I Love U Honey

I Love U Honey
Pasar Buah


__ADS_3

Beberapa jam kemudian, Sarah selesai memberi pelajaran pada Bellova. Selama jam pelajaran, Sarah hanya duduk sambil mengunyah kue tart sampai penuh dimulutnya. Dan Bellova, hanya belajar sendiri, masih belajar menulis. Padahal, ada pelajaran lain yang diinginkannya.


Sudah hampir jam 4 sore, Sarah ingin kembali pulang. Krim kue masih menempel dipinggiran bibir Sarah, dan satu adonan kue tart habis, bahkan krim yang menempel dipinggiran tempatnya pun dijilatnya.


“Baiklah Bu Bella, karena jam belajarnya sudah selesai, sudah waktunya saya pulang,” Sarah berdiri, merapikan buku-buku dan memasukkannya kedalam tas.


“Bagaimana dengan tulisan saya Bu, apakah-


“Masih sama Bu Bella, mungkin karena sudah tua dan tidak pernah belajar dengan waktu yang lama, tangan anda masih kaku. Tapi tenang saja, saya pasti bisa menunggu kemajuan dari jari-jari anda, jangan berkecil hati ya.” ucapnya tersenyum palsu.


“Oh ya Bu, saya boleh minta sesuatu gak?”


“Apa Bu?” Bellova sudah berdiri dihadapan Sarah.


“Saya tadi tidak sempat membeli daging untuk suami saya karena terburu-buru, dan saya lihat ada daging di kulkas anda, jika anda tidak keberatan, boleh tidak saya pinjam dulu, besok saya ganti lagi?”


Bellova mengernyitkan keningnya, ragu-ragu untuk memberikan pada Sarah. Dia menggaruk kepala belakangnya untuk memberi jawaban.


‘Mikir apa sih kok lama benar.’


Sarah berinisiatif sendiri jalan ke dapur, “Saya hanya minta sedikit saja kok, suami saya kelaparan dirumah. Sudah siang begini, pasti daging diwarung juga sudah habis.” Ucapnya sambil berjalan terus kedapur.


Bellova mengikuti Sarah dari belakang. Antara ragu-ragu, canggung dan tidak enakkannya dia melarang Sarah.


***


Satu jam kemudian. Sejak Sarah pulang dari rumahnya, Bellova duduk termenung disofa. Wajahnya merasa


bersalah dan kebingungan. Ujung pakaiannya beberapa kali dilipatnya kecil-kecil.


Sudah berapa kali Abraham mengetuk pintu, tapi Bellova belum membukanya. Hingga akhirnya telepon dirumah berdering.


“Hallo?”


“Ya ampun Love, kamu ada dimana?” terdengar suara Abraham yang kesal.


“Bram?”


“Iya, ini aku, suamimu. Kau ada dimana sekarang?”


“Aku dirumah, kenapa?”


Abraham tidak langsung menjawabnya, tapi helaan napasnya terdengar jelas, helaan yang sangat dalam. Seperti mau marah tapi masih berusaha mengendalikannya.


“Bram?”


“Sekarang, bukakan pintunya,” suruh Abraham.


“Abraham ada dimana?”

__ADS_1


“Di depan pintu, sekarang bukakan pintunya.” Didepan pintu, Abraham memejamkan mata, mengatur volume suaranya agar tidak terdengar marah oleh isterinya.


“Kamu sudah pulang? Kenapa-


“Nanti lagi bertanya isteriku. Sekarang, pergi, ke, pintu, dan, buka!” masih berusaha menahan intonasi nada suaranya.


Bellova menutup teleponnya dan berlari menuju pintu.


Ceklek!


“Bram, kenapa kamu tidak mengetuk pintu?”


“Sudah, sudah berapa kali aku mengetuknya, tapi kau masih tidak membukanya juga. Aku pikir kau tidak ada dirumah makanya aku telepon,” Abraham masuk, hanya melepas sepatunya saja. Bellova merapikan letak sepatu suaminya.


Suaminya mendaratkan bokongnya dan duduk disofa. Bellova masih ada didepan pintu dan diam.


“Apa yang kamu lakukan disana? Kamu tidak mau kesini?” dia menoleh kebelakang.


“I-iya, aku tutup pintunya dulu.”


Sambil menunggu isterinya, Abraham melihat tulisan dan alat-alat tulis Bellova.


“Maaf, tulisannya masih jelek,” Bellova sudah datang dan berdiri dihadapan Abraham.


“Hanya begini saja untuk apa kau meminta maaf, ini bukan kesalahan besar. Bisa ambilkan air dingin? Aku sangat haus.” Abraham masih memperhatikan buku tulisan isterinya.


“Iya, sebentar ya,” Bellova pergi ke dapur.


