
“Dimana kau sekarang Angela??” tanya Irwan, suaranya masih belum memelan dan terus berteriak.
“Tidak! Kau tidak boleh pulang ke rumah sementara waktu, kau harus diluar sana dulu!” ucap Irwan, sebelum Angela menjawab pertanyaannya, tiba-tiba dia teringat dengan rencana yang diaturnya dengan rekannya sebelumnya.
“Apa? Papa mengatakan apa?” seakan Angela tidak percaya dengan ucapan papanya.
“Ya! Kau tinggal di hotel atau di villa lain kita, ambil yang diluar Jakarta saja, supaya-
Klik!
“Tidak disangka, sama puterinya sendiri dia bisa tega,” Denis merebut ponsel dan mematikan obrolan.
Sebenarnya, Denis lah yang menyuruh Angela untuk menghubungi Irwan melalui ponselnya sendiri. Selama berdiri di samping Angela, dia mendengar obrolan mereka. Angela tidak mau berbicara pada orang tuanya, tapi karena ancaman dan siksaan dari Denis, dia menghubungi papanya. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut, yaitu sikap acuh papanya sendiri.
“Hey! Kau menangis?”
Angela menundukkan wajahnya.
Greb!
Denis menarik rambut Angel menghadap atap kamar, “Waw, ternyata kau benar-benar menangis ya. Kenapa? Apa kau sakit hati karena ucapan si Irwan itu? Atau, karena dia ternyata tidak khawatir denganmu? Pft, tentu saja kau merasakan seperti itu. Anak dan bapak sama saja, sama-sama bejat!” dilepasnya rambut Angela dengan kasar, sampai membuat Angela terlempar sedikit kebelakang. Angela tidak diikat, mau itu kaki atau tangan. Dibiarkan bebas didalam ruangan yang sangat sempit dan kecil. Tapi dipastikan, tidak ada celah dan kesempatan untuknya bisa kabur.
“Sebenarnya apa yang kau inginkan?! Kalau kau ingin membunuhku, lakukan saja!!”
Plak!
Denis menampar wajah Angela.
“Ck, sudah berapa kali sih aku katakan, jangan berteriak, bodoh!!” bentak Denis, berteriak lebih keras dari suara Angela.
“Kau, masih harus dimanfaatkan dulu. Selain itu, kau harus bertanggung jawab dengan kesalahan pribadimu sendiri!”
Denis menarik dagu Angel, “Berani sekali kau mencoba membunuh wanita yang aku sukai, jadi, kau harus menerima hukuman dariku juga,” ucapnya tersenyum sinis.
Lalu dilemparkannya lagi wajah Angel.
Denis meremas rambutnya, masih berdiri dengan satu tangan dipinggang menatap Angel. Penampilannya yang berantakan, jauh dari wanita cantik dan seksi.
***
Esok harinya.
Abraham dan Adley datang ke tempat Ilham, Anwar dan warga lainnya. Tentu saja ada beberapa Polisi juga ikut bersama mereka berdua.
Semua warga mengerubuni mereka, ingin menyaksikan reka ulang kejadian pencurian itu.
__ADS_1
“Tolong beri jalan dan tempat ya,” ucap Adley pada warga yang semakin banyak itu.
Awalnya penasaran dengan kejadian, tapi setelah melihat Adley dan Abraham, warga malah terpesona pada mereka berdua. Dengan kamera ponsel ditangan, mereka mengambil gambar dan video doble A yang menarik perhatian itu.
Bagaimana tidak terpesona, tubuh Adley dan Abraham lebih sempurna daripada yang lainnya, apalagi seragam yang sesuai dengan bentuk tubuhnya.
Rika, anak perempuan dari Anwar saja sampai datang menghampiri Abraham, “Hallo Pak ganteng, nama saya Rika-
“Hey menyingkirlah! Apa kau tidak melihat pekerjaan kami!” Abraham malah menggeserkan Rika kesamping agar tidak menghalangi jalannya. Warga yang melihat langsung tertawa keras mengejek Rika. Adley sampai harus menahan tawa.
“Jangan kasar-kasar Pak Komisaris, dulu isteri anda juga bersikap seperti ini.” Ucap Adley pelan. Abraham menatapnya kesal. Teringat juga saat pertama kali bertemu dengan Bellova.
“Tapi dia tidak ganjen seperti dia!”
“Tapi-
“Sudahlah! Kita sibuk, apa semuanya sudah disiapkan? Mana Pak Ilham?”
