
“Selamat pagi Bu Arshinta.”
“Selamat pagi juga Bu. Lagi antar anak?”
“Iya Bu. Karena ini hari pertamanya masuk di sekolah yang baru.”
“Oh, iya Bu, tidak apa-apa. Anda tidak usah khawatir dengan anak-anak, karena guru yang mengajar mereka sudah terlatih.”
“Iya Bu Shinta, saya dan ibu-ibu lain juga percaya kok. Saya, secara pribadi saja sering mendengar banyak anak-anak disini, yang memenangkan lomba. Saya tidak berharap banget anak saya memenangkan lomba, yang penting bisa lulus, dapat nilai yang cocok, itu saja.”
Obrolan antara Arshinta dan beberapa orang tua murid yang mengantarkan anak mereka. Beberapa hari yang lalu mereka datang untuk mendaftarkan anak-anak mereka. Arshinta juga baru mengantarkan Rakha ke ruang kelas TK.
Sebentar, orang tua murid mengajak Arshinta mengobrol sebelum dia kembali ke ruangannya.
“Selamat pagi Bu Shinta,” sapa dari seorang wanita yang berdiri dibelakang mereka. Arshinta dan yang lainnya menoleh melihat kebelakang, yang ternyata adalah Irma.
“Pagi Bu Irma,” balas Arshinta, tersenyum ramah. Hanya dirinya saja yang menyapa balik Irma, sedangkan yang lainnya hanya diam, melirik sinis pada Irma.
“Bu Shinta, kenapa anak orang kaya harus sekolah disini juga sih Bu? Padahal kan, dia pasti bisa menyekolahkan anaknya di sekolah yang lebih mahal dan terkenal.” Ucap salah satu dari orang tua murid yang menatap Irma sinis.
“Tidak apa-apa Bu. Siapa saja bisa sekolah disini, meski yang di prioritaskan adalah anak-anak kurang mampu. Selama mereka bisa saling menghargai dan tidak membully, saya terima.” Jawab bijak Arshinta.
“Tapi kan Bu, anaknya itu terkenal nakal dan suka bikin onar loh.”
“Dari mana anda tahu?”
Irma, yang jelas mendengarnya namun tidak berani berkumpul dengan mereka, juga tidak mau membuat Arshinta tidak nyaman.
“Anak saya dulu satu kelas dengan anaknya. Anak saya sering melihat anaknya bikin onar, melawan kalau disuruh gurunya. Pokoknya anaknya gak baik deh Bu.”
“Benar Bu, takutnya nanti, karena pengaruh anak itu, yang lainnya jadi ikut-ikutan.” Para ibu-ibu itu sepakat tidak menyukai Irma, juga puteranya Robert.
Irma pergi, meninggalkan mereka dengan wajah sedih. Arshinta melihat kepergian Irma. Rasanya dia ingin menghampiri wanita itu, tapi para orang tua murid menahannya dengan alasan pendidikan.
Satu jam kemudian, Arshinta sudah kembali keruang kerjanya. Sambil memeriksa catatan pekerjaan dan dibantu Ruly.
“Rully.”
“Iya Bu?”
“Tolong kamu perhatikan murid yang bernama Robert Wijaya di kelas 2A ya.”
__ADS_1
“Iya Bu. Kalau boleh saya tahu, memangnya ada apa Bu?”
“Ada orang tua murid yang mengatakan padaku, kalau murid yang bernama Robert itu anak yang nakal dan suka bikin onar. Yah, walaupun tidak sepenuhnya aku percaya. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita juga ikut memperhatikan? Takutnya, itu hanya rumor jelek saja.”
“Baik Bu. Tapi menurut saya, itu hanya rumor jelek saja. Walau saya baru melihat anak itu, tapi terlihat kalau anak itu sopan dan ramah. Tapi saya akan tetap memperhatikannya.”
“Yah, aku juga berpikir seperti itu.”
***
“Pen-didikkan adalah pem-bela-jaran pengetahu-an, keteram-pilan, dan kebi-asaan se-se- sekelompok orang yang diturunkan dari satu ge-ge generasi ke gene-rasi berikutnya melalui pel-pela-jaran-
“Pengajaran! Dibacanya pengajaran!”
“Oh iya, penga-jaran, pela-tihan atau pen- pen-
“Penelitian!”
