I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 12


__ADS_3

Terdiam berulang kali mengedipkan mata, Sachinta tak berani untuk bergerak. Senyum puas pun terukir pada wajah Arman, dengan perlahan mulai memejamkan mata tetap dalam posisi mengunci Sachinta agar tak terus berulah. Mata sudah sangat lengket, mengantarkan cepat Arman pada mimpi indah.


Karena tidak bisa berbuat apapun, tanpa disadari Sachinta pun ikut terlelap dalam dekapan lelaki baru saja menikahinya. Mengarungi mimpi masing masing, dalam hubungan baru bersama. Tetap dengan kebaya karena terlalu malas mengganti, Sachinta perlahan pulas bersama dengan Arman.


***


Tepat pukul 17.00, dering ponsel Sachinta mengejutkan keduanya dan langsung saling melepas. Tetap terbaring mengangkat panggilan dari Ria, Sachinta langsung terperanjat mendengar teriakan kuat sahabatnya yang juga dapat di dengar oleh Arman, langsung memunggungi Sachinta.


"Apaan sih Lo? sakit tau gak telinga gue" protes Sachinta mengusap telinga kanannya berulang.


"Gue ada kabar baik buat Lo, pujaan hati Lo barusan putus sama ceweknya! Lo punya peluang besar sekarang!" bersemangat Ria mengabarkan.


"Seriusan Lo si Kiki putus sama Girli?!" terperanjat Sachinta berteriak tak percaya.


"Serius gue, gempar banget nih sekolah denger kabar itu. Lo sih sakit sakit segala jadi engga tau kabar paling hot sejagad impian kan?!" sahut Ria di ujung telpon.


"Besok Gue masuk sekolah!" tertawa Sachinta berucap, menoleh Arman ke arah gadis sudah berdiri di dekat ranjang tersebut.


Mematikan telpon dengan suasana hati berbunga bunga, Sachinta berlompatan girang mendengar kabar lelaki pujaannya telah putus tanpa ingin tahu apa penyebabnya. Arman mengamati berekspresi tanya pada gadis tetap heboh sendiri dan mulai menari nari.


"Yayang Kiki, wait me" seru Sachinta dan berlari ke arah kamar mandi untuk mandi.


"Kiki?" tanya Arman dalam hati.


Saking penasaran dengan apa yang membuat Sachinta bahagia, Arman meraih ponsel miliknya dan menghubungi Nino. Bertanya tentang seseorang bernama Kiki yang mungkin juga dikenal oleh ketua OSIS dan tak lain adalah saudara sepupunya sendiri.


"Kamu tau Kiki gak?" tanya Arman cepat saat Nino sudah mengangkat telpon.

__ADS_1


"Kiki siapa? anaknya Sule?" jawab Nino dari ujung telpon.


"Bukan! di sekolah ada yang namanya Kiki gak?" kesal Arman pada sepupunya.


"Oh, Rizki kali yang dimaksud. Itu pacarnya Girli, kenapa emang? dia bikin masalah?" tanya Nino, tanpa menjawab langsung ditutup telponnya oleh Arman.


"Hm, engga sangka cewek kaya gitu bisa jatuh cinta juga. Pacar orang lagi, apa dia engga sadar kalau udah nikah?" gumam Arman kesal.


Membanting ponsel milik Sachinta ke atas tempat tidur karena kesal, Arman beranjak keluar dan pergi ke kamarnya sendiri. Membersihkan diri dan mengganti pakaian dalam kamar tak jauh dari kamar Sachinta. Mengumpat kesal dengan terus berjalan, tidak mengerti apa yang telah membuatnya begitu ingin marah ketika mengetahui jika gadis telah menjadi istrinya, masih menaruh hati pada pria lain.


"Anak model gitu aja, apa bagusnya sih? selera kok rendah banget!" bergumam kesal, Arman sambil mengambil pakaian dalam almari.


Di dalam kamar lain, Sachinta mulai keluar karena butuh waktu tak sampai tiga menit untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Telah bersiap dengan celana pendek sampai lutut, juga kaos berwarna putih, Sachinta keluar kamar dan turun untuk mencari makanan. Kebiasaan setelah bangun tidur langsung makan, tidak pernah berubah dari gadis yang sudah meminta pelayan membuatkan mi instan juga telur.


