
Like dulu baru baca ya...
"Pak, ini banyak banget. Engga bisa dapt diskon gitu? 70% lah Pak paling engga" memelas Sachinta meminta.
"Kamu pikir aku jualan baju ada diskon?! kerjakan semua! besok sore harus udah kamu serahin, jawab yang bener bukan hitung jumlah gigi!" tegas Arman.
"Orang lain hitung kancing, kamu hitung gigi" tambah Arman bergumam.
"Kalau kancing udah mainstrem Pak, kalau gigi udah yakin benar kan ciptaan Tuhan" cengengesan Sachinta menjawab.
"Kamu pikir pelangi apa?!" tegas Arman menatap kesal istrinya.
"Kerjain atau kamu milih lakuin kewajiban kamu sebagai istri!" tambah kembali Arman, seketika membuat gadis dihadapannya berpikir mengarahkan kedua mata ke tas langit langit ruangan.
"Kewajiban deh Pak, daripada belajar" santai gadis tengah menyodorkan kembali lembaran soal pada lelaki kini membulatkan mata hebat.
"Pergi, pergi sana! gila aku lama lama ngomong sama kamu" frustasi Arman begitu sadar.
Mendorong tubuh gadis dengan tatapan heran keluar kamar, Arman hampir gila akan jawaban terlontar santai dari bibir Sachinta. Jelas tak memahami apa itu tanggung jawab, Sachinta hanya ingin menghindari semua tumpukan soal yang diberikan padanya.
"Melakukan kewajiban, memang dia tahu apa maksudnya? Aku benar benar gila kalau terus seperti ini" bergumam sendiri Arman sembari melangkah ke dalam kamar mandi untuk membersihkan mulut dan mencuci muka.
Rutinitas sebelum tidur yang ia lakukan tak pernah absen setiap harinya. Sudah selesai dengan urusan di kamar amndi, Arman mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Ketika melepas celana, tiba tiba pintu terbuka dan mengejutkan lelaki langsung terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Bisa ketuk pintu tidak?!" teriak Arman tegas, menarik kembali celana sempat ia turunkan.
"Eh, Bapak ngapain tidur di lantai?" polos Sachinta bertanya.
"Tidur, tidur. Mau apa kamu kesini?' tanya Arman mencoba berdiri, menatap ke arah gadis tengah mengintip ke arahnya.
"Aku baru inget kalau kita di suruh tidur terus mikir buat berkebun, ya udah aku balik lagi ke sini" santai Sachinta tanpa merasa ada yang salah, kembali Arman harus merasa frustasi dengan jawaban terdengar menyebalkan.
Mengurut kening seraya membuang napas kasar, Arman duduk di tepi ranjang tanpa tubuh atas terbalut apapun. Sedangkan Sachinta sudah lebih dulu asik merebahkan diri, menggoyangkan kaki telah dilipat lurus dengan bola mata berjalan kesana kemari memajukan bibir.
"Kamu tahu maksudnya berkebun apa?" tanya Arman memancing, seketika meledakkan tawa Sachinta merasa pertanyaan suaminya sangat bodoh.
"Hahaha, Bapak ini aneh gitu aja engga tahu malah jadi wakil kepala sekolah. Berkebun itu kita tanam benih terus nanti tumbuh pohon" tenang Sacinta menjawab, lahi lagi Arman membuang napas kasar.
"Aku tunjukkin apa itu berkebun" lirih Arman dengan wajah tepat di atas wajah Sachinta.
Mendekatkan wajahnya, Arman mencium kening istrinya. Dengan tangan berada di depan dada, Sachinta merasakan debaran kuat di dalamnya. Berpindah ke arah leher lalu menciumnya lembut, membuat gadis di bwaha mulai memejamkan mata itu merinding akan sentuhan lembut Arman.
"Ba, Bapak mau apa?" tanya ragu Sachinta.
"Nitip anak ke kamu" santai Arman masih dalam posisi sama.
"He? kan Bapak engga punya anak, kenapa mau nitip anak ke aku? anak siapa?" tanya polos Sachinta.
__ADS_1
"Tuhan, bunuh saja aku!" geram Arman.
Berpindah dari atas tubuh gadis berulang kali mengedipkan mata, Arman menghempaskan diri dan menyelimuti tubuh memunggunggi Sachinta. Bibir mulai maju mengumpat dalam hati, Ssachinta melirik ke arah lelaki di sampingnya yang sempat menarik kuat selimut dan memiringkan tubuh kasar.
"Orang aneh" gumam Sachinta.
Tidur bersama malam ini, keduanya mulai terlelap dan hanyut dalam ruang mimpi indah mereka masing masing. Saling memunggungi, Sachinta mendengkur hebat hingga Arman harus menutup telinga menggunakan bantal, saat terbangun akan suaara gergaji mesin dari mulut Sachinta.
"Dia tidur, apa mau buka meubel?" gumam Arman menutupi rapat telinga dengan memindahkan bantal pada sisi wajah kanannya.
Berbolak balik posisi agar tak lagi mendengar dengkuran keras gadis kini sudah tidur terlentang, menimpa pinggang suaminya dengan kaki hingga Arman memekik kesakitan juga terkejut. BIbir terbuka lebar dalam kondisi amat lelap, semakin membuat suara gergaji mesin dalam mulut Sachinta terdengar kuat.
"Mama, kamu sedang menikahkanku atau membalas dendam?" ucap Arman dalam raut wajah memelas.
Membuang kaki Sachinta dan menoleh ke arahnya, Arman memundurkan kepala terkejt melihat wajah Sachinta dalam lelap. Tampak berantakan dengan mulut terbuka layaknya goa, Arman tidak pernah menemui siapapun tidur dalam posisi seperti yang ia lihat saat ini.
"Au..." pekik Arman saat Sachinta berubah posisi miring ke arahnya, menghempaskan kuat kaki pada keperkasaan, juga tangan memukul kuat wajahnya.
Terasa amat sakit ketika kaki itu menimpa kuat pada miliknya, beriringan tangan memukul wajahnya kuat sampai terdengar suara *plak* pada wajah tampannya.
"Mulutnya sangat lebar, bangunan sekolah mungkin masuk kedalam mulutnya" gumam Arman membuang kasar tangan juga kaki istrinya.
"Ih, ileran lagi. Itu ileran apa kadal keluar dari mulut, panjang banget engga berhenti?" tambah kembali Arman bergumam melihat indahnya air liur melintasi ujung bibir tetap terbuka lebar dengan suara gergaji mesin terdengar.
__ADS_1