I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 17


__ADS_3

"Oke" melambaikan tangan dengan tersenyum.


Arman cepat menurunkan kasar tangan Sachinta yang masih melambai ke arah Riski, meski lelaki itu telah keluar kelas. Menatap tajam ke arah Sachinta dan memerintahkan untuk datang ke ruangannya. Sejenak memajukan bibir kesal, Sachinta mengikuti suaminya untuk pergi ke ruangannya.


"Duduk!" tegas Arman begitu sampai ruangannya, dituruti saja oleh Sachinta.


"Aku lapar banget" merengek memegangi perut.


Memberikan makanan telah ia beli dari kantin, Arman meminta agar Sachinta makan dan tetap duduk di ruangannya. Berdiri mengantongi kedua tangan, Arman memperhatikan istrinya amat lahap menikmati makan. Seperti orang tak makan tujuh tahun, Sachinta tidak pernah membiarkan mulutnya kosong dan berhenti mengunyah.


"Kamu itu seorang istri, jadi jangan suka dekat sama cowok lain" ucap Arman lirih.


"Gimana mau deket, orang Bapak udah usir dia duluan" santai Sachinta menundukkan wajah dengan terus mengunyah.


"Mama tau, kamu suka sama Riski?" tanya Arman penasaran.


"Tau dong Pak, eh tau gak ya? tau deh, eh engga deh kayanya. Kalau tau pasti aku udah mati sekarang" ucap Sachinta seraya berpikir.


Memijat kepalanya, Arman duduk di kursi balik meja kerjanya. Ia tak mengerti harus mengatakan apa lagi pada gadis yang terlalu polos untuk sebuah hubungan pernikahan. Tak bisa menyalahkan sepenuhnya, karena usia Sachinta memang masa dimana rasa ketertarikan lawan jenis mulai tumbuh dan berkembang.


"Udah habis, aku keluar dulu ya Pak. Terima kasih untuk makannya, enak banget apalagi gratis" tertawa bangkit dari duduknya.


"Buang sekalian bungkusnya, siapa yang mau membuang itu?!" tegas Arman.


"Iya, iya aku buang. Masa iya mau aku makan sih?" malas Sachinta meraih bungkusan di atas meja.


"Oh ya, Bapak nanti pulang aja dulu. Aku ada latihan buat turnamen, nanti pulang sendiri aja" ucap Sachinta sebelum keluar.


"Hm" singkat Arman.


Membuka pintu dan bergegas keluar untuk kembali ke kelas, meninggalkan Arman terlihat stres dalam ruangannya. Ia meraih ponsel dalam saku celana, menekan nomor Melati hendak berbicara namun diurungkan. Tak seharusnya ia membahas masalah Sachinta pada mamanya, dan memilih untuk merasakannya sendiri.

__ADS_1


***


Pukul 15.30, sekolah telah bubar. Sachinta berganti pakaian di kamar mandi sebelum berlatih basket. Ia masuk dalam tim inti perempuan, bersama dengan Riski dalam tim inti laki laki. Latihan kali ini membuatnya amat bahagia, karena bisa memuaskan mata menatap lelaki pujaan hati.


Usai mengganti dengan pakaian basket, Sachinta keluar dan membawa tasnya di tangan. Ponsel berdering panggilan dari Syibil langsung di angkatnya, dan tetap berjalan menuju lapangan.


"Apa ma?" tanya Sachinta saat panggilan telah terhubung.


"Mama di rumah kamu nih, kamu dimana?" sahut Syibil dari ujung telpon, sudah duduk di ruang tamu rumah Arman.


"Aku di sekolah lah ma, aku pulang malam ada latihan basket. Pak Arman pulang duluan kok, tunggu aja di rumah ya" sahut Sachinta berbisik.


"Basket terus, kamu tuh udah nikah jangan terlalu banyak kegiatan! urus itu suami kamu!" tegas Syibil.


"Ma, aku tuh masih sekolah. Mama aja yang ngebet banget mau nikahin aku, engga nanya dulu aku mau apa engga kan? lagian Pak Arman bukan bayi, ngapain aku urus coba?" santai Sachinta.


"Susah ngomong sama kamu, bisa gila mama lama lama!" berucap tegas langsung mematikan telpon.


"Udahlah, mau lihatin my baby yayang Kiki aja" tersenyum meletakkan ponsel dalam tas, Sachinta berjalan ke arah lapangan.


