
"Arman, kamu tahu kan mama sama papa menikah waktu mama kamu baru berusia 19 tahun dan papa usianya 28 tahun? dan itu bukan masalah besar buat kita bisa beradaptasi setelah menikah. Kalian pasti bisa menjalani semuanya, dan untuk pihak sekolah kami bisa menjamin kalau tidak akan ada yang tahu, karena pernikahan ini akan di adakan di puncak diam diam" sahut Dirga memberi pengertian.
"Aku engga cinta sama dia Pa, dan dia juga engga cinta sama aku. Gimana bisa pernikahan tanpa cinta untuk terjadi? papa coba ngerti aku dong Pa" jawab Arman tetap tidak menginginkan perjodohan.
"Semua ada di tangan kamu, kamu bisa menolak dan bicara sama semua orang di dalam. Papa engga mau ngomong apa apa lagi karena ini kehidupan kamu" pungkas Dirga kembali menepuk.pundak anaknya.
Dirga membawa Arman untuk masuk kedalam rumah karena segan kalau harus pergi terlalu lama. Arman mulai berpikir dalam setiap langkahnya menuju rumah. Semua perkataan papanya, ia serap dan pikirkan baik baik. Jika ia harus menolak, mungkin akan sangat membuat malu kedua orangtuanya dan hanya bisa untuk menerima saja.
"Arman mau ngomong sesuatu?" tanya Melati pada putranya.
"Arman setuju menikah sama Sachinta" jawab Arman, langsung Melati berdiri dan memeluk.putranya senang.
Melihat tawa bahagia pada wajah mamanya, membuat hati Arman ikut bahagia. Bagaimanapun juga, pilihan mamanya tidak mungkin salah dan sudah melalui pertimbangan yang matang. Apalagi masalah pernikahan yang menyangkut kehidupan dua orang dan dua keluarga besar, tidak mungkin orangtuanya memilih dengan asal.
****
Satu minggu setelah acara makan malam, segala persiapan pernikahan sudah dilaksanakan. Kedua keluarga besar kini sama sama berada di puncak untuk menjadi saksi pernikahan dari Arman dan Sachinta esok hari. Sebuah acara yang hanya diketahui oleh keluarga, dan bersiap mengunci rapat menjadikannya sebagai rahasia yang harus dijaga sebelum adanya resepsi nanti. Sebuah resepsi yang akan di gelar ketika keduanya merasa siap mempublikasikan hubungan bersama.
Semenjak makan malam itu, Sachinta dan Arman sama sama saling menghindari pandangan ketika bertemu di sekolah. Bahkan persiapan pernikahan pun, mereka tidak ikut campur dan hanya akan duduk menjadi memepelai saja ketika pernikahan di gelar. Sachinta yang awalnya setuju untuk menikah, tiba tiba merasa bimbang karena baru menyadari segala ucapan Arman malam itu. Namun ia juga sudah tak bisa lagi untuk mundur meski hatinya begitu menolak perjodohan ini sekarang.
"Ngapain disini?" tegur Arman menghampiri Sachinta yang duduk sendiri di bangku taman.
"Cari udara" singkat gadis tengah mengenakan celana hotpant dan sweater berwarna putih itu menjawab.
Arman duduk di samping Sachinta, memberikan selimut pada gadis di sampingnya dan menutupi paha mulus yang terpampang indah. Duduk sedikit menjauh, Arman menatap lurus ke depan sama hanya dengan Sachinta.
__ADS_1
"Sudah terlambat untuk mundur kan?" tanya Sachinta bernada tidak berdaya.
"Menyesal? bukannya waktu itu sudah aku ajak kerja sama untuk menolak?" sahut Arman santai, Sachinta menghembuskan napas panjang.
"Aku ngantuk" jawab Sachinta menghindar tidak bisa menjawab.
"Masuk dan tidurlah di dalam" ucap Arman menoleh.
"Hm" pungkas Sachinta.
