
"Malah ketawa sih?!" kesal Arman memprotes dua orang terbahak memegangi perut di hadapannya.
"Kamu lucu banget, Nak" sahut Melati di sela tawa, menatap pada putranya masih memegangi hidung dengan ekspresi jengkel.
Berdiri sendiri karena kesal ditertawakan, Arman meninggalkan mama juga istrinya yang tetap tak mampu menghentikan tawa mereka.
Ditengah pintu sudah ada pria yang tadi berjalan keluar, ketika mendengar suara berisik. Arman mencium tangan papanya dan langsung masuk kedalam, menutupi kembali hidungnya.
Sachinta dan Melati menyadari kepergian Arman, langsung mencoba menghentikan tawa dan mengatur napasnya. Menggandeng lengan menantunya, Melati buru buru masuk ke dalam.
Dilihatnya Arman sudah duduk bersama papanya di ruang tamu. Bersandar dengan memasukkan tisu kedalam lubang hidung, Arman acuh akan kedatangan kedua orang yang tak menolongnya tadi.
"Kenapa sih, Ma?" tanya pria yang duduk di hadapan putranya tersebut menoleh pada Melati.
"Accident, Pa. Biasa lah anak muda" sahut Melati mengibaskan tangan di depan wajah, mengisyaratkan jika tak ada hal penting terjadi.
"Anak muda apaan?!" gumam lirih Arman.
"Sini biar aku bantu" ucap Sachinta mencoba meraih tisu tengah di pegang lelaki yang mengarahkan kepala ke langit langit ruangan.
"Engga usah!" sinis Arman menepis tangan istrinya.
"Ya udah, Bapak kan udah besar jadi bisa sendiri" sahut Sachinta, menata kembali duduknya yang tadi sempat miring menghadap suaminya.
Merasa tak dibujuk oleh istrinya, Arman melirik ke arah samping lalu menarik tangan di atas pangkuan tersebut untuk memegang tisu dalam hidung.
"Di bujuk kek, malah di cuekin" protes Arman, ditertawakan kedua orangtuanya.
"Orang gak mau ngapain dibujuk? ya kan Sa?" goda Melati menahan tawa.
"Hahaha, iya Mamel. Orang tadi engga mau, sekarang tarik tarik" sahut Sachinta ikut menggoda.
"Ya udah, engga usah" menggerutu Arman kesal, memalingkan wajah ke arah lain istrinya.
"Kaya anak kecil sih kamu sekarang?" tanya pria menatap aneh putranya, diiringi tatapan tak kalah aneh dua orang lainnya.
__ADS_1
"Orang nih Pa sepinter apapun, kalau udah kenal cinta jatuhnya tetep sama bodoh bodoh juga" ceplas ceplos Melati menjawab, dibalas senyum suaminya.
"Ha? Pak Arman bodoh? engga kok, kalau bodoh kan engga bakal jadi wakil kepala suku Mamel" sahut polos Sachinta, ditertawakan Arman lirih. Sedangkan Melati dan suaminya hanya saling tatap tak mengerti.
"Wakil kepala sekolah, kenapa jadi wakil kepala suku?" lirih Arman bergumam dalam tawa yang ia tahan.
Sachinta merasa tak ada yang salah akan ucapan yang di anggap aneh mertua juga suaminya. Ia malah memikirkan apa yang diucapkan mama mertuanya tentang suami yang masih memunggungi dirinya.
"Eh, kalian udah makan belum? Mama siapkan makan ya? kebetulan ada sayur sisa satu minggu lalu, jadi tinggal di angetin aja" ucap Melati, segera Arman dan Sachinta menatapnya melongo.
"Ha?! satu minggu lalu?!" tanya Arman dan Sachinta bersamaan, lalu saling menatap.
"Belum satu tahun" santai Melati menaikkan kedua bahu, berdiri dan langsung berjalan ke arah dalam.
"Kamu bilas pakai air sana, biar berhenti mimisannya" ucap pria hendak menyusul istrinya pergi.
"Ke kamar aku aja" memegang tangan istri masih melongo di sampingnya, Arman menarik lembut agar berdiri.