Abraham memanggil Anwar dan Ilham, juga menyiapkan perlengkapan lainnya yang ada disana saat kejadian. Banyak warga yang menyaksikan. Anwar keberatan ikut terlibat, tapi dia tidak berdaya, bukan hanya pada Abraham saja, tapi masyarakat lain, termasuk Herman juga memberi kode padanya untuk menuruti.
Reka ulang mulai dilakukan.
Ilham memulainya mulai dari awal, dari Anwar menghubunginya malam-malam untuk meminta tolong membuka kotak amal.
Bahkan sampai dimana Anwar mulai merekam dan menyuruh Ilham melihat kekiri dan kekanan.
Ilham hanya diam menundukkan wajahnya. Dia yakin tidak akan ada yang percaya.
“Lanjutkan!! Jangan berhenti kalau semuanya belum selesai!” teriak Abraham tidak mendengar alasan Anwar.
Reka ulang dilanjutkan lagi sampai akhir.
Beberapa waktu kemudian, setelah reka ulang selesai. Banyak warga yang percaya dan tidak percaya.
“Pak Herman!”
“I… iya Pak,” Herman datang menghampiri Abraham.
“Jadi, dimana kau saat kejadian terjadi?”
“Saya… saya,” Herman gugup. Dia melirik Anwar.
“Jangan melihat kesana! Aku bertanya padamu, kalau ada kebohongan yang kau keluarkan, kau akan dipenjara juga karena terlibat bekerja sama.”
“Tidak Pak, tidak! saya tidak tahu apa-apa,” Herman mengangkat tangan dan menggoyangkan kekiri dan kekanan tanda kalau dia tidak terlibat dengan Anwar.
__ADS_1
“Jadi kenapa kau yakin pada Anwar kalau Ilham yang melakukannya?”
“Itu, itu karena dia memberikan saya bukti rekaman videonya,” wajahnya menunduk.
“Bukankah beberapa waktu sebelum reka ulang, kau mengatakan kalau kau ada bersama Anwar saat perekaman video?”
Herman menelan salivahnya, seperti orang yang tertangkap basah. Wajah dan punggungnya basah karena keringat.
“Maafkan saya Pak, saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Itu karena Anwar yang menyakinkan saya dan menyuruh saya mau bersaksi kalau Pak Ilham pencurinya.”
“Pak Herman apa yang anda katakan?” Anwar tidak terima.
“Diam!” tunjuk Abraham pada Anwar yang tidak jauh dari mereka. Abraham mulai menceritakan dan mengeluarkan saksi dan bukti kejahatan Anwar. Bukti yang paling kuat adalah dari ponsel Ilham yang isinya pesan antara Anwar dan Ilham. Anwar mengancamnya akan diusir dari kampung kalau tidak mau datang malam itu untuk membukakan kotak amal.
“Adley! Bawa Anwar, dan Herman ke kantor sekarang!”
“Baik Pak!”
“Tidak, tidak, tidak! Apa yang kalian lakukan? Harusnya Ilham yang ditahan, bukan saya! Kalian salah orang!” Anwar terus berontak tidak terima sebagai tersangka. Sama seperti Anwar, Herman juga berteriak minta dilepaskan dan minta maaf berkali-kali.
Warga semuanya berbisik tidak menyangka sampai menggelengkan kepalanya.
“Ya ampun, ternyata Ayahmu penipu dan pencuri ya Rika,” ucap salah satu warga pada Rika.
“Pantas saja, setiap hari mereka sering belanja dan makan diluar, jadi mereka suka mengambil uang sumbangan.”
“Tidak tahu malu sekali ya.”
Karena malu, Rika dan ibunya berlari masuk kedalam rumahnya. Anwar sempat melihat anak dan isterinya pergi.
Ilham dilepaskan, kembali pada keluarganya. Warga yang awalnya benci dan menyalahkan Ilham, mulai sadar dan meminta maaf.
“Akh, akhirnya selesai juga. Ayo kita pergi,” ucap Abraham masuk kedalam mobilnya lebih dulu.
Adley pergi menghampiri Ilham yang masih sibuk bersalaman dengan warga karena merasa bersalah.
“Permisi Pak Ilham,”
“Iya Pak?”
“Ini dari Pak Abraham, tolong digunakan dengan baik, kalau begitu kami permisi dulu,” Adley memberikan amplop cokelat pada Ilham. Cukup tebal.
“Tapi Pak-
“Ambil saja, Pak Abraham tidak suka penolakan, anggap saja itu rejeki untuk anda.” Ucap Adley melanjutkan langkahnya menuju mobil dimana Abraham menunggu.
__ADS_1
“Terima kasih Pak Abraham, terima kasih!”