“Ini minumnya,” Bellova datang, dengan segelas air dingin masih ada batu esnya.


“Terima kasih,” tanpa menunggu, dia langsung menghabiskan minumannya dalam satu kali tegukan.


“Ah, lega banget. Kamu tidak bersiap-siap?” diletakkannya kembali gelas diatas meja, sambil melihat Bellova.


“Kemana?”


“Ke pasar buah, apa kamu lupa?”


“Oh, iya. Aku sudah siap.”


“Tidak mau mengganti pakaian dulu?”


“Tidak, pakaianku masih bersih kok, tidak bau dan berkeringat,” diciumnya pakaiannya dibagian lengan.


“Oke, oke, tidak perlu sampai menciumnya seperti itu.”


Abraham berdiri, merapikan kembali seragamnya, “Baiklah, ayo kita pergi.”


“Iya.”

__ADS_1


Tidak perlu kekamar untuk mengganti pakaian atau berdandan, hanya membawa tas kecil miliknya saja.


Setelah mengunci pintu, mereka pergi.


Ditempat lain, Sarah sedang asik memasak makanan untuknya dan suaminya.


“Ada untungnya aku bekerja disana, selain dapat banyak buah, ada banyak daging dan sayuran lainnya. Heran deh, yang tinggal hanya mereka berdua saja, tapi kenapa kulkasnya sangat penuh”


“Kamu masak apa Bu?” suami Sarah datang dibelakangnya dan melihat isterinya sedang memasak.


“Masak rendang daging sapi, sebentar lagi mateng,” ucapnya mengaduk-aduk masakan.


“Kamu beli dimana?”


“Aku tidak membelinya.”


“Terus?”


“Aku minta pada muridku. Yah, meski dia sudah tua dan sudah menikah, tapi dia adalah muridku sekarang, mulai dari aku mengajarnya. Tolong siapkan piring dan nasinya diatas meja, aku akan memindahkannya.”


Abraham dan Bellova baru tiba di pasar buah, disalah satu daerah kota Jakarta. Mereka berjalan kaki untuk masuk kedalam  dan memarkirkan mobilnya. Para pedagang sudah banyak memanggil mereka agar datang ketempatnya.


Bellova melihat kekiri dan kekanan, tempat mana yang ingin dia pilih untuk memilih buah.


Abraham mengikutinya dari belakang, tidak terlalu jauh dari isterinya, sambil sesekali melihat jam tangan dan ponsel ditangannya.


Karena Bellova sudah berhenti di toko buah yang dia pilih, Abraham menunggunya untuk selesai memilih.


“Kurangi dong Bu harganya, mahal sekali, biasanya kan tidak semahal ini harganya,” tawar Bellova pada mangga harum manis yang ditangannya.


“Gak bisa kurang lagi loh, itu sudah harga pasnya. Kalau dikurangi lagi, apa untuk kami lagi?”


Abraham mendengar isterinya dan sipenjual membicarakan harga. Dirinya yang masih sibuk dengan membalas pesan dari Adley sebentar melihat dagangan sipenjual.


Dilihatnya buah yang dijual bagus dan membuatnya tertarik, “Sudah, ambilkan saja Love, tidak perlu ditawar-tawar lagi,” ucap Abraham tanpa berbisik. Sipenjual yang mendengarnya merasa senang karena pria itu tidak masalah dengan harganya.


“Tapi Bram, waktu itu, ketika aku membelinya harganya tidak semahal ini.”


“Tidak apa-apa, beli saja yang ini, tidak perlu khawatir dengan harganya.”


“Nah begitu Pak. Kami pedagang kecil ini tidak ambil untung banyak, hanya sedikit saja. Harga buahnya juga kadang tidak tentu, bisa naik, bisa juga turun. Belum lagi jika ada buahnya yang busuk, padahal kami membelinya kontan dan mereka tidak mengurangi barang yang busuk.” Si ibu penjual berharap dikasihani.


“Ya sudahlah. Aku mau membelinya.”


Karena isterinya setuju, Abraham kembali fokus lagi pada ponselnya yang sempat berhenti karena mendengar suara Bellova.


Di satu toko buah itu, Bellova sudah mendapatkan buah apa saja yang mereka inginkan. Pir korea, apel, mangga , anggur dan pisang. Dibeli pun bukan sekilo dua kilo, melainkan 8 kilo. Karena mereka berdua, sangat suka makan buah. Malahan, hampir setiap tengah malam mereka terbangun dan ingin memakan buah.


“Apa ada lagi yang mau dibeli?” tanya Abraham, dia lebih banyak membawa plastik belanjaan daripada Bellova.

__ADS_1


“Mmm, gimana ya,” Bellova kembali ragu-ragu mengatakannya. Dia menggaruk kepala, padahal tidak gatal.


__ADS_2