
Kesal karena di dorong begitu saja seperti sebuah tong kosong, Sachinta menoleh ke arah lelaki yang memunggungi dirinya. Mengumpat seraya memukul punggung Arman, Sachinta menunjukkan sorot mata teramat jengkel pada lelaki tak merespon dirinya.
"Orang kok ngeselin banget!" umpat Sachinta dan berusaha turun dari atas ranjang.
Mendengar namun tak ingin menghiraukan, tubuh terlalu lelah karena aktifitas padat telah dilalui seharian. Arman tetap menutup mata merasakan gerakan di atas ranjang. Sementara Sachinta sudah turun dan berjalan menghentakkan kaki kasar di atas lantai, mengarah ke arah pintu tetap menggerutu.
"Gue kerjain ah" batin Sachinta, seraya tersenyum.
Memutar tubuh sudah hampir sampai di balik pintu, gadis terlihat cantik dan selalu wangi itu mengendap berjalan mengampiri suami sudah menyelimuti tubuh sampai batas dada. Membungkuk ke arah wajah Arman ketika sudah sampai di samping ranjang, Sachinta menggigit kecil telinga lelaki langsung merasakan sesuatu berdesir dalam diri.
Menarik tangan gadis ingin segera berlari, Arman menangkapnya tepat di atas dada. Membuang napas kasar, menatap lekat kedua bola mata Sachinta yang juga menatapnya. Perasaan aneh kembali dirasakan Sachinta, sebuah perasaan lain dari apa yang ia rasakan pada Riski selama ini.
"Jangan membangunkan singa tidur" lirih Arman berucap, tanpa melepaskan mata masih beradu bersama gadis tengah berdetak amat kencang dalam dada.
"Siapa? Bapak jadi singa? sejak kapan?" polos Sachinta bertanya.
"Sering kamu kaya gini ke laki laki lain? siapa?" tanya Arman, mengeratkan pegangan pada pinggang Sachinta.
"Engga, cuma sama Bapak. Tapi kalau tiup telinga temen sih sering Pak" kembali polos Sachinta menjawab.
"Siapa?!" tegas Arman bertanya.
__ADS_1
"Ria, Nino, Riski, Febri, siapa lagi ya Pak? lupa aku" sahut Sachinta santai.
"Nino? Riski? kenapa?" tanya Arman.
"Ya, kadang kalau aku ngomong terus mereka engga fokus ya aku tiup telinganya Pak. Emang kenapa sih?" polos Sachinta, segera Arman memejamkan mata, memahami jika istrinya tak tahu apa akibat dari yang dilakukan.
"Jangan pernah lakukan hal ini lagi ke siapapun selain ke aku. Kamu engga akan pernah tahu apa reaksi laki laki kalau kamu gituin" jelas Arman, tak bisa ditangkap jelas maksud perkataannya oleh Sachinta.
"Aku engga ngerti, mereka biasa aja tuh Pak. Emang apa reaksinya?" polos Sachinta bertanya, memundurkan kepala dan memasang wajah aneh.
Tidak ingin menjelaskan dengan kata kata yang tak akan mudah dimengerti Sachinta, dan membuatnya akan kuwalahan. Arman meraih tangan kiri istrinya dan meletakkan tepat pada sesuatu sudah bereaksi. Terkejut dan cepat menarik tangan, Sachinta berteriak hingga membuat Arman harus membungkam mulut istrinya agar tak terdengar pelayan.
"Gila ya kamu jam segini teriak?!" kesal Arman melotot.
"Ha? kamu ngomong apa?" tanya Arman membuka tangan dari atas bibir istrinya.
"Bapak mesum banget sih?! ternoda tanganku kan kalau kaya gini" mengerutkan alis, mengatakan dengan nada kesal.
"Itu yang akan kamu alami kalau sembarangan tiup telinga laki laki" jelas Arman, dimengerti Sachinta dengan menganggukkan kepala berulang.
Kedekatan wajah keduanya, mengembangkan banyak fantasi pada benak Arman sebagai seorang lelaki dewasa. Merasakan seluruh tubuh istri yang menempel di atas tubuhnya, Arman menginginkan sesuatu hubungan lebih yang seharusnya sudah ia lakukan dari dulu.
__ADS_1
"Sasa, aku mau kita lakuin kewajiban suami istri" tulus dan lirih Arman mengutarakan keinginan.
"Apa?" polos tanya Sachinta tidak mengerti.
Memindahkan tangan ke tengkuk Sachinta, Arman menikmati bibir yang coba dibimbing untuk membalas dan menikmati bersama. Tangan mulai menyusup pada baju tidur dan bermain indah pada punggung mulus istrinya, namun segera Sachinta menahan tangan yang ingin membuka pengait di belakang tubuhnya.
"Jangan" ketakutan Sachinta meminta, tampak jelas dalam aura wajahnya.
"Kita sudah menikah, dan aku mau itu dari kamu" ucap Arman menatap dalam mata tampak menyorotkan rasa takut terbesar.
Mengangguk mengiyakan walau merasa takut, Sachinta berulang kali diberikan penjelasan oleh Syibil akan kewajiban seorang istri. Sebuah hal dewasa yang diterangkan oleh Syibil pada putrinya, sempat membuatnya takut untuk membayangkan bahkan hanya untuk berpikir saja.
Berpindah dibawah tubuh suaminya, Sachinta membiarkan apa yang ingin dilakukan suaminya meski teramat takut. Kedua tanagnnya menggenggam erat sprei, bibir lembut Arman mulai menyusuri leher miliknya.
Tak pernah mau melakukan apa yang sudah menjadi kewajibannya karena tak ingin Sacinta hamil, atau merasa bebas di luar. Naluri lelaki Arman tak bisa lagi untuk dikendalikan untuk tak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Ingin menjadikan gadis sudah mengisi hari harinya itu seutuhnya, Arman lembut melakukan apa yang membuat Sachinta menegang tanpa bisa menikmati. Tubuh terus dijamah membuatnya sangat merinding tak nyaman, karena segala sentuhan lembut itu baru pertama kali ia rasakan.
"Kenapa kamu takut?" tanya Arman menghentikan sejenak apa yang diinginkan begitu menyadari tubuh tegang dan mata rapat terpejam istrinya.
"Sasa?" tambah Arman, masih menyusupkan tangan pada baju piyama istrinya.
__ADS_1
Tidak tahu apa yang kini ia rasakan selain rasa takut, mata masih tertutup sangat rapat tanpa mau dibuka sedikitpun. Tubuhnya berubah seperti patung tidak berani bergerak sedikitpun. Napasnya memburu tak beraturan, bersama debaran jantung sangat cepat yang bahkan bisa di dengarkan oleh Arman di atasnya.