Memulai pemanasan sebelum latihan, matanya terus mencari ke segala arah. Belum ditemukan sosok yang sangat ingin ditemuinya, Sachinta melanjutkan untuk melakukan pemanasan.


"Kaki Lo dah baikan?" terdengar suara menegur dari belakang, cepat ia menoleh dan melebarkan senyum.


"Yayang Kiki, eh maksud aku Kiki. Udah dong, sakit juga tetep aja dateng soalnya ada kamu" cengengesan dengan melakukan peregangan, Riski tersenyum ke arah Sachinta dan mengacak rambutnya.


"Bisa aja Lo" sahut Riski dengan tangan masih di ujung kepala gadis tetap cengengesan dengan hati bermekaran.


Tidak menyadari sepasang mata memperhatikan dibalik jendela, Sachinta tetap melebarkan senyum ke arah Riski yang juga tersenyum.padanya. Arman sengaja memindahkan mobil keluar, agar Sachinta mengira dirinya telah pulang lebih dulu. Tanpa diketahui Sachinta jika dirinya masih berada dalam ruangannya, ingin mengamati bagaimana kedekatan Sachinta juga Riski.


"Baru dipegang rambutnya aja udah seneng banget!" menggerutu Arman tetap mengawasi.

__ADS_1


Bibir tak henti menggerutu, mata masih setia mengamati gadis sudah mulai berlatih basket. Tangan mengepal tanpa perintah, melihat gadis sudah berstatus istrinya itu tampak tertawa di sela sela latihannya. Tanpa lelah ia berdiri mengintip dibalik jendela, rasanya sangat ingin ia keluar menarik pergi Sachinta dari lapangan.


"Kenapa juga aku harus marah? kan aku engga cinta?" gumam lirih Arman.


"Tapi dia juga seorang istri, enak aja kalau aku engga marah" tambah kembali Arman bergumam.


Berniat membalas dendam, Arman duduk menyalakan laptop. Membuat banyak sekali soal latihan dari semua mata pelajaran. Ia mengetik penuh semangat memberikan soal, yang akan membuat Sachinta merasakan kegilaan sendiri di rumah nanti. Tersenyum puas dengan soal soal tengah ia kumpulkan, ia berharap caranya membalas dendam akan berhasil dengan mulus.


Beberapa waktu berlalu, hari terlihat akan gelap. Latihan pun di sudahi oleh Pak Arul, dan meminta kembali latihan esok hari sepulang sekolah. Mengingat turnamen akan dilaksanakan satu minggu lagi, terpaksa Pak Arul harus memperketat latihan semua tim.


"Lo pulang sendiri?" tanya Riski sembari menyerahkan satu botol air mineral pada Sachinta.


"Makasih ya" menyeringai senang Sachinta menerima botol berisi air minum dari Riski.


"Gue engga liat motor Lo" ucap kembali Riski.


"Iya, gue gak bawa motor. Entar naik angkutan umum aja" sahut Sachinta lalu meneguk minum.


"Bareng gue aja ya, udah mau gelap" ucap kembali Riski, seketika menyemburkan minum masih penuh dalam mulut gadis membulatkan mata hebat.


"Hahahahaha, banjir kali" tawa Riski.


"Lo anterin gue? cewek Lo engga marah?" tanya Sachinta dengan basa basi memancing.


"Gue udah putus, engga ada yang marah. Ayo balik keburu gelap" ucap Riski, mengenakan tas ransel berwarna hitam mengajak Sachinta bersama.


"Hahahahaha, rejeki engga kemana" tawa Sachinta lirih.


Bergegas mengambil tas, memasukkan asal handuk kecil yang ia kenakan untuk mengelap keringat tadi. Sachinta berlari mengejar Riski ke arah parkiran motor, dan naik ke atas motor sport berwarna merah sudah ada Riski di atasnya.


Lagi lagi Arman terlihat geram, dan cepat keluar berlari ke arah mobil yang ia parkir di luar sekolah. Mengikuti dari belakang gadis tetap mengenakan seragam basket berwarna putih biru, tengah berbonceng dengan kedua tangan berpegangan pada dua sisi pundak Riski.

__ADS_1


"Dasar laba laba, nemplok aja seenaknya! Lihat aja , kita buat perhitungan di rumah!" geram Arman mengamati dari belakang dengan tetap melajukan lirih kendaraan.


__ADS_2