
Wajah Bellova sangat serius mengerjakan tugas yang diberikan Guru Sarah. Lima jari ditangan kanannya terasa pegal saat menggunakan pulpen dengan erat. Matanya juga menatap tajam pada tulisan di buku bacaan. Guru Sarah menyaksikan sambil meminum jus mangga dan aneka buah yang disiapkan Bellova.
Diangkatnya kaki keatas meja sambil digoyangkan kekiri dan kekanan, sedangkan Bellova belajar menulis dengan duduk dilantai dan menggunakan meja yang sama dimana kaki Sarah disandarkan.
“Maafkan saya ya Bu Bellova, kaki saya pegal dan tidak kuat jika lama-lama ditekuk,” ucap Sarah. Suaranya sangat lembut dan halus.
“Tidak apa-apa Bu Sarah,”Bellova mengijinkannya, dan dia juga sangat fokus belajar menulis huruf cetak.
‘Hanya begini saja dia tidak bisa. Sebenarnya dia lulusan apa sih?’
“Maafkan saya Bu, sebelumnya apa anda pernah sekolah? Maaf nih ya jangan tersinggung.”
“Saya… saya hanya lulusan SD saja kok Bu.” Jawab Bellova tanpa malu atau sungkan.
‘Apa? Cuma lulusan SD? Dan dia bisa menikah dengan Pak Abraham? Pria sempurna seperti dia? Apa yang dia lakukan untuk menikahinya?’
“Ekhem, sepertinya suami anda sangat perhatian sekali pada anda ya.”
Bellova tersenyum kecil, tapi tidak menjawab ucapan Sarah.
‘Apa dia baru tersenyum? Tapi kenapa dia mengabaikanku?’
‘Yah, bodo amatlah! Yang penting aku digaji untuk mengajarnya kan.’
“Bu Sarah, aku sudah menyelesaikannya,” Bellova menunjukkan hasil tulisan tangannya pada Sarah dengan bangga.
Sarah menerima buku tulis itu, ‘Ya ampun, jelek sekali.’
Bellova menunggu reaksi positif dari Gurunya.
“Yah, gimana ya, untuk pemula, tidak apa-apa lah. Meskipun tulisan anak kecil yang masih SD lebih baik tulisan tangannya daripada tulisan anda. Tapi anda jangan putus asa, namanya juga anda sedang belajar kan?” sindir Sarah.
“Terima kasih Bu Sarah.” Bellova tersenyum lagi, dia menganggap itu adalah benar-benar pujian untuknya.
“Apa anda mau belajar menulis lagi?”
“Iya Bu Sarah, saya mau belajar menulis lagi,” ucapnya dengan semangat, pulpen juga masih berada dalam jepitan jarinya.
Bibir Sarah tersenyum, ‘Hm, dasar bodoh! Apa kau pikir kau bisa pintar?’
__ADS_1
***
“Sudah siang, apa Nyonya Bellova tidak datang mengantarkan makan siang anda, Pak Abraham?” Ridwan bersiap-siap untuk keluar, makan siang.
“Tidak, mulai sekarang dia tidak datang ke sini untuk mengantarkan makan siangku lagi,” Abraham juga bersiap-siap keluar, sedang memakai jaketnya.
“Loh, kenapa? Anda tidak bertengkar lagi kan?” sela Adley yang ikut mendengar.
“Ngomong apa sih Dley? Siapa bilang kami bertengkar?”
“Tidak ada sih Pak, cuma aneh saja kan. Biasanya anda akan menunggu kedatangan isteri anda. Iya kan Ridwan?”
“Betul tuh. Jam segini pasti lihatin jam ditangan dan sering keluar ruangan melihat depan kantor.” Ridwan memang menyadari tingkah atasannya.
“Isteriku sedang belajar. Waktu itu dia meminta untuk belajar lagi, jadi aku membuatnya belajar di rumah, Home Schooling.”
“Oh..” Adley dan Ridwan mengangguk bersamaan.
“Belajar apa Pak? Belajar memasak? Menjahit atau belajar menjadi isteri yang baik?”
“Pft,” Adley tertawa kecil.
Adley dan Ridwan bingung, “Belajar seperti di sekolah? Tapi kenapa Pak?” tanya Ridwan lagi.
Abraham melihat dua anak buahnya satu-persatu, “Yah, itu karena permintaannya saja. Apapun alasannya, selama aku pikir baik dan berguna, aku akan mengijinkannya.”
