminya. Penasaran, siapa yang sudah meninggal.


“Benar Pak, dia meninggal karena digebuki tahanan yang ada didalam sel.”


“Oh, baguslah. Ya sudah, hubungi keluarganya untuk menjemput dan menguburkan mayatnya.” Bram menerima piring yang sudah terisi dari Bellova.


“Apa?” tentu saja Adley terkejut atasannya mengatakan hal itu dengan gampang.


“Kenapa?” Bram balik tanya.


“Sudahlah, urus saja itu. Aku sedang makan dengan isteriku. Gampang kan untuk mengurusi itu?”


“Baik Pak, saya akan menghubungi keluarganya. Selamat malam Pak.”


Bram meletakkan ponselnya diatas meja setelah mengakhiri panggilan.


Bellova memperhatikannya, menunggu apakah Bram akan bercerita padanya.


“Kenapa? Kau penasaran?” Bram menyadari lirikan Bellova.


“Ada tahanan yang meninggal didalam sel.” Ucapnya mulai menyendokkan makanan kedalam mulutnya.


“Meningga? Apa dia sebelumnya sakit?”


“Dia sakit jiwa!”


“Hm? Sakit… jiwa? Apa bisa orang gila dipenjara?”


“Pft, uhuk.. uhuk.. maksudku, dia bukan orang gila pada umumnya. Hanya mentalnya yang terganggu, maksudku dia kejam dan bertindak gila, aduh… aku bingung menjelaskannya. Yah, pokoknya begitulah.” Setengah lelah Bram menjelaskannya.


Karena Bellova mengerti, dia mengangguk lagi.


“Kejahatan apa yang dia lakukan?”


“Memperkosa puteri kandungnya sendiri hingga tewas.”


Bellova terkejut hingga mulutnya terbuka lebar.


“Mulutnya ditutup, nanti makananmu nyembur.” Ucap Bram melanjutkan makannya.


“Kenapa dia…?”


“Dia meminta isterinya memuaskan nafsu s*xnya, tapi karena isterinya tidak enak badan, dia menolak. Karena itu, si suami ini melampiaskan pada puterinya hingga meninggal.”


Bellova merasa iba pada korban. “Kasihan sekali. Kenapa ada orang jahat yang seperti itu?” suaranya pelan.


“Itulah yang aku maksud, ‘Sakit jiwa’. Dan kata Adley, dia mati digebuki tahanan disana. Para tahanan, paling murka kalau ada tahanan yang masuk bersama mereka dengan kasus pelecehan dan pemerkosaan. Yah, karena itulah mereka mengeroyokinya.”


“Apa Bram juga memukulnya?” tebak Bellova.

__ADS_1


Abraham melihat isterinya, “Ya! Karena aku kesal.”


Abraham melanjutkan makannya sedangkan Bellova masih diam, sedang berpikir.


“Ada apa? Kenapa tidak melanjutkan makanannya?”


“Mmm, kalau nanti kita punya anak, dan saat kau memintaku melayanimu, dan karena aku tidak bisa, apa kau akan melakukan seperti itu?”


“Uhuk… uhuk… uhukkk… apa… uhuk… apa yang kau katakan?” Bram yang terkejut mengambil gelas yang berisi minuman.


“A-aku hanya bertanya saja.”


“Bodoh! pertanyaan macam apa itu?” Bram sangat kesal dengan pertanyaan itu. Bellova jadi gugup.


“Apa kau pikir hanya si ‘orang gila’ itu saja yang menjadi orang tua? Papaku, ayahmu, ayah orang lain, apakah mereka seperti itu?”


Isterinya menggelengkan kepala.


“Tidak kan?! Kamu ini, kenapa bisa sampai bertanya seperti itu sih. Lagipula, apa kau pikir aku ini pria mesum?”


“Maafkan aku, tapi aku hanya bertanya saja. Aku bersyukur kalau kau tidak seperti si orang gila itu.”


Mereka berdua kembali melanjutkan makanannya. Mereka diam.


“Pft, punya anak. Lucu sekali.” Abraham tertawa kecil menggelengkan kepala. Dia pikir, mungkin itu tidak akan terjadi.


“Kenapa? Apanya yang lucu? Anaknya?”


Abraham tidak langsung menjawab. Dia melihat isterinya lekat. Bellova yang tidak mengerti apa yang dibicarakan Bram.


“Lov!”


“Hm?”


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu.” Abraham menatapnya dengan serius.


“A-apa?” Bellova khawatir dengan pertanyaan yang akan diarahkan padanya, belum lagi suaminya menatap seperti marah.


“Tadi kau mengatakan tentang anak. Bagaimana menurutmu?”


“Tentang anak? Maksudnya-


“Apa kau mau punya anak? Anak untuk kita? Yah, karena kita juga sudah menikah beberapa bulan kan.”


‘Ya ampun, kenapa dia bertanya seperti itu saat makan malam. Aku tidak bisa menghabiskan makan malamku.’ Ucapnya dalam hati. Wajahnya memerah hingga ke daun telinga.


Abraham ingin menertawakan isterinya, karena jelas dia melihat perubahan drastis warna wajah Bellova.


“Kalau kau tidak ma-


“Apa Bram mau?” sela Bellova menundukkan wajah.


“Hmmm, yang namanya hubungan pernikahan, pasti akan lengkap kalau punya anak kan? Kalau aku tidak masalah. Tapi kalau kau masih belum siap, tidak apa-apa, aku tidak memaksanya.”


Tidak ada jawaban dari Bellova, dia masih diam.


“Lanjutkan makanmu.”


“Bram kan tidak menyukaiku, apa tidak apa-apa untuk Bram memiliki anak dari wanita yang tidak dicintai?”


“Siapa yang bilang aku tidak menyukaimu?”

__ADS_1


__ADS_2