I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 35


__ADS_3

Melajukan kembali kendaraan menuju sebuah mall, Arman fokus mengemudi dengan Sachinta menatap cincin pada jari manis suaminya. Tampak indah cincin emas putih itu melingkar pada jari telah menyentuhnya hari ini.


Sejenak melepaskan sit belt, Sachinta mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Arman dan menggunakan kembali, mengarahkan pandangan ke arah lain untuk menghindari rasa malu.


Arman menoleh dan tersenyum akan tingkah istri kecilnya. Mengarahkan jari telunjuk dan mulai menusuk lirih pinggang istri langsung merasa geli.


"Kenapa? jatuh cinta enak ya?" goda Arman tersenyum.


"Ih, siapa lagi yang jatuh cinta. Pede banget Bapak kalau ngomong" protes Sachinta.


"Percaya deh yang engga jatuh cinta tapi tiba tiba nyium, aku ngegemesin ya?" sahut Arman tetap mengemudi dengan sesekali melirik menggoda.


"Gemes apaan? tadi itu di wajah Bapak ada semut makanya aku cium semut nya, bukan cium Bapak" kilah Sachinta, merekahkan senyum Arman.


"Iya, apa sih yang engga kamu cium? jangankan semut, meja aja kamu cium tiap di kelas" sahut Arman, sering melihat istrinya ketiduran ketika pelajaran sejarah.


"Hahaha rayap dong Pak, cium meja tau tau udah abis aja" tawa Sachinta asal, disusul tawa suaminya.


Memasuki tempat dimana mereka akan kencan, Arman memarkirkan kendaraan dan mengajak istrinya turun. Menggandeng tangan Sachinta dan berjalan masuk, Arman tak merasa takut sedikitpun jika sampai ada yang melihat.


Berbeda dengan suaminya, Sachinta justru tampak kurang nyaman dengan tangan yang di gandeng. Berusaha melepaskan karena takut bertemu oleh teman sekolah, Arman menarik kembali dan memasukkan pada saku jaket.


"Pak, kalau sampai ketemu anak sekolah atau guru bakal ribet" protes Sachinta tak nyaman.


"Siapa peduli? kita diluar sekolah, jadi kamu istriku bukan murid" sahut santai Arman.


Usai hubungan yang terjadi di antara keduanya, Arman sangat ingin semua orang tahu jika dirinya memiliki hubungan dengan Sachinta. Bahkan ia ingin sekali mengatakan kalau dirinya sangat mencintai istrinya.


Tanpa lagi peduli akan masalah di depan yang menanti akan hubungan murid dan guru, Arman sudah mempersiapkan diri dari mulai ia menikah. Jelas akan ada pertentangan dari wali murid, siswa juga dewan guru jika mengerti akan hubungan keduanya.

__ADS_1


Bahkan kemungkinan terburuk adalah Sachinta akan di keluarkan dari sekolah, begitu juga dirinya. Meskipun itu adalah yayasan om nya, Arman juga takkan pernah menggunakan kekuasaan om nya untuk menolong dirinya dan Sachinta ketika hal itu menimpa kelak.


Semua seakan sudah terpikirkan matang oleh lelaki tengah merasakan jatuh cinta tersebut, bahkan home schooling pun sudah ada di angan angan Arman untuk istrinya jika dikeluarkan atau harus hamil.


Arman menanamkan benihnya pada rahim Sachinta dan mengubah pikiran untuk menunda memiliki anak. Ia ingin hubungannya semakin kuat dengan hadirnya anak di antara mereka.


Mungkin terkesan egois karena tak lagi perduli akan usia istrinya, namun hanya cara itu yang bisa mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan utuh. Lagipula keluarga juga sudah sangat mendesak akan hal itu.


Kejadian Raisa sudah cukup membuatnya menyadari, jika kapanpun rumahtangganya pasti akan terguncang pihak ketiga. Mengingat usia Sachinta yang bisa saja merasakan jatuh cinta kembali pada lelaki lain, juga Raisa Raisa lain yang mungkin ada.