Tidak tahu harus menjawab apa, Sachinta memilih untuk pergi saja meninggalkan Arman yang juga berpikiran sama dengannya. Kini mereka merasa berada dalam tepi jurang bersama, dan hanya menunggu waktu untuk terjun bersama kedalam jurang. Entah akan selamat atau malah mati bersama di sana.
Arman termenung memikirkan pernikahan yang akan di gelar esok hari. Tetap tidak mempercayai jika dirinya akan menikahi muridnya sendiri, dengan perbedaan usia mencolok. Bagaimana jika sampai ada yang mengetahui, ketakutan ketakutan itu terus menghantui hari hari Arman dari saat pernikahan sudah ditentukan.
Melati yang hendak keluar membuang bungkus sisa makan, melihat putranya duduk sendiri di bangku taman memutuskan untuk menemui. Langsung memeluk putranya, Melati mencium pipi kanan laki laki yang terkejut akan kehadirannya.
"Mama, bikin kaget aja" seru Arman terkejut, di balas senyuman oleh wanita berbalut jaket warna hitam melangkah untuk duduk bersama.
"Kenapa? kamu pikir mama ini Sasa?" menggoda sembari tersenyum, menepuk paha putranya.
"Siapa juga yang mikir kaya gitu?" gumam lirih Arman.
"Ngapain sih dingin dingin di luar? sendirian lagi, engga takut ada serigala terus makan kamu?" ucap Melati menggoda putranya.
"Mama bahagia sama pernikahan ini?" tanya Arman menoleh ke arah mamanya.
__ADS_1
"Bahagia, mama yakin suatu saat kamu juga pasti bahagia. Sasa bukan seperti yang kamu pikirkan, dia anak yang baik dan ceria yang pastinya bisa kasih warna baru dalam hidup kamu nanti" menggenggam tangan putranya melebarkan senyum.
"Oh ya, besok kalian tinggal disini dulu ya setelah pernikahan. Kita semua balik siangnya buat urus rumah yang mau kalian tempati nanti" ucap kembali Melati.
"Sachinta harus sekolah Ma, kalau kita nginap disini gimana sama sekolahnya?" sahut Arman.
"Tenang aja, semua udah Mama urus sama Om. Kalian cuma tinggal duduk aja besok buat nikah engga perlu pikirin apapun" tersenyum dan bernada semangat.
"Oke, asal mama bahagia" pasrah Arman.
Meletakkan kepala pada pangkuan mamanya, Arman ingin merasakan untuk dibelai kepalanya. Setiap kali membebani pikiran dengan masalah masalah, Arman pasti akan merebahkan kepala di pangkuan mamanya dan seketika menjadi tenang. Keajaiban tangan seorang Ibu, memang bisa mengusir segala kegundahan anak anaknya.
"Mulai besok, Sasa yang bakal usap rambut kamu bukan mama lagi" menggoda kembali.
"Jangan minta cucu, Dia masih sekolah engga mungkin hamil" coba Arman memperingatkan, ditepuk pundaknya oleh Melati.
"Tau aja yang mama pikirin" senyum Melati.
"Tau lah, kelihatan dari wajah mama berharap banget punya cucu" santai lelaki masih nyaman bersandar pada pangkuan mamanya.
"Pokoknya aku engga mau di desak buat punya anak, biarin semua ngalir gitu aja. Awas aja kalau sampai mama maksa buat aku punya anak" kembali Arman memperingatkan.
"Iya iya" sahut Melati.
Status pelajar yang masih di sandang Sachinta, tidak memungkinkan untuk dirinya memiliki anak. Terlebih, syarat dari papanya agar tak menyentuh Sachinta sampai lulus sekolah lebih dulu. Hal itu sengaja disampaikan Dirga karena usia Sachinta saat ini, dan takut akan adanya kehamilan yang bisa membuat Sachinta terganggu dalam pelajaran. Hal itu juga yang mendasari Dirga untuk menolak perjodohan ini, saat istrinya mencoba mengutarakan pertama kali.
__ADS_1