I Love U Honey

I Love U Honey
Menghisap Jari


__ADS_3

“Bram, aku boleh kasih buah ini untuk pak Ilham?? Bellova mengeluarkan buah dari dalam plastik kresek berwarna hitam.


“Buah yang mana?” tanya Abraham tanpa menoleh melihat isterinya.


“Anggur? Atau apel? Atau jeruk?”


“Sebenarnya kau mau kasih yang mana sih?”


“Yang mana saja? Kira-kira buah mana yang disukai pak Ilham?”


Abraham tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya, “Terserahlah, bawa saja semuanya kesana, biar dia yang pilih.”


“Baiklah, kalau begitu aku bawa semua kesana ya,” Bellova berdiri, memasukkan buahnya kedalam plastik lagi.


“Eh? Beneran mau kau bawa semua kesana? Jadi untuk suamimu ini apa?” tanya Abraham terkejut, tidak menyangka isterinya akan melakukan itu.


“Ini ada banyak kok, Bram mau yang mana?” dengan wajah polosnya Bellova menunjukkan isi dalam plastik lagi.


“Kau bawa banyak? Kenapa? Jangan bilang mau kau bagikan sama semua orang yang ada disini?” tebak Abraham. Hampir setiap hari, Bellova datang bawa banyak makanan, atau buah, atau camilan lain hanya untuk dibagi-bagikan pada tahanan dan petugas polisi lainnya.


Bellova menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum, tentu wajah polosnya juga. “Iya, kalau cukup.”


Abraham menatapnya lekat, tidak bisa melarangnya.


“Sini,” panggilnya melambaikan tangan pada Bellova. Isterinya datang seorang diri, “Bawa bungkusan buahnya dong,” ucap Abraham lagi.


Bellova berbalik dan mengambil plastik untuk diberikan pada Abraham.


“Biar aku ambil bagianku,” ucapnya mencari-cari yang disukainya, “Waw, kau benar-benar beli banyak ya.” ada beberapa jenis buah yang dibungkus dengan beralaskan stereoform berwarna putih masing-masing berisi 4 biji. Bellova membelinya dipasar buah yang rata-rata harganya 25 ribu rupiah perbungkus.


“Untunglah kau beli pir Korea juga, karena aku paling menyukai ini,” Abraham mengeluarkan pir Korea dan beberapa jeruk berukuran sedang.


“Iya, karena aku tahu Bram sangat suka dengan Pir Korea,” ucap Bellova dengan bangga.


“Biar Ridwan saja yang memberinya, kau duduk disini saja,” Abraham keluar memanggil Ridwan, Bellova duduk kembali dikursi saat mereka tadi makan.


“Ya Pak Komisaris?” Ridwan datang dengan cepat.


“Ini, bagikan dengan yang lain, terutama pada Pak Ilham,” Abraham memberikan bungkusan yang dibawa Bellova tadi.


Ridwan menerima dan memeriksa isinya, “Banyak banget Pak? Kapan anda membelinya?”


“Menurutmu aku punya waktu untuk membelinya? Isteriku yang membelinya tadi. Sudahlah, jangan banyak tanya, bagikan saja,” Abraham masuk kembali kedalam ruangannya.


Saat Abraham baru masuk, Bellova baru muncul dari kamar mandi, “Dari kamar mandi?” tanya Abraham, duduk dikursi kerjanya.


“Iya, aku lagi cuci buah pir dan apel, kamu mau kan?” dibelahnya pir lebih dulu. Pir korea yang ukurannya lebih besar dari pir biasa yang warnanya putih. Sambil menunggu, Bram membuka berkas laporannya.


“Aduh, sshh…” ujung jari Bellova terkena pisau.


Abraham berlari menuju Bellova, menarik jari yang tersayat pisau dan memasukkannya kedalam mulutnya, fungsinya untuk menghentikan darahnya keluar.


Untuk beberapa saat, Bellova terkejut, terdiam dengan reaksi Bram.

__ADS_1


“Bram…?”


Deg.. deg… deg…


Jantung Bellova berdetak kencang, wajahnya bahkan sampai memerah. Terasa, diujung jarinya seperti dihisap saat dimulut Abraham.


“Bram,” panggil Bellova lagi.


Abraham mengeluarkan jari Bellova, “Lain kali hati-hati! Kau mau mengiris tanganmu?” tanyanya masih menggenggam jari yang terluka itu.


“Ti… tidak, aku tidak… sengaja kok,” ucapnya malu-malu.


“Kenapa wajahmu? Merah? Kau sakit karena sedang datang bulan?” beberapa pertanyaan diberikan pada Bellova.


“E… enggak kok, aku tidak sakit, dan lagipula aku belum datang bulan,” malu-malu tidak berani melihat wajah Abraham.