Terkejut dengan ucapan mertuanya, Sachinta melongo hebat membayangkan bagaimana rasa masakan yang sudah satu minggu lalu.
Sampai di sebuah pintu tertutup, Arman menekan handle pintu dan membawa istrinya masuk ke dalam ruangan tanpa penyinaran lampu. Tangannya meraba pada dinding sebelah pintu dan melangkah kembali.
"Kamar Bapak gede banget! Bapak emang hobi banget baca ya?" ucap Sachinta kagum, melihat kamar luas dengan banyak buku tersusun rapih.
"Kamu juga harus banyak baca, biar pinter" sahut Arman berjalan ke arah kamar mandi.
"Gak usah baca juga udah pinter, makanya Bapak cinta sama aku" gumam lirih Sachinta bangga.
Melihat lihat setiap sudut ruangan, Sachinta menuju sebuah meja kerja dimana terdapat sebuah foto terbingkai indah di meja. Tangannya meraih bingkai berwarna putih tersebut, dan mulai menatap.
Alangkah terkejutnya ia ketika melihat foto lelaki begitu dia kenal bersama seorang perempuan cantik berambut panjang. Tampak saling memeluk juga tersenyum akrab, wajah Arman terlihat bahagia.
Ekspresinya berubah aneh mengetahui foto di atas meja kerja tersebut, dan segera berlari menuju ranjang begitu mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan berpura pura memainkan ponsel.
"Siapa? chat sama siapa malam malam gini?" tanya Arman, memegang handuk kecil dan berjalan menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sa! ngelamun lagi" tegur Arman menepuk lengan istri seketika terkejut menjatuhkan ponsel dan menoleh.
"Kamu kenapa sih? ada apa?" tanya khawatir Arman memegang kedua sisi wajah istrinya.
"Bapak pernah punya pacar sebelumnya?" tanya langsung Sachinta tanpa basa basi.
"Kenapa tanya kaya gitu? kan yang penting kita udah nikah, yang dulu ya biarin aja" senyum Arman menjawab santai.
"Jawab aja!" teriak Sachinta, menurunkan kedua tangan suami pada wajahnya.
"Sa? kamu kenapa sih?" tanya Arman heran, usai terkejut akan teriakan istrinya.
"Jawab!" tegas Sachinta dalam hati terluka, karena dua kali ia melihat suaminya dekat dengan perempuan lain.
"Iya ada, aku pernah punya pacar tapi itu dulu. Sekarang dia udah nikah, aku datang ke nikahannya waktu itu" jelas Arman masih berekspresi aneh akan sikap istrinya.
"Bapak masih suka?" tanya kembali Sachinta penasaran.
"Engga, aku udah engga suka. Aku sekarang udah jadi suami kamu, dan aku cintanya sama kamu. Kenapa sih kamu tiba tiba nanya hal itu?" jelas Arman tetap merasa aneh.
"Kalau engga suka, kenapa Bapak masih simpan foto dia di meja?' tanya Sachinta, mengejutkan Arman teringat.
"Itu udah lama disitu, Sa. Aku habis nikah juga langsung pindah ke rumah baru sama kamu jadi engga sempat beresin kamar ini" jawab Arman serius menjelaskan.
"Berarti sebelum nikah Bapak masih cinta biarpun dia udah nikah?" memelas Sachinta bertanya dalam wajah sedih.
"Dia cinta pertamaku, aku emang susah lupain dia. Itu makanya mama anggap aku engga suka sama cewek, karena emang aku engga pernah mau Deket lagi sama cewek. Tapi nikah sama kamu, semuanya berubah dan aku cinta sama kamu. Cuma kamu, engga ada lainnya" jawab Arman panjang lebar.
"Aku berani sumpah demi apapun, engga ada orang lain" tambah kembali Arman.
"Maaf, aku cemburu" lirih Sachinta menunduk.
"Aku suka kamu cemburu, tapi lebih suka lagi kalau kamu ngomong jelas dulu ada apa jangan langsung marah" lembut Arman, dijawab anggukan istrinya.
Baca "Menikahi Adik Angkat" karya Alvarendra (karya gabungan saya sama sepupu juga dua author lain). makasih banyak.
__ADS_1