
"Sasa, bangun!" tegas Syibil menepuk lengan putrinya.
"Sasa!" berteriak jengkel.
Seperti digigit nyamuk, Sachinta hanya mengusap lengan yang di sentuh mamanya dan memiringkan tubuh memunggungi wanita terlihat sangat kesal tersebut. Tidak mau darah tinggi menghadapi, Syibil memilih untuk pergi kembali ke dapur meninggalkan putrinya terlelap.
Di sekolah tepat jam istirahat kedua, Nino mencari Sachinta di kelasnya hendak menagih janji untuk ditraktir karena telah menolongnya kemarin. Celingukan mencari kesana kemari, dan bertanya pada teman sekelas Sachinta.
"Sasa mana?" tanya Nino pada laki laki bertubuh kurus tinggi satu kelas dengan Sachinta.
"Engga masuk, tumben Lo cari dia?" jawab lelaki yang hendak keluar menuju kantin.
"Bukan urusan Lo" jawab Nino dan pergi begitu saja.
Berjalan keluar kelas meraih ponsel dalam saku celana seragam, Nino menghubungi Sachinta. Tapi berulang kali ia mencoba tidak juga di jawab oleh gadis yang masih terhanyut dalam mimpi indah. Mendengus kesal, Nino memasukkan kembali ponsel dalam sakunya. Ia berjalan ke arah kantin dan melihat Arman bersama dengan guru Matematika tengah menikmati makan siang bersama.
Menurut rumor yang beredar di sekolah, Bu Raisa memang menaruh hati pada Arman dari mulai laki laki berparas tampan itu bergabung di sekolah. Tapi Arman sendiri tidak pernah memperdulikan hal itu, dan bersikap dingin pada semua tanpa ingin melibatkan perasaan dalam pekerjaannya.
"Selamat siang Pak, Bu" tegur Nino menghampiri meja dimana lelaki berkaca mata itu duduk bersebrangan bersama wanita cantik berambut panjang ikal.
"Siang, kamu mau makan?" sahut Raisa tersenyum, sedangkan Arman tidak peduli.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya permisi dulu" pungkas Nino meninggalkan usai dijawab senyum juga anggukan kepala oleh guru bertubuh tinggi langsing tersebut.
Kantin terlalu ramai dengan bisikan bisikan para murid yang membicarakan antara Arman dan Raisa bersama. Seolah telinganya sudah tertutup rapat, Arman tidak merespon karena memang tidak ingin mendengar apapun yang sudah sering ia dengar. Berbeda dengan Raisa yang malah tersenyum senang mendengar pembicaraan tentang hubungannya dengan Arman, walau itu bukan fakta yang terjadi.
Arman bersedia menemani Raisa makan karena merasa hal biasa jika guru makan siang bersama dengan guru. Tapi ternyata kesediaan Arman justru membuat Raisa berpikir lain akan hubungan mereka, ia merasa jika Arman memberikan kesempatan kepadanya untuk lebih dekat akan sebuah hubungan serius.
****
Malam hari sekitar pukul 19.00, Melati bersama suami dan putranya sudah tiba di kediaman Bobby. Mereka menekan bel terdapat di dinding samping pagar, yang tak lama seorang pelayan membukakan pagar. Syibil yang mengetahui kedatangan calon besannya itu, menghampiri dengan antusias menjemput mereka hingga teras rumah.
"Ayo masuk, masuk" bersemangat Syibil mempersilahkan, usai mencium pipi kana dan kiri sahabatnya.
Tidak lama kemudian, Bobby datang menghampiri dan menyapa semuanya lalu duduk di samping Arman. Menepuk pundak laki laki yang akan dinikahkan dengan putrinya, mungkin tepatnya adalah perjodohan paksa bagi Arman dan Sachinta yang belum tahu kebenarannya.
Syibil meminta tolong asisten rumah tangganya untuk memanggil putrinya, namun baru beberapa lama pergi ia sudah kembali dan berbisik jika Sachinta tidak ingin turun. Menghela napas panjang, Syibil meminta ijin untuk memanggil putrinya di kamar, tapi lebih dulu memanggil Leo agar bergabung bersama menemani Arman di depan.