Memperkuat hubungan pernikahan dan perasaan di antara mereka, mungkin saja bisa membentengi dari kehancuran godaan pihak ketiga. Untuk itulah ia sangat ingin memiliki anak dan berusaha penuh untuk membahagiakan istrinya.


***


Sudah mengantri untuk membeli tiket dan menunggu untuk jadwal film di putar, keduanya mulai memasuki bioskop dengan popcorn juga minuman dibawa. Duduk berdampingan, Arman dan Sachinta memilih film horor bersama.


Beberapa waktu menunggu, lampu sudah mulai dimatikan dan film di putar. Tak merasa takut akan film horor, keduanya memang kerap menonton TV di rumah film horor bersama ketika senggang dan sebelum renggang.


"Maaf ya" sahut lelaki tersebut berbisik.


"Kamu kenal?" bisik Arman sangat lirih pada telinga istrinya.


"Engga" sahut Sachinta lirih.


"Hahahaha dasar" gumam lirih Arman.


Tidak heran akan kelakuan istrinya yang menegur walaupun tak mengenal, Arman hanya menggelengkan kepala dengan tawa lirih. Sachinta memang suka sekali menegur ketika seseorang mengusik dirinya, entah itu kenal ataupun tidak.


Apalagi dalam suasana menonton yang harusnya hening, malah harus mendengar suara berisik dari lelaki di sampingnya. Tanpa pikir panjang langsung saja ia menegur karena merasa terganggu.

__ADS_1


Menikmati acara menonton bersama tanpa menghentikan mulut untuk mengunyah, semua adegan horor dalam film tak membuat Sachinta histeris sedikitpun seperti penonton lainnya.


Sampai saat dimana film telah habis dan lampu mulai menyala, Arman mengajak istrinya untuk menunggu hingga tak begitu ramai orang berdesakan keluar. Keduanya masih asik duduk menikmati makan dan minum.


"Sasa?!" terdengar suara terkejut dari samping ia duduk, segera Sachinta dan Arman menoleh bersamaan.


"Nino?!" membulatkan mata dan berseru terkejut melihat laki laki yang duduk di samping Sachinta.


"Jadi Lo yang marahin gue tadi? pantes banget kaya kenal suaranya" ucap Nino, belum sepenuhnya sadar dengan orang yang berada di samping Sachinta.


"Berisik Lo emang, untung engga gue tonjok" sahut santai Sachinta.


"Kak Andra?! kenapa disini?!" tanya Nino baru menyadari kehadiran saudaranya.


"Telat sadarnya, udah engga asik" santai Arman kembali menyandarkan tubuh pada kursi bioskop, meminum cola tengah ia pegang.


"Sebentar, kalian berdua keluar bareng? kalian ada hubungan apa? terus..." belum sampai Nino melanjutkan rentetan pertanyaan, dengan santainya Arman menarik Sachinta untuk pergi.


"Main tinggal aja, tungguin!" teriak Nino berlari mengejar kedua orang saling bergandengan.


Pergi nonton film horor bersama teman lesnya, Nino tak menyangka akan bertemu dengan saudara sepupu yang tak pernah ia temui. Melihat adanya Sachinta, ia tak bisa mengendalikan diri untuk mencari tahu.


"Nino!" teriak teman yang nonton bersamanya.


"Gue ada urusan, Lo balik aja. Thanks ya..." seru Nino terus berlari meninggalkan temannya, tak ingin kehilangan jejak kedua orang yang tengah ia ikuti.


"Sialan nih anak, main tinggal aja" gerutu teman les Nino.


Sachinta yang mengetahui jika Nino adalah sepupu dari suaminya, tenang tenang saja tanpa khawatir apapun. Karena cepat atau lambat pasti Nino juga akan mengetahui pernikahan mereka.

__ADS_1


Like nya ya.....


__ADS_2