I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 34


__ADS_3

Berjalan cepat keluar toko buku untuk menemui istri tengah berdiri di depan toko, tepat balik pintu kaca. Raisa yang tak terima akan sikap dianggapnya kasar, mengejar Arman usai meletakkan buku pada tumpukan display dekat pintu.


Raisa menarik lengan Arman begitu sampai luar, langsung menempelkan bibir pada bibir lelaki langsung menoleh ke arahnya ketika ditarik kuat. Sachinta membulatkan mata hebat, sedangkan Arman langsung mendorong tubuh Anita hampir terjatuh.


"Jaga kelakuan Anda!" tegas Arman, mengusap kasar bibir sudah dicium paksa Anita.


"Kenapa?! bukankah Bapak juga suka sama saya?!" teriak Rais, segera Arman mengangkat tangan dimana cincin pernikahan tersemat pada jari manisnya.


"Saya sudah menikah! saya sangat mencintai istri saya! jadi berhenti mengusik hidup saya lagi!" tegas Arman sangat marah, mengejutkan Raisa tak percaya.


"Bohong! Bapak belum menikah dan Bapak suka sama saya!" teriak Raisa kembali.


Hanya menggelengkan kepala, menunjukkan tatapan jijik. Arman menarik tangan Sachinta yang berdiri mematung menahan luka, akan apa yang baru saja ia lihat.


Membawa kembali ketempat parkir, membuka pintu mobil dan membantu istrinya masuk. Arman segera memutar untuk masuk kedalam mobil dan menyalakan mesin cepat.


Raisa masih tertegun tak percaya akan apa yang ucapkan bahkan ditunjukkan oleh Arman. Ia tetap meyakini jika Arman memiliki sebuah perasaan yang sama dengannya, karena Arman selalu bersikap baik.


Kebaikan yang selalu ditunjukkan Arman pada semua orang, telah disalah artikan oleh Raisa yang menganggap jika Arman menyukai dirinya. Merasa jika perasaan cintanya terbalaskan, Raisa mengharapkan sebuah hubungan lebih dari rekan kerja.


Sementara Sachinta dalam perjalanan hanya diam saja menatap ke samping kiri, sesekali ia menyeka air mata yang jatuh dengan cepat. Hatinya terluka melihat orang yang kini menjadi suaminya dicium wanita lain.


Menyadari kesedihan istrinya, Arman meredakan emosi seketika dan menghentikan laju kendaraan di pinggir jalan agar bisa berbicara. Menoleh ke arah Sachinta, Arman meraih tangan perempuan masih membuang wajah ke arah kiri.


"Maaf, jangan sedih kaya gini" lembut Arman sembari meraih tangan di atas pangkuan istrinya.

__ADS_1


"Aku salah Sa, tapi aku beneran gak ada hubungan apapun sama dia. Aku juga engga tau dia bisa lakuin hal itu, maafin aku" tulus kembali Arman menambahkan.


Menarik tangan perempuan masih tak mau menoleh ataupun menjawab, Arman memajukan tubuh dan memeluk istrinya. Seketika tangis itu pecah dalam dekapan hangat lelaki juga merasakan luka ketika melihat istrinya menangis.


"Sakit, Pak" ucap Sachinta dalam tangis menjadi.


"Aku tau, maafin aku. Jangan nangis lagi, aku engga bisa kalau kamu kaya gini" sendu Arman, mengusap punggung istrinya.


Meskipun tak bersalah atas apa yang terjadi, Arman tetap meminta maaf. Segala yang terjadi bukan hal yang disengaja ataupun diinginkan oleh Arman, bahkan kini ia sangat jijik dengan Raisa atas apa yang telah dilakukan.


Mendengar kata maaf tulus dari lelaki mendekap dirinya erat, Sachinta melepaskan pelukan dan menyeka air mata. Tampak jelas dari sorot mata yang kini ia lihat, akan sebuah rasa bersalah.


"Bapak engga salah, kenapa minta maaf?" tanya polos Sachinta, menatap dalam mata suaminya.


"Aku salah, kalau aku engga ngomong mau antar dia beli buku mungkin ini engga terjadi" sendu Arman.


"Niat kamu baik Sa, tapi aku mohon jangan sedih lagi. Aku sayang sama kamu" tulus Arman, mengusap lembut wajah dengan mata memerah dihadapannya.


Mencium kening Sachinta lembut dan lama, Arman merasa sesak dalam dada ketika harus melukai tanpa sengaja. Niat baik Arman dan Sachinta untuk mengantar membeli buku demi memenuhi janji, malah berakibat fatal.


Walaupun terluka akan apa yang telah dilihat, Sachinta memahami jika semua bukan kesalahan suaminya. Ia tahu jika Arman sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindar, tapi keadaan tak bisa untuk dicegah.


"Bapak kenapa pakai cincin itu?" tanya Sachinta melihat jari suaminya.


"Aku mau semua orang tahu kalau aku udah nikah" jawab Arman, ikut melihat jarinya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa? aku juga harus pakai?" polos Sachinta.


"Karena aku engga mau ada kejadian kaya tadi dan itu nyakitin kamu. Aku mau kamu juga pakai, tapi itu engga mungkin sekarang" sangat tulus Arman menjawab.


"Iya juga, pasti mereka nanya. Atau aku pakai di jari lainnya aja, Pak?" sahut Sachinta, dibalas senyum suami juga mencubit pipinya.


"Cincin pernikahan engga bisa diganti ganti jari sayang" gemas Arman mencubit pipi istrinya.


"Masa sih?" tanya Sachinta tak percaya dengan ekspresi curiga.


"Tanya mama kalau engga percaya. Sekarang kita mau kencan kemana?" sahut Arman.


"Bukannya tadi bilang ada pekerjaan ya?" tanya Sachinta.


"Pekerjaanku ya kamu, bahagiain kamu" senyum menggoda dikembangkan Arman.


"Gombal terus, nonton sama makan aja yuk Pak sekalian main game" sahut Sachinta bersemangat kembali.


"Itu tulus bukan gombal. Boleh tapi panggil Andra, entar dikira aku Bapak kamu kala dipanggil Bapak terus" ucap Arman.


"Siap bos" meletakkan tangan seperti orang hormat, Sachinta menjawab.


Melebarkan senyum melihat tingkah istrinya, Arman amat gemas pada perempuan polos selalu bersikap seperti anak kecil. Meskipun hatinya masih merasa bersalah, Arman sebisa mungkin berusaha membuat Sachinta bahagia dengan banyak cara.


Sachinta sendiri juga masih merasakan tak enak dalam hati akan bayangan suami yang dicium tadi. Sebagai seorang istri, Sachinta tak rela akan hal itu. Namun ia mencoba tertawa dan bersikap biasa, agar suaminya tak terus merasa bersalah atas kejadian bukan salahnya sama sekali.

__ADS_1


**Bantu rate 🌟 🌟 🌟 🌟 🌟 terus serahkan dong kak, makasih. Oh iya baca karya aku lainnya juga dong kak, klik aja profil aku atau ke tombol pencarian klik "Shanum" pasti banyak karyaku muncul**


"LIKE jangan Lupa ya 😘😘🥰🥰


__ADS_2