I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 37


__ADS_3

Puas menertawakan Nino, keduanya beranjak pergi meninggalkan meja masih ada sisa makanan di meja. Segera Nino berlari menyusul dua orang saling bergandengan tangan tersebut, dan memisahkan berjalan di tengah.


"Hehehe, aku kan gak ada gandengannya" cengengesan Nino melingkarkan tangan pada lengan dua orang menatap dengan alis mengernyit.


"Enak aja pegang pegang istri orang, minggir!" menarik tangan Nino terlepas dari lengan perempuan terkejut akan sikapnya, Arman menggandeng kembali Sachinta.


"Tega banget sih? truk aja gandengan masih ada jarak" memajukan bibir, memelas Nino berucap lirih.


Terus mengikuti dari belakang, Nino diam diam memotret Arman juga Sachinta. Tersenyum kecil mengembangkan pikiran, dan mengangguk kepala berulang. Masih memegang ponsel dan mengambil beberapa lagi foto dari sudut pandang berbeda, Nino memiliki rencana lain dalam otaknya.


Begitu tiba di tempat parkir, Arman langsung membukakan pintu untuk istrinya dan membantunya masuk. Lelaki dengan tas ransel hitam itu, masih saja mengikuti kakak sepupunya dan berdiri memasang wajah sok imut.


"Apaan lagi?" tanya Arman menoleh pada laki laki di dekatnya.


"Nebeng..." seru Nino cengengesan, menggoyangkan tubuh tanpa beranjak.


"Ogah, sana pulang sendiri!" tegas Arman, berjalan menuju pintu kemudi meninggalkan Nino gelagapan.


"Lah, gue masa mau ngesot pulang ke rumah?" lirih Nino bergumam.


Cepat cepat Nino membuka pintu baris kedua sebelum Arman masuk, duduk dengan tenang meletakkan tas di samping tubuhnya. Berpura pura membaca buku agar tak terusir dari dalam mobil.


Arman membuang napas panjang melihat Nino sesekali melirik ke arahnya, dan segera kembali menatap buku begitu ketahuan. Sachinta hanya tersenyum kecil melihat tingkah ketua OSIS yang terkenal tegas di sekolah tersebut.


Menyalakan mesin kendaraan dan mulai melajukan keluar dari mall. Tak ada pilihan lain bagi Arman selain mengantarkan saudara sepupunya itu kembali ke rumah. Ia juga berniat untuk sekalian mampir ke rumah untuk membicarakan soal makan malam yang ingin diadakan, demi memperkenalkan istrinya pada keluarga besar.

__ADS_1


Beberapa waktu membelah jalanan malam, terhias lampu lampu jalan yang cantik juga sorot lampu dari kendaraan berlalu lalang. Arman menghentikan kendaraan tepat di depan rumah Nino dan segera meminta adik sepupunya itu turun.


"Udah sana" ucap Arman lirih, menoleh kebelakang dengan tangan kanan masih berada di atas setir berbalut kulit warna hitam.


"Hahaha terimakasih kakakku sayang" ucap Nino, bergidik jijik Arman mendengar.


Tanpa berpamitan pada Sachinta yang tertidur pulas, Nino turun dan menutup kembali pintu perlahan. Arman kembali melajukan kendaraan menuju rumahnya, yang terdapat dekat dari rumah Nino.


Mang Udin hendak mengunci pagar, langsung membukakan lebar pagar saat mengetahui mobil Nino hendak memasuki halaman. Sopir dari keluarganya itu memang menghapal betul kendaraan milik putra majikannya.


"Hatur nuhun, Mang" sopan Arman, membuka lebar kaca mobil.


"Sama sama atuh, Aden" tersenyum mengacungkan jari, Mang Udin mempersilahkan mobil Arman masuk.


Memasuki halaman rumah orangtuanya, dan menghentikan kendaraan di depan garasi tertutup rapat. Arman tak langsung mematikan kendaraan, ia tersenyum menatap wajah lelap istri yang entah dari kapan sudah mulai tertidur.


Memperhatikan wajah menoleh ke arah kanan dengan mata terpejam, Arman mendekatkan wajahnya dan membelai menggunakan ibu jari wajah cantik istri telah memberikan segalanya pada dirinya.


"Terimakasih untuk jadi istri yang selalu kasih aku warna setiap hari, aku sayang kamu Sa" lirih kembali Arman tak meninggalkan senyum pada wajahnya.


Mencium lembut kening istrinya, tiba tiba terdengar ketukan dari jendela sudah ia tutup kembali tadi. Tampak Melati dalam wajah riang berdiri di samping mobil, dibukakan kembali kaca oleh Arman.


"Apa sih, Ma? Sasa lagi tidur tuh" berbisik Arman pada wanita langsung memasukkan dalam mobil begitu kaca terbuka lebar.


"Angkat dong digendong, masa mau kamu biarin tidur di mobil sih?!" melotot Melati sembari memukul putranya.

__ADS_1


"Iya, ini juga mau turun angkat Sasa" sahut Arman, mengusap lengan terasa panas akibat pukulan keras mamanya.


"Gimana? udah ada tanda tanda cucu mama nongol belum?" lirih Melati bertanya ketika putranya sudah turun dari mobil.


"Bikin baru sekali, gimana mau jadi?" batin Arman, menggelengkan kepala.


"He, jawab dulu jangan asal pergi" protes Melati mengejar putranya melintasi bagian depan mobil.


"Engga ada Ma belum. Dikira kami kucing apa baru bikin langsung jadi?" sahut Arman asal, tetap berjalan.


"Hihihi, emang kamu kucing" tersenyum Melati menutup mulut.


"Gak usah diinget inget lagi deh, aku balik nih" ucap Arman seraya mengancam, melihat ekspresi geli mamanya.


"Jangan dong, gitu aja ngambek" sahut Melati, kembali memukul putranya hingga terdorong.


"Kuat banget sih tenaga Mama?" protes Arman terdorong pundaknya, hampir saja tersungkur.


"Kamu yang letoy, cowok kok letoy banget" sahut Melati membela diri.


Lagi lagi menggeleng kepala akan tingkah wanita cantik berbalut celana kulot pendek sampai lutut di belakang tubuhnya, Arman selalu merasa frustasi ketika mamanya bertingkah aneh aneh dan mulai berpikir dengan caranya sendiri.


Berdiri di samping pintu hendak membuka, namun Arman tersentak dan terjatuh memegangi hidung. Wajah tampannya tanpa sengaja terdorong kuat oleh pintu saat Sachinta membuka dengan semangat, karena melihat mertuanya. Bukannya menolong, Melati dan Sachinta justru menertawakan Arman yang jatuh terduduk sembari memegang hidung mancungnya.


**Baca juga "Menikahi Adik Angkat" karya Alvarendra.

__ADS_1


Tinggalin like sama komentar ya buat tanda kalau sudah mampir di karya sepupu saya.


Terimakasih banyak**....


__ADS_2