"Ya ampun Sasa, bukannya mama udah bilang buat engga ngelakuin apapun biar dandanan kamu tetap rapi?!" kesal Syibil begitu memasuki kamar, dan melihat putrinya merebahkan diri memainkan game di ponsel.
"Iya bentar lagi aku rapiin lagi Ma, ini udah tanggung banget tinggal sedikit" santai Sachinta tanpa memalingkan pandangan dari layar ponsel.
Berjalan menghampiri, dan berdiri di samping ranjang. Syibil meraih ponsel putrinya dan di matikan begitu saja, Sachinta langsung terperanjat dan duduk berusaha meminta agar ponselnya di kembalikan. Tapi Syibil malah meletakkan ponsel pada saku jumpsuit hijau tua panjang tengah ia kenakan.
__ADS_1
"Mama, itukan tinggal sedikit lagi kenapa di ambil sih? jadinya kan aku harus ulang lagi nanti" merengek menggaruk kepalanya frustasi.
"Tuh lihat rambut kamu udah berantakan lagi!" kesal Syibil melihat rambut yang sengaja ia minta jasa salon untuk merapikan tadi sore.
Berjalan ke arah meja rias, mengambil sisir dan mulai merapikan kembali rambut yang tadi di tata Curly rapi. Sachinta menurut saja apa yang dilakukan mamanya, tanpa protes karena ancaman jika ponsel yang takkan pernah kembali juga PlayStation yang di ambil.
Syibil merapikan tatanan rambut, serta wajah putrinya dengan sedikit bedak juga lip balm agar tampak segar. Berpindah dengan merapikan dress pink yang sengaja di beli tadi sore di mall, untuk dikenakan malam ini. Adu mulut sempat terjadi tadi sore hanya karena dress tanpa lengan yang membuat Sachinta risih memakai, terlebih bagian bawah rok sedikit mengembang membuatnya seperti ayam dikurung.
"Bersikap manis dan sopan! kalau engga, jangan harap ini HP sama PlayStation bakal balik lagi ke kamu!" mengancam keras putrinya dengan menunjukkan ponsel juga PlayStation telah ia cabut semua.
"Iya" singkat namun terlihat sangat kesal.
Wanita cantik itu berjalan mendahului dengan kedua tangan membawa ponsel dan PlayStation turun kebawah, diikuti oleh Sachinta yang mengumpat dalam hatinya. Lirikan tajam mamanya cukup memaknai sebuah peringatan akan ekspresi wajahnya, hingga Sachinta membuang napas panjang berusaha mengubah ekspresi.
Setelah meletakkan dua barang kesayangan putrinya dalam almari kamar yang ia kunci, Syibil menggandeng Sachinta untuk ke ruang tamu. Memasang senyum palsu dan menjabat tangan kedua orang tua guru yang ia anggap killer, Sachinta tidak menyadari adanya Arman yang menatapnya dengan duduk di samping Bobby.
Arman tidak terlalu terkejut melihat muridnya di sana, karena sudah sangat terkejut tadi siang ketika mamanya menunjukkan foto Sachinta yang ada dalam ponsel. Adu argumen juga sempat terjadi di antara Arman dan Melati karena perjodohan dengan murid sendiri, yang membuat Melati malah terlihat bahagia mengetahui.
Saat Arman mengatakan jika Sachinta adalah murid di sekolahnya, Melati merasa bahagia dan tepat dalam memilih. Karena keduanya akan selalu bersama sepanjang hari, baik di sekolah ataupun di rumah. Namun hal itu mendapat penolakan keras dari Arman karena tidak ingin menikahi gadis kecil yang usianya terlalu jauh darinya.
Namun karena Melati sangat pandai bermain drama di depan putranya, Arman pun tidak memiliki pilihan lain selain menurut. Bagaimanapun juga ia sangat menyayangi kedua orangtuanya dan tidak berani melawan lebih lagi.
__ADS_1