Hari ini, Bellova diajarkan membaca. Sarah menyuruhnya membaca buku tentang pendidikan. Masih terbata-bata
membaca, Sarah terlihat kesal karena orang yang diajarkan kesulitan membaca. Berulangkali juga dia memperbaiki cara Bellova membaca.
Bellova hanya diam saja mendengarkannya.
“Walau anda memiliki suami yang kaya, terkenal dan tampan seperti sekarang, anda jangan langsung berpuas diri dan tidak mau belajar. Bagaimana jika suatu saat suami anda menceraikan anda? Bagaimana jika suami anda menyukai wanita lain yang cantik dan pintar? Apa yang akan terjadi pada anda?”
“Apa anda mau kehilangan suami sempurna anda?” tanya Sarah, yang duduk di sofa sambil memakan anggur yang masih ikut dengan rantingnya. Sarah menggenggam dalam satu ranting bergerombol. Padahal, Bellova paling suka dengan buah yang masih ikut dengan ranting atau daun, seperti jeruk dan anggur. Menurutnya, terlihat indah.
Bellova menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Sarah.
“Jelas saja anda tidak mau. Tapi kalau itu terjadi, anda juga harus menyiapkan hati dan kondisi anda. Ingat Bu Bella, suami anda sangat tampan dan kaya, pasti banyak wanita-wanita diluar sana yang mengejar cinta dan perhatian suami anda.”
“Itu makanya saya minta diajarkan.”
“Apa? Anda menjawab saya?” Sarah tidak suka mendengar suara Bellova walau pelan.
Bellova mengangkat kepalanya melihat Sarah. Dia yang duduk dilantai dengan beralaskan bantal kecil yang tipis untuk alasnya duduk.
“Bu Sarah, suami saya membayar anda untuk mengajari saya, membaca, menulis dan menghitung. Anda dibayar
dengan gaji yang besar. Jadi, sudah tugas anda mengajarkan saya sampai saya bisa.” Ucap Bellova. Dia sebenarnya gugup dan takut. Bahkan jari-jarinya meremas ujung baju menutupi ketakutannya.
__ADS_1
“Pft, memangnya anda yang membayar saya?” tawa sinis Sarah, memasukkan sebutir anggur kedalam mulutnya dengan angkuh.
“Memang bukan saya yang membayar anda, dan itu suami saya-
“Nah, itu tahu. Anda tahu tidak kenapa suami anda menyuruh anda belajar?” wajahnya menyindir Bellova.
“Itu karena suami anda malu dan risih punya isteri bodoh seperti anda!” Sarah menunjuk Bellova dengan jari telunjuknya.
“Suami saya tidak menyuruh saya belajar, tapi saya sendiri yang meminta!” teriak Bellova sembari berdiri.
Suasana diam sesaat, tapi tidak membuat Sarah takut atau gugup malah membuatnya semakin kesal.
“Bahkan suami saya tidak mempermasalahkan saya jika saya bodoh atau pintar. Karena dia menjamin hidup saya dan tidak akan meninggalkan saya!!” kali ini Bellova benar-benar kesal. Bagaimana dia tidak kesal, orang lain dengan gampangnya menilai hubungan mereka. Apalagi sampai menyinggung bodoh atau pintar.
“Dari mana anda tahu kalau suami anda tidak akan meninggalkan anda? Apa anda 24 jam bersama suami anda? Apa anda tahu, apa yang dilakukannya diluar sana?” Sarah pun ikut berdiri, masih menggenggam anggur ditangannya.
“Saya-
“Anda pasti tidak tahu kan? Mungkin dia menikahi anda, karena anda menjebaknya, atau karena kasihan. Yah, walaupun itu tidak masalah bagi anda karena yang penting, anda bisa tinggal dengannya. Iya kan?”
“Saya tidak menjebaknya!!!” teriak Bellova, mengepalkan kedua tangannya. Matanya bahkan mulai berkaca.
Tok!tok!
Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Sarah dan Bellova melihat kearah pintu, karena mereka berdua juga mendengar suara.
Sarah melihat Bellova tersenyum sendiri, ‘Kenapa dia tersenyum? Apa dia juga gila?’
Bellova segera berjalan mendekati pintu untuk dibukakan. Dan Sarah, kembali duduk sambil menikmati anggur merah yang sangat menggiurkan.
.
.
.
Siapa ya yang mengetuk pintu?
Ada yang gregetan juga dengan Sarah?
Jangan lupa Like dan Komentnya.
__ADS_1