I Love You Pak Arman

I Love You Pak Arman
Bab 25


__ADS_3

Jangan pelit like lah ya... oks? oks lah.


Baca juga "Menikahi Dokter Dingin" karya Muh. Iqram Ridwan ya..genrenya Romance baper gitu lah, yakin bakal ketagihan bacanya. Makasih banyak...


Menyuruh Sachinta duduk lebih dulu, Raisa menghampiri Arman di tengah pintu kelas. Sachinta duduk tanpa melepaskan pandangan pada dua orang tengah berbicara dan tampak akrab.


"Lo tumben banget jam matematika masuk?" tanya Ria berbisik, tak dihiraukan Sachinta karena tak mendengar.


"Sa!" memukul gadis tengah memperhatikan lekat, seketika mengejutkan Sachinta dan menyadarkan dirinya dari apa yang telah terjadi tadi.


"Kaget gue! rese banget sih lo?" kesal Sachinta sembari meletakkan tas di bangku lalu mengambil buku pelajaran.


Arman masih berbicara dengan Raisa di depan kelas, semua murid berbisik bisik meyakini akan adanya hubungan antara guru matematika juga wakil kepala sekolah mereka. Sachinta yang mendengar semua bisikan lirih teman temannya hanya terdiam menundukkan wajah pada buku pelajaran.


Usai menceritakan apa yang terjadi dengan karangan bebas, Arman pamit untuk kembali ke ruangannya. Lebih dulu melihat ke arah gadis sudah memegang pena dan menulis, Arman merasa canggung sendiri akan apa yang telah ia lakukan pagi ini.


Raisa kembali mengajar, namun sempat melihat tidak enak pada Sachinta karena tatapan Arman tadi. Memiliki perasaan pada Arman, membuat Raisa merasa tidak suka akan tatapan Arman sebelum tadi pergi.


Sementara Arman sudah masuk ke dalam ruangannya langsung duduk di balik meja telah menyala laptop di hadapannya. Tidak bisa fokus ketika melihat tangannya sendiri, mulai mengingat apa yang tangan itu pegang tadi.


"Kenapa bisa kelepasan?" lirih Arman bergumam.


"Tapi dia juga tidak menolak, apa dia juga sudah menginginkan hal itu?" kemabali lelaki sudah menyandarkan pinggungnya tersebut berbicara lirih.

__ADS_1


Membalik telapak tangan, masih terasa seberapa kenyal benda yang ia sentuh tadi. Pertama kali mencoba membimbing untuk merasakan ciuman, Arman tak bisa melepaskan bayangan akan istrinya.


Sama halnya dengan Arman, Sachinta pun memikirkan hal yang sama. Ketika teringat, jantungnya tak bisa berhenti untuk berdetak cepat. Sentuhan pertama pada tubhnya oleh seorang lelaki, membuyarkan konsentrasi belajarnya.


"Apa apaan coba? kenapa dia nyentuh yang gak seharusnya? kenapa dia nyium gue kaya tadi?" batin Sachinta.


"Gue pulang ke rumah mama aja deh entar" batin kembali Sachinta.


Melewati pelajaran jam pertama hingga ketiga tanpa sedikitpun konsentrasi, Sachinta masih saja melamun merasakan sentuhan hangat pada bibir juga tubuhnya. Bagaimanapun semua adalah hal baru untuknya, hal yang tak pernah terbayangkan akan ia alami lebih cepat.


"Lo kenapa bisa sama Pak Arman?" tanya Ria penasaran.


"Kepo tuh engga baik buat kejiwaan lo" celetuk Sachinta mendorong kening sahabatnya ke belakang.


"Masa iya gue mau ngomong kalau abis dipijat sebelum ke sekolah?" batin Sachinta.


"Engga, nih aja baru gue cuci semalam" kilah Sachinta, dibalas bergidik oleh Ria.


Bersama keluar kelas untuk menikmati waktu istirahat,langkah keduanya terhenti oleh teriakan dari Nino juga Riski yang berlari dari arah belakang.


"Yayang Kiki lo tuh" celetuk Ria menyenggol lengan sahabtanya.


Tersenyum ke arah Riski, Sachinta melupakan seketika pesan suaminya tadi. Berempat menuju kantin bersama, tertawa dan bercanda mengiringi langkah mereka dengan sesekali Riski mengacak rambut Sachinta karena gemas dengan ucapan gadis yang sangat bahagia tersebbut.

__ADS_1


Tatapan sinis mengarah padanya begitu tiba di kantin, Arman yang tengah menikmati makan siang bersama Raisa di kantin pun tak menyukai kedaktan Riski dan Sachinta yang semakin tampak akrab.


Seketika menundukkan wajah berpura pura tak melihat, Sachinta melalui tatapan tajam tersebut dengan menutupi wajah menggunakan telapak tanagn kanannya.


Tatapan Arman masih saja tertuju pada istrinya yang tengah memesan makan, Raisa mendapati hal itu semakin tidak enak dan cemburu. Sementara Arman sangan ingin menarik istrinya pergi dari samping Riski, ia tak mengerti mengapa sudah di peringatkan tapi tetap saja Sachinta dekat dengan Riski bahkan bercanda.


"Gue bawain sini" ucap Risi menarik piring berisi makanan dari tangan Sachinta dan membawakannya ke meja.


"Murid sekarang kalau pacaran sangat terbuka ya, Pak?" tersenyum Raisa berucap, dibalas senyum paksa Arman tak ikhlas dan melanjutkan makan.


Bertingkah seperti seorang tengah menjalin hubungan, memang Sachinta dan Riski mampu membuat setiap orang beranggapan aneh. Padahal Riski memang anak yang baik dan terkenal ringan tangan, hal itu salah satu alasan mengapa Sachinta menyukai Nino.


"Saya sudah selesai, ada yang harus saya kerjakan jadi saya permisi dulu" pamit Arman pada perempuan selalu saja mengajaknya makan di kantin agar semua tahu kedekatan dirinya.


Tidak menunggu hingga jawaban terucap, Arman langsung saja pergi meninggalkan kantin dengan hati sesak ingin memaki. Mengingat lingkungan sekolah juga banyak murid di sana, Arman menahan rasa amarahnya kuat dan berjalan sembari mengepalkan tangan kuat.


Sementara di kantin, keempat orang masih saling menikmati makanan masing masing dengan canda tiada henti. Menggoda Sachinta yang lemot menjadi hal menyenangkan untuk ketiganya, walau terkadang merasa kesal karena jawaban aneh tidak nyambung dari Sachinta.


Nino yang belum mengetahui akan pernikahan saudara sepupunya, bersikap seperti biasa. Ia hanya pernah bertanya pada Melati akan keberadaan Arman yang hanya di jawab pindah agar lebih dekat ke lokasi showroom. Mudah saja hal itu dipercayai Nino karena tahu watak dari saudara sepupu penggila kerja.


 


 

__ADS_1


__ADS_2