Tap!


Telapak tangannya malah mendarat dikening Bellova, “Hangat,” bergeser lagi ke pipi Bellova, “Tapi pipinya dingin,” ucapnya lagi.


‘Apa dia merasa malu? Wajahnya sampai merah begitu.’ Ucap Abraham dalam hati. Rasanya dia ingin tertawa lebar.


“Tanganku, tanganku bisa dilepas?”


“Hah? Dilepas? Maksudnya mau dipotong?” candanya.


“Bu… bukan dipotong!”


“Iya, iya. Nih, sudah aku lepas.”


Abraham, berkacak pinggang memperhatikan Bellova.


“Apa kau malu?” Abraham menyenggol bahu Bellova dengan bahunya, sedikit menunduk karena dia lebih tinggi dari isterinya.


“Hah? Apa? Malu?”


“Iya, kau malu kan? Malu dibagian mananya?” tanyanya menaikkan kedua alisnya.


“Saat… saat jariku ada di… dalam mulut Bram,” ucapnya ragu-ragu, menundukkan wajahnya lagi.


“Loh? Kenapa? Jarimu bersih kan? Kau tidak habis mencongkel lubang hidungmu atau sesuatu yang kotor?” canda Abraham lagi, menurunkan posisi badannya saat berbicara dengan Bellova yang berdiri disampingnya.


“Enggak kok!” ucap Bellova dengan tegas, mengangkat wajahnya.


“Terus?”


“Itu… itu karena… rasanya aneh saat jariku menyentuh… menyentuh…


“Apa?” Abraham mendekatkan wajahnya pada Bellova, tepat disebelah pipinya.


“Menyentuh bibirmu!” ucapnya malu-malu, menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Pft,” sebisa mungkin Abraham menahan tawa.

__ADS_1


‘Lucu sekali, rasanya aku ingin menggodanya lagi.’


“Apa yang kau rasakan?” bisiknya.


“Bram! Jangan mengejekku,” masih menutup wajah dengan tangannya.


“Siapa yang mengejekmu?”


Bellova memutar tubuh membelakangi Abraham.


“Ck, Love, Love, kamu tuh lucu banget sih. Ini pirnya gak dilanjutkan lagi?” Abraham ingin mengambil pir yang kulitnya hampir dikupas semua.


“Sini biar aku kupas lagi,” Bellova pun ingin mengambil pirnya, dan saat yang bersamaan, tangan mereka saling bersentuhan. Tangan Bellova berada diatas tangan Abraham yang lebih dulu menyentuh buah pirnya.


Sudah merah, semakin merah lagi wajah Bellova, “Pft,” terdengar suara Abraham menahan tawa.


Tok!tok!tok!


“Permisi Pak, diluar ada…. Ups, maafkan saya, kalau begitu saya-


“Ada apa Ridwan?” Abraham memberikan pir ketangan Bellova, dan berjalan mengarah pada Ridwan.


“Huft, untunglah dia pergi,” Bellova bernapas lega.


“Siapa yang pergi?” tiba-tiba Abraham menoleh kebelakang melihat Bellova yang masih berdiri.


“Hah? Tidak, tidak ada,” ucapnya menggaruk pipinya. Dan lagi, Abraham tersenyum, padahal dia tahu untuk siapa isterinya berbicara seperti itu.


“Kau tunggu disini ya, aku keluar sebentar,” Abraham berjalan keluar pintu.


“Oh ya, jangan sentuh pisaunya lagi! kalau jarimu berdarah lagi, aku akan menjilat jarimu! Paham kan?” Abraham menunjukkan jari telunjuknya memberi peringatan pada Bellova.


‘Men… jilat?’ gumam Ridwan.


Kini tinggal Bellova yang berada diruang Abraham.


Ternyata orang yang ingin ditemuinya adalah Anwar dan Herman, mereka berdua.


“Selamat siang Pak,” Anwar dan Herman berdiri bersamaan menyambut kedatangan Abraham dan Ridwan. Wajah Abraham tidak suka melihat mereka berdua, apalagi Anwar.


“Ada apa? Kenapa kalian datang kesini?” tanya Abraham ketus.


“Pak, kami berdua datang untuk mendengarkan informasi tentang penahanan pak Ilham,” ucap Anwar, melirik Herman yang ikut menganggukkan kepala.


“Penahanan?”


“Iya .”


“Hah, baru tadi siang kalian datang menyerahkan Pak Ilham, dan sore ini kalian datang lagi?”


“I… iya Pak, kami harus tahu supaya kami  bisa bernapas lega.”


“Bernapas lega? Kami? Atau anda, Pak Anwar?”

__ADS_1


“Saya? Kenapa saya… ah, tentu saja saya juga akan bernapas lega,”


__ADS_2