I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 16


__ADS_3

Mengerjakan soal ulangan dengan asal, dimana bagian abjad hanya dihitung dengan kancing yang menempel pada seragam. Tidak sampai satu jam, Sachinta sudah mengumpulkan lembar kertas ulangan, dengan ditatap terkejut oleh semua teman sekelas.


Arman yang berdiri di belakang, langsung menuju kembali kemejanya setelah Sachinta kembali duduk usai meletakkan lembar soal telah ia jawab sepenuhnya. Duduk dan meraih kertas hanya satu satunya yang terkumpul, Arman menggelengkan kepala. Tak perlu memeriksanya lagi, karena sudah sangat jelas jika jawaban yang terisi tampak ngawur di kerjakan.


Duduk dengan bangga, menoleh ke arah jendela dimana ada siswa dari kelas lain tengah pelajaran olah raga di lapangan. Tentu saja itu adalah kelas Riski, laki laki yang amat di kagumi. Mata hampir saja keluar mengamati lelaki berparas tampan, tinggi dan putih itu tengah bermain basket diluar.


"Oh my baby sweety, yayang Kiki" bergumam lirih, meletakkan tangan di bawah dagu bersamaan.


"Sweety, kaya merek popok aja sih? tapi engga apa apa nanti kalau kita punya anak, siapa tahu di endorse jadi gratis engga usah beli popok" tersenyum sendiri, tetap memperhatikan keluar jendela.


"Lo gila ya?! ngomong sendirian!" tegas Ria merasa berisik mendengar.


"Udah anak kecil diem aja, Lo kerjain tuh soal udah mau abis nih waktunya" tanpa menatap Ria, Sachinta menjawab.


"Lo yakin jawaban Lo bener semua?" tanya Sachinta curiga.


"Yaelah soal gitu doang engga usah gue pikirin juga nih tangan udah gerak gerak sendiri buat ngisi. Gue yakin nilai gue seratus kali ini" bangga Sachinta menepuk bahunya sendiri.


"Iya, angka sepuluh jalan jalan ke mall tinggal angka nol doang yang nongkrong" jawab Ria menggelengkan kepala, di pukul keras pundaknya oleh Sachinta.


Arman memperhatikan keduanya berbicara dari tadi, berjalan menghampiri dan berdiri di balik tubuh gadis masih indah memandang ke arah lapangan. Ria mendapati wakil kepala sekolahnya datang, langsung menutup rapat mulut dan mengerjakan kembali soal.


"Lagi ngapain?" tanya Arman di balik tubuh Sachinta.


"Lihatin calon Bapaknya anak anak" jawab Sachinta tanpa menyadari siapa yang bertanya, tetap fokus memperhatikan keluar jendela.


"Bapak dari anak kamu? siapa?" tanya kembali Arman.


"Ya jelas anak Gue sama yayang Kiki dong, masa iya anak...." ucap Sachinta lalu membalikkan badannya.


"Bapak?" tersenyum bodoh menatap wajah dingin di hadapannya.


"Kenapa Bapak disini?" tanya kembali Sachinta dengan ekspresi wajah bodoh.

__ADS_1


"Ke depan dan berdiri angkat satu kaki kamu di sana" perintah Arman masih dengan nada ia tahan walau ingin sekali meledak.


"Ya kan saya udah selesai...." ucap Sachinta terputus oleh gebrakan meja Arman.


"CEPAT!" teriak Arman menggelegar, mengejutkan semua murid dalam kelas.


"Sabar Pak, sabar ya" berdiri dan berjalan ke depan.


"Lihat apa kalian?! kerjakan soal kalian!" tegas Armas dengan nada tinggi ke arah semua murid.


Seketika semuanya kembali menunduk mengerjakan, usai kaget akan teriakan Arman yang membuat mereka menatap. Di depan, Sachinta sudah berdiri mengangkat satu kaki, menyilangkan tangan dan menjewer kedua telinganya sendiri. Arman kembali berdiri di belakang memperhatikan Sachinta dari kejauhan, serta mengamati semua murid agar tak ada yang mencontek.


Satu jam berlalu, tetap membuat Sachinta berdiri di muka kelas. Arman mulai menerangkan bab baru mata pelajaran matematika yang telah diberikan oleh Raisa padanya semalam. Menerangkan dengan fokus, tanpa peduli dengan istrinya yang telah membuat dirinya marah dengan mengatakan lelaki lain sebagai calon Ayah dari anak anaknya.