“Tapi Pak, memangnya Nyonya sudah lupa dengan pelajaran yang sudah dipelajarinya di sekolah? Saya rasa, dia masih muda dan belum lama lulus sekolah. Jika dia lulus SMA di umur-
Adley menyenggol sikut Ridwan, memberi kode untuk diam dan melirik Abraham. Ridwan pun diam, tidak melanjutkan kalimatnya.
“Isteriku hanya lulusan SD saja. Dia tidak terlalu tahu untuk pelajaran-pelajaran saat disekolah. Tapi karena memiliki semangat untuk belajar, aku mendukungnya.” Abraham memberitahukan tentang pendidikan isterinya. Dia tidak malu mengatakannya.
“Makanya aku minta tolong pada Arshinta untuk mencarikan Guru yang bisa mengajarkan Bellova. Tanpa minder, tanpa hukuman fisik, tanpa sindiran. Pokoknya yang bisa mengajarnya dengan sabar.”
“Dan anda sudah menemukannya?”
“Iya, kami sudah bertemu dengannya kemarin, dan hari ini adalah hari pertama Bellova di ajarkan. Aku lihat Bellova menyukainya, berarti aku harus percaya pada Guru itu.”
“Siapa nama Guru yang mengajar Nyonya Bellova? Laki-laki atau perempuan?” pertanyaan dari Ridwan.
__ADS_1
“Dia perempuan, dan namanya… namanya adalah…” Abraham menggaruk kepalanya untuk mengingat-ingat siapa nama Guru yang memberi pelajaran pada isterinya.
Adley dan Ridwan saling melihat lagi, “Jangan bilang anda lupa atau memang kalian belum kenalan?” tanya Adley.
“Dia sudah memberitahukanku namanya, tapi aku lupa. Aduh, nanti saja aku tanya namanya siapa. Yang jelas dia Guru terbaik dari Arshinta.”
“Yah, asal anda tidak lupa saja nama isteri anda.” Ledek Ridwan.
Sementara itu, ditempat Bellova.
“Bu Bellova, kenapa tulisannya semakin jelek dari yang sebelumnya. Tulisan anda yang ini, sangat buruk seperti cakar ayam, tidak bisa terbaca. Kalau seperti ini, suami anda akan kecewa dengan anda.” Sarah melihat hasil tulisan tangan Bellova lagi.
“Maafkan saya Bu. Tangan saya pegal-
“Masa sudah pegal sih. Baru menulis 3 lembar tapi tulisan anda malah goyang tidak beraturan. Aduh, mudah mudahan saja Pak Abraham bisa bersabar menunggu hasil terbaik dari anda.”
“Maafkan saya Bu,” Bellova menundukan wajahnya.
Sarah melihat jam ditangannya, sudah menunjukkan waktu sore.
“Ekhem, suami anda pulangnya jam berapa?”
“Suami saya? Pulangnya tidak tentu, kadang malam, kadang sore,” jawab Bellova mengangkat wajahnya.
“Yah, mungkin kenapa pulang malam, karena tidak ingin melihat anda, eh… maafkan saya ya, saya tidak sengaja bicara seperti itu,” Sarah menutup mulutnya.
Bellova mengernyitkan keningnya dan diam melihat Sarah. Tapi dia dengar dengan jelas apa yang dikatakan Sarah.
“Kalau begitu, karena saya sudah memberi pendidikan pada anda selama 4 jam, sudah waktunya saya pulang, sesuai dengan jam kerja yang sudah kita sepakati kemarin.” Sarah berdiri, mengangkat tas sandangnya.
“Bu Bellova, apa saya boleh membawa buah ini? Yah, jika anda tidak keberatan?” tunjuknya pada buah di atas meja. Ada apel, anggur dan jeruk. Masih banyak.
“Iya, silahkan dibawa saja Bu,” Bellova mempersilahkankannya.
“Boleh minta plastik? Kalau bisa plastiknya warna hitam.”
“Iya, sebentar ya, akan saya ambilkan,” Bellova berdiri, mengambil plastik hitam di dapur.
‘Tidak adil banget hidup ini. Orang yang malas-malasan bisa lebih beruntung dari orang yang rajin dan pekerja keras sepertiku. Dia bisa memiliki pria tampan dan kaya, padahal menulis saja tidak becus. Sedangkan aku, sudah sampai gelar Sp.d, malah dapat suami yang pengangguran.’
__ADS_1
Bellova sudah datang membawa beberapa plastik yang baru. Sarah menerimanya dengan senyum palsu. Semua buah, tanpa tersisa dibawa pulang oleh Sarah. Bellova memang heran, karena dia juga suka memakan anggur. Bodohnya dia, kenapa harus mengeluarkan semua buah didalam kulkas. Sungguh kasihannya Bellova.