
“Bram, maafkan aku,” wajah Bellova memelas, melipat bibirnya seakan ingin menangis.
“Maaf? Kenapa? Apa yang kau lakukan?” tanya Abraham. Dia tidak tahu dan tidak mengerti apa alasan isterinya berbicara seperti itu.
“Apa kau melakukan sesuatu yang salah besar?”
Bellova menjawab dengan anggukan kepala, bahkan matanya terlihat ingin menangis. Tentu saja membuat Abraham panik, apalagi mereka masih berdiri ditengah pasar dengan orang banyak yang sedang berlalu lalang.
Jari-jarinya memainkan ujung pakaiannya, menundukkan wajah.
“Apa sih? Kesalahan apa yang sudah kau lakukan?” Abraham mulai gerah, dia menggaruk kepalanya yang gatal karena keringat.
“Love, kalau aku bertanya padamu, jawab dan lihat aku,” ucap Abraham, kedua tangannya sudah pegal dengan dua tentengan plastik besar.
Isterinya langsung mengangkat wajahnya, bibirnya masih ditekuk. Suaminya masih menunggu jawaban.
“Semua isi dalam kulkas kita sudah habis.” Kalimat yang keluar dari mulut Bellova. Abraham terkejut, bukan karena pengakuan dari Bellova, tapi saat isterinya meneteskan airmatanya.
Abraham menekukkan wajahnya, “Pasti Bram marah padaku.”
“Kenapa aku harus marah padamu?” Abraham bertanya dengan cepat.
“Itu karena isi kulkas yang kosong. Kau pasti marah, karena baru kemarin kita belanja dan memenuhi kulkas, tapi sekarang kosong, tidak ada apa-apa lagi.” Jawabnya, suaranya memelan.
Bellova sangat merasa bersalah. Karena ketidakmampuannya berbicara didepan Sarah, membuatnya harus menanggung rasa bersalah dengan suaminya.
Abraham menatap isterinya yang masih menundukkan wajah.
Brugh!
Karena pasar sangat ramai, beberapa orang tidak sengaja menabrak mereka, seperti yang dialami Abraham, “Hey! Apa kau tidak punya mata?” teriak Abraham saat seseorang menabraknya, pergi tanpa mengucapkan kata maaf.
“Salah siapa? Makanya kalian berdua jangan diam bengong ditengah jalan, gak lihat apa banyak orang yang lewat kesana kemari?” balas pria itu sambil melanjutkan langkahnya.
“Apa kau bilang?” Bram ingin mengejar orang itu, tapi Bellova menahan tangan suaminya sehingga tidak bisa pergi, “Jangan dikejar lagi Bram.”
Lagi, Abraham kembali menatap isterinya yang berlanjut menundukkan wajah. Sampai sekarangpun, Abraham masih memiliki temperamental yang tinggi. Dia tidak tahu, apakah dia marah atau kesal pada Bellova.
“Hah, sudahlah! Kita bawa dulu ini kedalam mobil, lalu kita penuhi lagi kulkasnya,” ucapnya berjalan lebih dulu dengan kedua tangan membawa belanjaan yang cukup berat. Bellova mengikutinya dari belakang, masih merasa bersalah.
Didepan Lova, suaminya terus berjalan tanpa menoleh kebelakang melihatnya. Biasanya, suaminya selalu menunggunya hingga mereka berjalan berdampingan. Atau, Bram menoleh kebelakang melihat dirinya mengikuti atau tidak.
__ADS_1
Masih diam, Abraham memasukkan semua belanjaan buah itu kedalam bagasinya.
“Biar aku saja!” ucap Abraham saat Bellova ingin membantu memasukkan bungkusan buah kedalam bagasi.
Karena dilarang secara tiba-tiba, Bellova sempat kaget dan menarik tangannya kembali.
‘Dia benar-benar marah padaku.’ Batinnya.
Semua sudah selesai dimasukkan, pria itu merapikan jaketnya yang sempat terangkat keatas saat membuka bagasi. Melihat wajah suaminya berkeringat, Bellova mengeluarkan tissue untuk mengeringkan keringat suaminya.
“Tidak usah! Nanti berkeringat lagi,” tolak Abraham lagi. Tangannya menghalangi tangan isterinya yang hampir menyentuh wajahnya. Kembali, Bellova merasa bersalah sekaligus sedih.
“Apa dulu yang mau kita beli?” tanya Abraham, melihat jam ditangannya yang menunjukkan waktu hampir jam 6 sore.
“Bagaimana kalau kita beli ikan dan daging dulu, nanti setelah selesai membelinya,kita beli bumbu-bumbu dapur. Lalu telur, dan beberapa sayuran-
“Oke, kita langsung jalan kesana,” sela Abraham, berjalan lebih dulu.
