
Setibanya di rumah, Sachinta melihat mobil mamanya dan meminta Riski untuk lebih maju agar tak sampai kelihatan oleh mamanya. Hanya tidak mau mendengar pidato gratis yang panjangnya melebihi tol, Sachinta merelakan kakinya yang lelah untuk berjalan sampai rumah.
"Makasih ya, udah anterin ke rumah" tersenyum berdiri di samping lelaki tetap di atas motor.
"Santai aja, kalau Lo butuh tumpangan tinggal hubungi gue aja" sahut Riski, membuat hati Sachinta bermekaran.
"Bisa aja nih mengkudu, gue kan jadi seneng" tertawa kecil memukul lengan Riski berulang.
"Kok mengkudu?" tanya Riski aneh.
"Iya banyak manfaatnya. Eh harusnya madu ya bukan mengkudu, kan bau itu" ucap Sachinta, melebarkan senyum lelaki yang kembali mengacak rambutnya gemas.
"Masuk deh, gue tungguin di sini" ucap Riski.
"Jangan dong, kamu duluan aja yang jalan biar aku liatin dari sini. Takut di colong kucing kamu nya" seru Sachinta, lagi lagi membuat Riski tertawa akan celotehannya.
"Duluan ya, cepet mandi biar capeknya ilang" pamit Riski seraya berpesan.
"Hehehehe, capek ilang sih tidur bukan mandi" batin Sachinta tersenyum.
Tetap berdiri menunggu hingga lelaki tengah menyalakan kembali mesin motor, Sachinta tak berhenti melebarkan senyumnya. Dari kejauhan Arman memperhatikan dengan lampu mobil telah dimatikan lebih dulu.
Setelah Riski pergi, Sachinta kembali dengan sangat riang. Bersenandung dengan kedua tangan memegang kedua tali tas, sesekali melompat untuk memutar tubuh. Arman berdecih memperhatikan, mengumpat lirih dibalik kemudi.
"Baru balik?!" sinis Arman keluar dari mobil, mengejutkan Sachinta langsung menghentikan langkah.
"Bapak ini udah kaya jelangkung aja datang gak dijemput, pulangnya gak mau sendirian" celoteh Sachinta.
"Masuk, ada mama tuh. Entar ketahuan lagi kalau kita engga pulang bareng" perintah Arman.
"Bapak takut ketahuan kalau habis kencan ya?" menyeringai menunjuk wajah laki laki tampak kesal.
Membuang napas kasar, dan masuk ke dalam mobil. Arman tidak meladeni ucapan Sachinta karena hatinya masih terasa meledak akan amarah. Melihat istrinya begitu manja terhadap lelaki lain, bahkan berboncengan sangat dekat, membuat Arman tidak suka.
__ADS_1
Penjaga sudah membukakan pintu pagar, dengan Arman memasukkan kendaraan. Syibil dan Melati yang mendengar suara mobil masuk, langsung keluar menyambut. Sachinta membuka pintu mobil dan mencium tangan kedua orang tengah berdiri di teras rumah.
"Masyi sama mamel kenapa barengan kesini?" tanya Sachinta, membingungkan kedua wanita saling tatap di hadapannya.
"Siapa masyi? siapa mamel?" tanya Arman sudah berdiri di samping Sachinta.
"Ini masyi Mama Syibil, mamel Mama Melati" santai Sachinta menjawab, ditertawakan kedua wanita di depannya tapi tidak dengan Arman.
"Bau banget sih kamu?" protes Syibil.
"Aku tadi mandi loh ma" sahut Sachinta berjalan bersama mamanya masuk kedalam.
"Tumben mandi? ada angin apa?" tanya heran Syibil.
"Angin cinta" cengengesan Sachinta menjawab.
"Hm, kayanya ada yang jatuh cinta nih. Engga sia sia dijodohin" tersenyum Melati menggoda, melirik putra juga menantunya.
"Yang dimaksud bukan aku" batin Arman tersenyum paksa.
"Aku kan mau mandi pak, ngapain di ajak kesini?" tanya Sachinta begitu masuk dalam kamar Arman.
"Kami mau mereka tau kita engga satu kamar? mau diomelin?" tanya beruntun Arman.
"Engga sih, hehehe" sahut Sachinta.
Lebih dulu Arman membersihkan diri, sedangkan Sachinta merebahkan diri di ranjang besar berlapis sprei warna coklat. Tubuhnya sangat lelah usai latihan, tanpa sadar mulai memejamkan mata dengan posisi tengkurap. Perlahan namun pasti, mengarungi mimpi dalam hati bahagia.
