
LIKE dulu baru baca ya....oks? oks lah...
Sudah bersiap dan mengenakan pakaian masing masing, tas ransel sudah menggelayut indah pada pundak gadis tampak segar pagi ini dengan rambut belum spenuhnya kering.
Menikmati makan sarapan tanpa ada komunikasi diantara mereka berdua, walaupun duduk dengan jarak dekat. Arman merasa enggan menatap ke arah Sachinta karena ras ingin memiliki menghinggapi pikirannya sedari pagi.
"Berangkat dulu, Pak" pamit Sachinta menyudahi sarapannya, dan beranjak dari duduk usai mendorong kursi lebih dulu.
"Tunggu" ucap Arman dan ikut mendorong kursi agar bisa berangkat bersama.
"Aku engga mau bareng, aku mau naik motor aja" ucap Sachinta, tidak di gubris oleh lelaki yang menarik tangannya pergi bersama.
Berpamitan lebih dulu pada asisten rumah tangga, Arman membukakan pintu istrinya dan mendorongnya masuk. Hanya bisa mendengus kesal akan tindakan sesuka hati dari wakil kepala sekolahnya, Sachinta memasang shitbelt dengan kasar, beriringan mata memperhatikan lelaki tengah memutar depan mobil untuk menuju pintu kemudi.
"Kenapa? engga suka?" tanya Arman sudah duduh di ablik kemudi, menatap ke arah agadi di sampingnya.
"Engga lah, mana ada? ini tersenyum" sahut Sacinta menunjukkan semua gigi, tersenyum palsu.
"Bawa ini untuk uang saku kamu, kalau habis kamu bisa minta lagi" ucap Arman menyodoekan uang pada istrinya.
__ADS_1
"Engga usah, Bapak kan bukan Papa jadi engga perlu kasih uang. Aku juga masih punya uang dari Papa di ATM dikirim tiap bulan" santai Sachinta menolak.
"Kamu istriku, sudah kewajibanku membiayai kamu. Jadi kembalikan semua uang yang diberikan Papa mertua dan balikkin ATM kamu juga" coba Arman menjelaskan.
"Eh, enak aja Bapak kalau ngomong. Ini tuh uangku dan Papa emang kasih tiap bulan, aku sama Bapak cuma buat sembuhin Bapak nanti kalau Bapak udah sembuh juga aku pergi jadi istri yayang Kiki" tersenyum Sasa sembari membayangkan, membuat Arman kesal.
"Yayang Kiki, yayang Kiki! berhenti kamu ngomong kaya gitu! engga pantas kamu ngomong kaya gitu ke aku!" tegas Arman tersulut emosi, mengagetkan Sachinta langsung memegang dada.
"Kaget aku" seru Sachinta mengusap dada.
"Kamu udah engga bisa buat dihalusin lagi ya?" ucap Arman menatap Sachinta.
"SASA!" bentak Arman keras, menakutkan bagi Sachinta membulatkan mata hebat.
"Sabar Pak, orang sabar keningnya lebar" seru Sachinta mengarahkan telapak tangan kiri mengusap dada lelaki menatapnya geram.
"Tidak mudah membuatnya mengerti" batin Arman.
Menahan tangan Sachinta masih di atas dadanya, Arman menariknya mendekat dan mulai beradu pandang. Mendekatkan bibir pada bibir gadis di hadapannya, tak seperti pertama kali di puncak, kini Sachinta seolah terlarut dalam susana dan memejamkan mata menikmati sentuhan hangat bibir suaminya.
Perlahan berubah membimbing agar bisa saling menikmati, tidak lagi teringat waktu berputar sudah membuat kedaunya terlambat datang ke sekolah. Tangan perlahan berani melakukan lebih pada tubuh gadis mulai tersadar dan menahan tangan suaminya.
__ADS_1
Menelan saliva kasar, menyadarkan dirinya dan duduk bersandar meluruskan tatapn kedepan, jantung Sachinta berolahraga pagi kembali. Berlari, berlompatan tanpa bisa untuk di kendalikan. Mengatupkan bibir, Sachinta masih bisa merasakan apa yang baru saja ia alami.
"Kita berangkat sekarang" ucap Arman menyalakan mesin kendaraan.
Hanya anggukan kepala diberikan Sachinta dengan masih menatap lurus ke depan tanpa berani menoleh. Bersama menuju ke sekolah dengan keheningan menyelimuti antara mereka, Arman tetap mengemudi sambil sesekali berdeham untuk melegakan batinnya sendiri.
Beberapa waktu perjalanan, mereka telah tiba di sekolah dan memasuki gerbang memarkirkan mobil pada parkiran kendaraan khususu guru. Bergegas Sachinta meraih tas di jok belakang dan mendekapnya erat di depan dada.
"Tiadk ada yayang Kiki, kalau sampai aku melihat kamu dekat dengannya maka aku akan melakukan lebih dari tadi" ucap Arman mengingatkan tanpa menoleh.
"I, iya" terbata untuk pertama kali, Sachinta menjawab.
Berjalan menyusuri koridor, Sachinta mendekap tas ranselnya dan memegangi bibir membayangkan semua telah berlalu. Masih sangat terasa lembut bibir Arman juga tangan yang menyentuh dadanya tanpa ijin ataupun permisi. Suhu tubuh berubah memanas, di sadarkannya dengan menggeleng cepat kepala lalu berlari ke kelas.
Arman yang tak ingin istrinya di hukum karena terlambat, mengikutinya sampai ke kelas. Dan benar saja Sachinta langsung di cerca banyak pertanyaan dalam nada amarah oleh Raisa, guru matematika cantik yang kini mengajar di kelasnya.
"Sachinta menolong saya, untuk itu dia terlambat" tiba tiba terdengar suara khas pria dari tengah pintu kelas, semua mata pun menatap bersamaan, begitu juga Sachinta namun segera menundukkan wajah.
"Pak Arman?" seru Raisa, lalu berjalan menghampiri lelaki yang ia suka, lelaki yang sama menjadi bahan pembicaraan seluruh sekolah yang mengatakn jika keduanya memiliki hubungan asmara.
*Yang suka genre kaya gini, aku ada satu rekomendasi novel bagus banget judulnya Guruku Imamku" karya Muh. Iqram Ridwan. Dijamin keren banget dan masih baru anget anget kaya gorengan baru di angkat. Kuy lah kepoin..**
__ADS_1