***


Jam istirahat pun tiba, bel penanda waktu istirahat telah terdengar nyaring. Semua murid berhamburan keluar kelas, begitu Arman menyudahi mata pelajaran yang ia gantikan pagi ini. Melangkah ke arah meja, menata semua buku dan juga lembar soal untuk diperiksanya di ruangan.


"Hm" singkat Arman melewati tubuh Sachinta begitu saja.


"Ah, pegel banget kaki gue" bergumam dan menurunkan kaki nya.


Dua jam lebih berdiri dengan satu kaki, membuat Sachinta kehilangan keseimbangan ketika menurunkan kakinya. Kaki sebelahnya pun merasa kesemutan hingga terjatuh di atas lantai begitu saja. Arman yang sudah sampai tengah pintu hendak keluar, mendengar suara terjatuh dari melangkah kembali menolong istrinya dengan raut wajah khawatir.


"Kamu engga apa apa?" tanya laki laki sudah bersimpuh menolong, lebih dulu membuang semua buku telah ia pegang ke atas lantai.


"Engga apa apa gimana? kaki saya kesemutan Pak, udah gitu pusing saya lapar!" kesal Sachinta.


"Siapa suruh kamu berisik dalam kelas?! itu semua salah kamu sendiri!" tegas Arman.


"Udah berisik, pakai ngomong Bapak anak anak ke cowok lain lagi! aku nih suami kamu!" tambah kembali Arman di bungkam mulutnya oleh Sachinta, dengan mata melirik kesana kemari.


"Jangan ngomong itu di sekolah, kalau ada yang dengar gimana? kalau sampai yayang Kiki dengar gimana?" membulatkan mata masih membungkam mulut suaminya.

__ADS_1


"Masa bodo!" ketus dan meraih buku di atas lantai, lalu meninggalkan istrinya keluar.


"Ye, bukannya dibantu malah ditinggal gitu aja" mengomel sendiri menatap kepergian laki laki melangkah lebar tersebut berlalu.


Riski yang melintasi kelas Sachinta, tanpa sengaja melihat ke dalam kelas dimana Sachinta masih duduk di atas lantai memegang kaki. Berjalan cepat menghampiri, Riski berjongkok di depan Sachinta mengamati seksama kaki tengah dipegang gadis langsung menatapnya kagum.


"Lo kenapa?" tanya Riski memegang kaki gadis melamun menatapnya.


"Sa, Lo kenapa?!" tegur Riski memukul lengan Sachinta untuk menyadarkan.


"Gue jatuh cinta sama Lo" kelepasan karena terkejut, Sachinta langsung menutup mulutnya begitu menyadari.


"Bisa aja Lo" tersenyum Riski mengacak ujung kepala gadis tengah menujukkan wajah merah padam karena malu.


"Gue bantuin" ucap kembali Riski mengangkat tubuh Sachinta.


"Mimpi apa gue semalam?" bergumam dalam hati dengan bunga bunga bermekaran.


Membopong tubuh gadis tidak berhenti menatapnya dengan senyum melebar, Riski memegang pinggang dan meletakkan satu tangan Sachinta melingkar pada tengkuknya. Arman yang baru kembali dari kantin membawakan roti juga susu untuk Sachinta, langsung menarik tangan Riski dan menjatuhkan kembali tubuh Sachinta tapi cepat ditahan oleh tangan Arman memegang pinggangnya.


"Kamu tidak tahu ini sekolah?!" tegas Arman melotot pada Riski.


"Saya cuma mau bantu Sasa aja Pak, kakinya sakit tidak bisa berjalan" sopan Riski.


"Iya Pak, yayang Kiki, eh maksud saya Riski cuma bantuin saya aja kok" ucap Sachinta berpindah ke arah Riski, cepat ditarik kembali oleh Arman mendekat.


"Biar saya yang urus, kamu istirahat saja!" tegas Arman.


"Baik Pak" sahut Riski mengangguk.


"Gue pergi dulu ya, entar jangan lupa latihan basket sepulang sekolah" pamit Riski pada Sachinta.


**Jangan lupa tinggalkan like ya, terimakasih**

__ADS_1


__ADS_2