"Gue tadi mau ngapain ya?" berpikir sambil menunggu di meja makan.


"Oh, mau lihatin pict nya yayang Kiki" tersenyum mengangkat dua bahu bersamaan, Sachinta langsung membuka aplikasi media sosial.


Mengambil foto Kiki dan menjadikannya wallpaper ponsel, Sachinta terlihat bahagia membiarkan ponselnya terus menyala.


"Jangan dilihatin terus lah, aku kan jadi mau" tersenyum geli menatap ponsel miliknya.


Menikmati mi instant soto campur telur rebus, Sachinta tetap memandang pada layar ponsel telah ia letakkan berdiri bersandar pada gelas air putih.


"Rasanya makan bareng deh kalau kaya gini" kembali bergumam dan tersenyum geli membayangkan.


Tidak lama Arman turun dan melihat istrinya duduk sendiri di meja makan. Lelaki dengan celana panjang serta kaos krem tersebut berjalan menghampiri, berdiri di balik tubuh gadis tak menyadari kehadirannya. Mengumpat dalam hati sambil memajukan bibir mengolok olok Sachinta dari belakang, Arman tampak lebih kesal dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kenapa makan mi? engga ada makanan lain?" tegur Arman duduk di samping gadis masih senyum senyum sendiri.


Telinganya seakan tersumbat dengan bayangan bayangan yang ia kembangkan sendiri, sampai tidak mendengar ucapan Arman di sampingnya. Terus menyuapi mulut dengan mi instant, Sachinta tidak melepaskan pandangan dari ponsel.


Arman mendengus kesal karena ucapannya tak di hiraukan dan menarik mangkuk berisi mi Sachinta. Tapi karena khayalan terlalu tinggi, tetap saja Sachinta menyendok ke arah meja yang tak ada lagi makanan di sana.


"Eh?" kaget Arman melihat Sachinta terus memasukkan sendok kosong dan dikunyah tanpa sadar jika tak ada apapun dalam mulutnya.


"Gila" gumam Arman tetap memperhatikan, mengernyitkan kedua alis memasang wajah heran.


Membiarkan Sachinta dalam khayalan, memakan angin, Arman bergidik menggelengkan kepala dan pergi ke dapur untuk meminta pelayan memasakkan sayur seadanya. Ia membuang mi instant yang sudah di ambil dari Sachinta tanpa sepengetahuan tadi, karena tidak akan membiarkan seseorang yang kini menjadi tanggung jawabnya harus memakan mi instant.


"Kenapa engga ngerasain apa apa ya?" gumam Sachinta mengecap mulut kosong.


"Lah, makanan gue di ambil siapa? masa iya si Kiki yang habisin?" terkejut Sachinta melihat kebawah tak mendapati mangkuk berisi mi instant miliknya.


Mengintip ke arah kolong meja, celingukan mencari mangkuk mi instant. Sachinta meyakini betul jika tadi mi itu masih ada di hadapannya, dan tiba tiba menghilang secara misterius.


"Bawah meja engga ada, terus kemana? masa jalan jalan cari udara segar tuh mi?" gumam gadis sudah berdiri memutari meja makan untuk mencari.


"Apa udah gue makan? ha!! masa mangkuknya gue makan juga sih?" membulatkan mata terkejut, dan berlari ke arah dapur hendak memuntahkan semua yang telah ia makan.


"Kenapa? kamu sakit?" tanya Arman duduk menikmati teh hangat di dapur.


"Gue makan mangkuk, mau gue muntahin dulu" seru Sachinta seketika membuat Arman menyemburkan teh dalam mulutnya.


"Makan mangkuk gimana?" tanya Arman.

__ADS_1


"Gue tadi makan, terus sekarang mangkuknya engga ada udah masuk kedalam perut" polos Sachinta berusaha mengeluarkan di wastafel dapur, ditertawakan oleh Arman.


"Gue, gue, emang kamu pikir aku teman kamu?!" kesal Arman di sela tawanya.


__ADS_2