Diluar, Syibil dan Melati menunggu sambil menata makanan di meja makan. Keduanya tampak akrab seperti biasa, semakin bahagia ketika melihat kebersamaan Arman dan Sachinta. Sudah memasak dengan tangan mereka sendiri semua makanan kesukaan anak mereka, dan menunggu duduk di ruang makan begitu selesai menyiapkan.
"Seneng banget deh lihat mereka barengan kaya gitu" ucap Melati melebarkan senyum.
"Kita intip yuk, mau tahu gimana pengantin baru kalau mandi" tertawa kecil Syibil memberikan usul.
__ADS_1
"Nguping aja dari luar yuk" bersemangat Melati bangkit dari duduk.
Keduanya berjalan perlahan dan mulai meletakkan telinga menempel dekat pintu. Melati lebih penasaran lagi, karena yang ia tahu jika Arman tidak menyukai perempuan. Semakin menempelkan telinga, kedua wanita saling berhadapan itu tak bisa mendengar apapun.
"Tidur apa ya?" tanya Melati berbisik.
"Masa tidur? bikin calon jabang bayi kali di kamar mandi" celetuk Syibil tersenyum geli sendiri.
Tanpa mengetahui kebenaran akan hubungan keduanya, Syibil dan Melati saling berbisik akan hadirnya cucu pertama di antara mereka. Mengajak Melati yang sangat antusias memiliki cucu, untuk pergi menjauh dari pintu kamar. Syibil merasa geli sendiri membayangkan jika putrinya bisa melakukan hal dewasa, yang bahkan tak pernah terlintas dalam benaknya sebelum ini.
Hampir satu jam berlalu, Arman telah selesai menikmati kesegaran air dalam kamar mandi. Sudah mengenakan pakaian lengkap, Arman menggelengkan kepala melihat Sachinta tertidur sangat pulas dan mendengkur di atas ranjangnya.
"Cewek apa kerbau sih? baru ditinggal mandi sebentar udah tidur" bergumam lirih menggelengkan kepala.
Membiarkan rambut tertutup handuk kecil berwarna putih, Arman mendekati ranjang dan mulai membangunkan gadis tetap mendengkur keras tersebut. Menepuk lengan Sachinta perlahan, dan berubah menjadi keras tapi tak mampu membuyarkan mimpi indah Sachinta.
"Yayang Kiki, jangan nakal dong masa iya mau cium cium dulu sih? kan anaknya belum tidur" mengigau Sachinta, membulatkan mata Arman geram.
"Bangun aja mimpi, apalagi tidur" gumam Arman kesal.
Meraih handuk di atas kepalanya, ingin melempar pada wajah Sachinta tapi mengurungkan seketika. Arman terlihat amat geram mendengar setiap kata terucap dalam lelap Sachinta tentang Riski. Diyakini betul jika saat ini gadis tak berhenti mengomel dalam tidur itu, tengah memimpikan sebuah pernikahan dan rumah tangga harmonis bersama Kiki.
"Jangan langsung, peluk dulu dong terus cium" mengigau Sachinta memajukan bibir sangat panjang, mengernyitkan kedua alis Arman memperhatikan.
"Pelan pelan dong, aku belum siap" ucap Sachinta tetap terhanyut dalam mimpi, semakin lebar mata Arman membulat.
"He bangun! aku siram air kamu ya!" tegas dan keras Arman membangunkan, menggoyangkan lengan Sachinta berulang kali.
"Bangun!" tegas kembali Arman, mendorong tubuh Sachinta hingga berubah posisi.
Memercikkan air dalam botol samping ranjang, Arman sangat kesal. Apalagi saat ia mendengar suara mengigau Sachinta yang mengatakan untuk pelan pelan. Fantasinya sebagai lelaki dewasa, berkembang ke arah hubungan berhasrat dan semakin ingin menyadarkan Sachinta dari tidur lelap, agar tak sampai bermimpi melakukan hubungan dengan Riski.
****Bantu like dan rate dong buat performa dan level karya. Bisa klik bintang di halaman muka novel untuk memberikan rate. Kita sama sama butuh, jadi biar sama enaknya. Like lancar, up juga lancar ya.. terimakasih banyak😘😘**
__ADS_1
Untuk Up, aku nunggu hasil dari like dulu ya. Krena viewer sama like jumlahnya beda jauh, banyak yang gak mau kasih like**.