Sudah berapa langkah kaki, tapi dirasanya Bellova belum jalan menyusulinya, “Kenapa tidak jalan? Apa kau sudah lelah? Mau tunggu didalam mobil saja?” tanyanya, berjalan kembali mendekati isterinya.
“Tidak, aku tidak lelah, aku ikut saja.”
“Kalau begitu ayo, ini sudah mau malam,” ajak Abraham, menggenggam tangan isterinya sambil berjalan berdua.
Abraham bisa menggenggam tangannya, karena barang belanjaan ditangannya sudah dipindahkan kedalam bagasi.
Karena bumbu-bumbu dapur yang terlihat lebih dulu, mereka mampir dan membelinya. Tomat, cabe, bawang dan lainnya.
Pembelinya juga sangat banyak, sehingga Bellova harus menunggu dipaling belakang sambil memilih-milih bawang merah dan bawang putih. Karena tidak mau berada dikerumunan orang, Abraham hanya berdiri tidak jauh dari Bellova dan memperhatikan isterinya yang sangat serius memilih.
Hanya sekilas, Abraham melihat kekiri, dimana orang ramai membeli sayuran. Dia mengernyitkan kening dan menghampiri seorang wanita dan seorang pria yang berdiri dibelakangnya.
Tak!
Abraham menangkap tangan pria itu, tangannya yang masuk kedalam tas milik wanita yang sibuk memilih belanjaan. Pria itu melihat Abraham yang menangkap basah dirinya.
“Kau mau mencuri ya?” tanya Abraham, menantap pria itu dengan tajam.
“Siapa yang-
“Itu! Kenapa ada dompet ditanganmu?” liriknya pada dompet yang sudah ditangan pria itu, hanya belum keluar dari tas si wanita.
__ADS_1
Si pemilik dompet melihat kebelakang karena mendengar suara pria.
Si pencuri ketakutan, dia berusaha menarik tangannya dan ingin kabur. Tapi Abraham menggenggamnya dengan sangat erat, sambil menatapnya dengan tajam.
Si pencuri itu ingin memukul wajah Abraham, tapi Abraham segera menangkap tangan itu, sehingga kedua tangannya sekarang sudah ditahan Bram.
“Tolong lepaskan saya, saya mohon,” pinta pria itu. Wajahnya memelas agar dilepaskan Abraham. Seperti ingin menangis karena bendungan airmatanya ingin keluar.
Tiga orang itu saling menatap, “Biarkan saja dia pergi Pak,” si pemilik dompet pun membujuk Abraham untuk melepasnya. Wanita itu merasa kasihan dengan orang yang ingin mengambil dompetnya, apalagi pria itu lebih tua dari mereka berdua, dan sangat kurus juga pakaian yang lusuh.
“Tidak bisa! Dia harus dibawa ke kantor polisi karena melakukan kejahatan-
“Pak, tolong lepaskan saya,” ucap sipencuri sambil melipat tangan memohon.
“Benar Pak, lepaskan saja dia, saya kasihan melihatnya.” Si wanita pun ikut memohon.
Padahal ada banyak orang yang memperhatikan mereka.
“Apa yang terjadi?”
“Pria itu mencuri.”
“Hajar saja dia! Biar tidak mencuri lagi,”
Begitulah komentar-komentar dari mereka yang melihat Abraham, dan dua orang yang terlibat dengannya.
“Dompet saya sudah ada ditangan, dan tidak ada yang kurang sepeserpun, jadi lepaskan saja dia Pak,” wanita itu masih berusaha membujuk Abraham melepaskannya.
‘Kenapa si korbannya malah memohon begini, seperti aku saja yang salah.’
Dua orang itu semakin memelaskan wajahnya.
“Baiklah, tapi jangan pernah melakukannya lagi! Kali ini kau bisa selamat, tapi tidak untuk lain kali, bisa saja kau mati digebukin warga.”
“Iya Pak, saya tidak melakukannya lagi, saya jera Pak.”
“Ini Pak, ini untuk anda, pakailah,” siwanita mengeluarkan uang dari dompet dan diberikan pada pria setengah tua itu. Setelah menerima uang dan berterima kasih, diapun pergi sambil mengucapkan terima kasih.
“Sekali lagi terima kasih ya Pak,” ucapnya memasukkan dompet kedalam tasnya.
“Kenapa anda melepasnya?”
__ADS_1
Wanita itu tersenyum sedikit sambil menghela napas, “Saya kasihan padanya, saya rasa, dia memiliki alasan yang membuatnya terpaksa melakukannya. Saya yakin, sebenarnya dia tidak ingin melakukannya.”
Karena ucapan wanita itu, Abraham teringat dengan isterinya, Bellova.